#30DaysofArt 13/30: Mirfak Prabowo

Di samping aktivitasnya sebagai basisst untuk band rock Sigmun, pria kelahiran Jakarta, 6 April 1989 yang membagi waktunya antara Bandung dan Jakarta ini juga dikenal sebagai seorang visual artist yang aktif berkarya dalam berbagai medium. Dengan latar pendidikan seni lukis, Mirfak sempat menggelar pameran lukisan tunggalnya dengan tajuk “SANCTUM” di tahun 2013 berupa lukisan-lukisan abstrak yang dikembangkan dari karya tugas akhirnya di ITB. Selain itu, belakangan ini ia pun sedang asik menekuni sculpture berupa makhluk-makhluk imajinatif berbahan clay dengan desain urban yang kental. “Masa kecil saya yang paling berpengaruh mungkin di saat saya tidak boleh membeli mainan, sehingga karya terakhir yang paling sering saya geluti adalah membuat sebuah patung figure imajinasi saya sendiri,” ungkapnya.

img_20161027_205017

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Tidak ingat siapa yang memperkenalkan, tapi yang jelas dari kecil sudah sering berkarya (mencoreti tembok rumah) kata ibu saya, ahaha.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Rasa kepuasan setelah menyelesaikan sebuah karya. Dan apresiasi dari orang yang melihatnya.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Seiring berjalannya waktu, saya mencoba mengulik beberapa medium seperti cat minyak dan acrylic untuk melukis, clay untuk mematung, dan brush pen untuk menggambar. Saat ini medium yang paling sering saya gunakan adalah clay di mana saya membuat karakter imaji saya menjadi sebuah figure patung/mainan.

 psx_20160920_132848

Apa idealismemu dalam berkarya?

Berkarya untuk memuaskan keinginan diri sendiri.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Salvador Dali, Chuck Close, Creaturebox, Kim Jung Gi, Simon Lee, dan Takayuki Takeya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Bermacam-macam, kalau dari karya lukis saya ciri khasnya yaitu pemakaian warna yang sangat beragam. Kalau dari karya figure lebih berat ke bentuk monster dari yang lucu dan simple hingga yang seram dan detail.

_mg_8858

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Masih, karya pertama saya berupa lukisan di masa awal kuliah saat mengambil jurusan seni lukis. Saat itu kami diberikan tugas untuk membuat lukisan realis, dan saya mencoba melukis sebuah kaki seorang pekerja dengan beralaskan sendal jepit dan berada di atas bebatuan. Yang paling teringat dari karya tersebut adalah ketika saya berhasil membuat semacam ilusi bahwa batu kerikil yang saya buat itu nyata.

 

Untuk ekshibisi pertama yaitu pameran tunggal saya pada tahun 2013 bertajuk “SANCTUM”. Karya-karya saya saat itu berupa lukisan abstrak yang merupakan pengembangan dari karya tugas akhir. Dalam ekshibisi tersebut saya mencoba memberikan kepercayaan kepada para audiens agar bisa menikmati karya yang saya buat tanpa harus saya berikan sebuah landasan untuk menginterpretasikan visual karyanya. Saya ingin agar audiens bisa menikmati dan membuat cerita sendiri dari visual yang saya suguhkan.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Bermacam-macam, kalau dari karya lukis saya ciri khasnya yaitu pemakaian warna yang sangat beragam. Kalau dari karya figure lebih berat ke bentuk monster dari yang lucu dan simple hingga yang seram dan detail.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Dari segi seni visual: berhasil melakukan pameran solo di Bandung yang bertajuk “SANCTUM”. Lalu bisa berkolaborasi dalam membuat patung dengan ilustrator Singapura bernama Kilas. Serta produk kolaborasi dengan partner saya ilustrator bernama Bea Ariani P. yang berupa sculpture face mug & merchandise lainnya. Dari segi musik: berhasil membuat album perdana Sigmun.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Ada plus dan minusnya, senang bila ada yang merespons via social media dan sampai mengoleksi karya yang telah saya buat. Minusnya sendiri koneksi audiens dengan karya terkadang hanya sebatas melihat visual di gadget saja. Namun hal tersebut juga menjadi dorongan untuk bisa berpameran baik di sebuah galeri ataupun bazaar, agar timbul kedekatan antara karya dan audiens.

 psx_20161029_005009

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekitarmu saat ini?

Semakin ramai. Munculnya seniman-seniman muda baru yang berani. Acara dan pameran yang semakin banyak untuk wadah para seniman agar dapat memperkenalkan karya mereka, serta para audiens yang antusias untuk mencoba memahami karya. Baik itu untuk menelaah lebih lanjut atau sekadar berfoto selfie dengan karya tersebut, ehehehe. 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya di rumah partner saya mengerjakan proyek-proyek kami yang sedang berlangsung.

Current obsession?

Mengkoleksi mainan dan membuat mainan, hehe.

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Yang sedang berlangsung di antaranya yaitu collaboration project seperti sculpture face mug, beberapa commissioned work berupa patung/figure, dan handmade jewellery di Instagram @papipu_id. Lalu yang ingin dilakukan selanjutnya merencanakan pameran tunggal bila memungkinkan. Entah kapan, yang penting diniatkan dahulu hehe.

Target sebelum usia 30?

Melebarkan sayap secara internasional, baik dari segi seni visual, produk, maupun musik.

1024_multi_light_cig_1024x1024

#30DaysofArt 3/30: Argya Dhyaksa

Di tangan lulusan Kriya Keramik ITB ini, seni keramik menjadi sesuatu yang sangat fun. Makhluk-makhluk imajiner dari keramik yang diwarnai glasir dan disandingkan dengan kalimat humor yang absurd menjadi ciri khas karya seniman kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1991 yang akrab disapa Gya ini. Terkesan childish serta “seenak jidat”, Gya mengakui jika hal itu terbawa dari kebiasaan menggambar kartun favoritnya saat kecil dan membuat karakter sendiri berdasarkan teman-teman dan hal sekelilingnya. Maka tak heran, karyanya banyak memodifikasi budaya populer dan humor-humor sektoral yang dibumbui sarkasme. “Saya ingin karya saya selalu serius dalam bermain-main, dan saya ingin orang melihat inilah seorang Argya Dhyaksa dalam karya saya. Saya tidak ingin orang memaknai terlalu dalam lalu tenggelam, lebih baik seperti tablet effervescent mengambang dan pelan-pelan larut tanpa harus saya aduk,” tandas pemilik Kirain Studio di Bandung ini.

gya

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Dulu asli deh nggak suka banget sama seni, dalam hati tuh kaya mikir “Nih orang pada bikin apaan sih, kenapa ya mereka?” Ya dulu masih tertutup banget lah, terus pas di kampus kan lingkup seninya luas banget dan ternyata nggak semua seni tuh “apaan sih” walaupun banyak juga yang “apaan sih”.  Juga jadi mulai terbuka, jadi mungkin yang memperkenalkan pada seni ya lingkungan kampus aja pada waktu proses perkuliahan.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan jujur dalam lubuk hati yang paling dalam, dorongan berkarya adalah uang dan popularitas, maaf nggak bisa jawab yang lain, cuma kepikiran ini gimana dong maafin yah.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Yang jelas semua melalui proses trial and error banget soalnya bikin keramik kan mestinya harus melalui ritual-ritual merepotkan yang prosesnya panjang, tapi karena saya pemalas saya dobrak ritual itu dengan cara yang bisa saya nikmati, sejenis pakai cheat gitu sih tapi masih dalam batas wajar. Walaupun dapat cheat-nya juga harus ngerti dasarnya dulu baru bisa nemu cheat-nya.

waeee

Masih ingat ekshibisi perdanamu?

Masih. Ekshibisi pertama untuk yang keramik sih dulu di Padi Art Ground. Sekarang tempatnya udah ambrahum, dulu bikin karya keramik bentuknya binatang kecil-kecil yang dideformasi gitu, yang kalau diingat dulu bikinnya sampai mau nangis karena mikir ”Ya ampun bikin keramik gini-gini amat ya ribet banget.”

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Sebetulnya untuk bisa masuk ke dalam art scene itu buat saya suatu pencapaian karena saya sebetulnya berada di grey area. Material keramik itu kalau di luar negeri sulit untuk berada di wilayah art, dianggapnya material craft, apalagi saya lulusan dari kriya, untuk masuk ke art scene pasti kesempatannya lebih sulit daripada yang lulusan seni murni.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Grayson Perry dan David Shrigley. Keduanya memakai teks yang memperkuat karya yang mereka buat, lalu Naoki Nomura karena bentuk keramiknya yang absurd tapi keren.

artwork-1471173237

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Ada plus minusnya sih. Plusnya referensi semakin banyak ditemukan jadi makin mudah mencari inspirasi berkarya, publikasi juga gampang banget. Minusnya, yang karyanya niru ya gampang ketahuan “referensinya” siapa, kan kasian tuh hehe. Terus kalau ada orang mengunggah kesuksesan menimbulkan rasa sirik menyebabkan penyakit hati.

 

Bagaimana kamu melihat skena seni di sekitarmu sekarang?

Art scene di kota Bandung berlangsung damai sentosa, tidak ada yang sirik-sirikan adanya sirik betulan, haha nggak deng. Di Bandung kalau pameran sih kurang menarik, yang datang pameran paling yang itu-itu aja, lebih menarik pameran di Jakarta karena nggak ketebak siapa yang bakal datang.

artwork-1448964646

Your current obsession and secret skill di luar seni?

Kalau current obsession mau jadi Youtuber aja sih bikin video yang nyampah di Youtube nge-review produk-produk fiktif sama eksperimen sosial yang nggak ada faedahnya dan banyak mudharatnya kayanya seru. Secret skill ya secret dong.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan kalau weekend?

Di rumah palingan, tidur, aku lelah.

Target sebelum usia 30?

Target sebelum umur 30 tahun saya adalah berumur 29 tahun, umur kan nggak ada yang tau, hehe.

karya-3