#30DaysofArt 2/30: Antonio S. Sinaga

Sebagai anak campuran Batak dan Jawa yang besar di Jawa Timur, visual artist kelahiran 24 September 1988 yang akrab dipanggil Nino ini merasa bahwa dibesarkan dalam agama minoritas yang dikelilingi oleh agama mayoritas mampu memberi banyak sudut pandang lain tentang hubungan agama & sosial yang hampir selalu menjadi tema dalam karyanya. “Kebanyakan dari karya saya sih muncul dari masalah sosial & religi yang saya rasakan dan amati sendiri dan nggak tau mau dilampiasin ke mana, jadi aja bikin karya. Kalau saya jago ngomong mungkin saya jadi motivational speaker, haha!” tukas sang alumni ITB yang kini bermukim di Bandung tersebut. Walaupun mendapat gelar sarjananya dari jurusan seni keramik, Nino lebih sering memakai teknik fotografi dan cetak dalam pembuatan karyanya yang menampilkan ikon-ikon religi yang dibenturkan dengan hal duniawi sebagai kritik sosial yang surreal.

 

antonio-s-sinaga-pp
Antonio S. Sinaga

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Kebetulan dari kecil di rumah memang banyak pajangan (dulu taunya itu pajangan doang), dari tapestry, lukisan tradisional, sampai pajangan dengan unsur agama. Jadi bisa dibilang saya tumbuh di rumah yang cukup banyak ‘benda seni’ -nya. Tapi kalau yang bikin tertarik urusan gambar menggambar sih sepertinya ya komik.

 

Apa idealismemu dalam berkarya?

Haha, nggak tau. Kata idealisme di sini rada berat, euy. Kalau buat saya, berkarya itu harus menyenangkan dan memuaskan diri sendiri. Kalau bisa sekalian menyenangkan dan memuaskan orang lain ya bagus, kalau nggak ya nggak apa-apa, toh diri sendiri udah senang kan.

allegory-of-the-tower1
Allegory of the Tower (2016)

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Wah, sejujurnya sampai sekarang saya malah belum bisa bilang mana medium & style favorit saya, soalnya medium & style yang saya pakai dalam berkarya masih berubah-ubah, tergantung dari kecocokan visual dengan konsep dari karya yang sedang saya buat.

 

Masih ingat ekshibisi pertamamu? Kalau iya, tolong ceritakan.

Pameran pertama saya itu pameran akademis, isinya cuma tugas-tugas akademis (yang pasti saya udah lupa), kalau pameran yang saya rasa merupakan langkah pertama saya di dunia seni sih Soemardja Award kayanya. Itu pameran hasil karya Tugas Akhir mahasiswa seni ITB yang dipilih oleh dosen-dosen di kampus, lalu menghadirkan tim juri yang merupakan profesional di dunia seni rupa.

indulgence-iv-cat
Indulgence IV (2014), Chromogenic print mounted on alumunium composite panel.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Andres Serrano, Maurizo Cattelan, David LaChapelle, Hieronymus Bosch.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Menurut saya, ciri khas dalam karya itu orang lain yang bisa menentukan. Jadi jawabannya nggak tau.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Melihat foto bahwa karya saya dipajang di rumah orang di negara yang saya belum pernah kunjungi. Saya aja belum pernah ke sana, tapi karyanya udah. Sama beli kulkas baru sendiri.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Berhubung saya nggak aktif sebagai seniman di media sosial, jadi saya kurang tau rasanya. Tapi suka ngerasa lucu aja waktu lihat ada foto karya di social media orang lain. Mungkin saya harus cobain aktif kali ya?

archetype-judged
Archetype; Judged (2014)

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Nggak terlalu merhatiin euy, saya kuper sih.

Punya secret skill atau obsesi di luar seni?

Annoying other people masuk secret skill nggak? Lifetime obsession sih dapet gelar Sir.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Studio, soalnya di luar macet dan ramai kalau weekend.

Target sebelum usia 30?

Solo exhibition di luar negeri kali ya? Kalau sekarang lagi pengen bikin art book, terus pameran tunggal keliling. Moga-moga jadi ya tahun ini.

the-infidel-ms-l-cat
The Infidel Ms. L I Altered (2015), Photolithograph on uncoated paper.
Advertisements

#30DaysofArt 1/30: Ahdiyat Nur Hartarta

 Preambule: 

Pada edisi November 2016 NYLON Indonesia yang mengangkat tema art, saya menulis profil 30 orang seniman lokal yang berumur di bawah 30 tahun sebagai artikel feature utamanya. Sebuah keputusan yang sebenarnya ada nilai personal bagi saya. Bulan sebelumnya saya menginjak usia 30 tahun, dan walaupun yang namanya mid-life crisis sebenarnya sudah saya rasakan dari 25 tahun, tetap saja ketika angka 3 resmi menempel, ada semacam kecemasan tentang hidup dan apa saja hal yang telah saya jalani. Berangkat dari situ saya pun tergelitik mengangkat angka 30 sebagai tema artikel ini sekaligus berupaya menelisik sedikit bagaimana para seniman ini memandang usia 30 tahun tersebut. Di hari pertama 2017, saya pun memutuskan untuk menaikkan satu profil seniman setiap hari selama 30 hari yang dirangkum dalam tagar #30DaysofArt ini. 

adit

Ahdiyat Nur Hartarta

Biasa dipanggil Adit, visual artist & art director kelahiran Sleman, 2 Maret 1990 ini tumbuh di keluarga seniman. Kakek dan neneknya adalah perupa, sementara sang ibu adalah fashion designer sehingga berkecimpung di dunia seni adalah cita-citanya sejak dini. “Ibu selalu ‘memaksa’ saya untuk selalu menggambar, setiap hari, di mana saja, sejak saya berumur 3 tahun. Namun, ayah lah yang senantiasa mengajari saya menggambar sejak kecil,” ungkap pria lulusan FSRD ITB ini. Dikenal dengan lukisan realis hitam-putih bermedium charcoal di atas kanvas, karya-karya pria yang kini juga berkarier di dunia periklanan di Jakarta ini sarat akan isu cultural, sosial, dan ideologi yang tak jarang disisipi dengan catatan kaki dari riset yang ia lakukan saat berkarya.

echo-from-purdah-3echo-from-purdah-2echo-from-purdah-1

Apa yang mendorongmu berkarya?

Keinginan untuk didengar, mencurahkan kegelisahan, dan keluar dari zona nyaman. Dengan berkarya seni, apapun bentuknya, kita bisa mengekspresikan diri kita seegois dan sebebas mungkin.

Masih ingat karya pertamamu?

Dulu saya ingat ketika SD, karya saya pernah dipamerkan di lorong sekolah bersama karya anak-anak lainnya. Kalau tidak salah karya itu berupa gambar T-rex. Ketika kecil saya pernah sempat tergila-gila dengan Jurassic Park, sehingga hampir seluruh gambar saya bercerita tentang kehidupan dinosaurus.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika kuliah dulu, salah seorang dosen saya (Tisna Sanjaya) yang juga seorang seniman grafis dan art performer terkesan melihat aliran gambar saya yang ekspresionis. Beliau lalu menghadiahkan saya sebuah charcoal dan sejak saat itu saya banyak berlatih menggunakan medium tersebut hingga akhirnya jatuh hati pada teknik drawing realis yang sulit dan menantang untuk dikerjakan.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Saya sangat suka karya-karya Mella Jarsma, Jompet Kuswidananto, dan Shirin Neshat. Mereka adalah seniman yang konsisten mengeksplorasi identitas manusia terutama tubuh yang bersinggungan dengan gender, budaya, politik, hingga agama. Gagasan-gagasan mereka sedikit banyak telah mempengaruhi karya saya.

 welcome-to-2

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya selalu hitam putih dan realis, yang bertujuan membuat audiens lebih spesifik dalam melihat bentuk, merasakan emosi, dan fokus pada gagasan di balik karya yang saya buat.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pencapaian tertinggi saya adalah ketika karya yang saya buat banyak memunculkan interpretasi yang berbeda-beda dan diskusi setelahnya. Jadi tidak hanya berhenti pada apresiasi visual dan teknis, tapi juga pada gagasan di baliknya.

Bagimu, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Social media is the new digital gallery. Social media merupakan platform yang memudahkan saya terhubung dengan audiens, penikmat seni, sesama seniman, hingga kolektor.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Sudah kurang lebih hampir 2 tahun saya tinggal di Jakarta. Namun hanya sedikit pameran seni yang saya kunjungi dalam kurun waktu tersebut. Entah mengapa saya lebih suka atsmosfer berkesenian di Yogya ataupun Bandung yang lebih hangat. Suasana pamerannya pun lebih membumi, bersahabat, dan semua orang saling kenal saling sapa. Tak sedikit yang melanjutkan dengan diskusi ringan setelah pembukaan sebuah pameran. Art scene di Jakarta terlalu dingin menurut saya, cuma buat kolektor dan sosialita.

welcome-to-3

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya tukang tidur yang sangat andal, bisa curi-curi tidur kapan saja dan di mana saja, skill yang cocok bagi pekerja kreatif yang selalu diburu waktu dan deadline.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bioskop atau tempat makan, atau bioskop saja, karena saya suka makan sambil nonton.

Project yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Saat ini saya sedang rehat dari dunia seni rupa dulu, karena sedang asyik menjajal dunia periklanan. Namun untuk proyek jangka panjang saya sedang merancang pameran yang saya dedikasikan untuk kakek dan nenek saya. Semoga dalam waktu 1 hingga 2 tahun lagi keinginan saya tersebut dapat terwujud.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal!

welcome-to-1

Art Talk: The Many Pieces of Atreyu Moniaga

Berangkat dari imajinasi masa kecil, energi kreativitas yang seolah tanpa batas dalam diri seorang multi-hyphenate Atreyu Moniaga dengan leluasa melintasi berbagai medium. Dari kanvas hingga ke Cannes.

atreyu

Di usia yang masih terbilang muda dan ditambah dengan wajah yang seolah berhenti di umur belasan, mungkin kamu tidak akan menyangka jika Atreyu Moniaga telah mengantungi lebih banyak profesi dari mayoritas orang. A multi-hyphenate, I dare say. Secara ringkas, istilah multi-hyphenate mengacu kepada seseorang yang memiliki beberapa profesi atau bakat sekaligus. Katakanlah seorang singer-songwriter, model merangkap aktris, atau dalam kasus Atreyu: ilustrator, fotografer, dosen, dan belakangan, an actor.

Lulusan IKJ kelahiran 9 Desember 1988 tersebut pertama kali mencuat lewat karya-karya ilustrasi berbasis cat air dengan nuansa whimsical dan dreamy yang terinfluens dari cerita fantasi yang ia lahap dari kecil. Tak berhenti di atas kanvas, pria yang dikenal dengan nickname Atreist dalam sirkuit desain dan seni ini terus mengeksplor berbagai medium dan terlibat di banyak pameran dan project menarik, termasuk salah satunya mendesain embroidery yang menjadi bagian dalam koleksi “Melange De Sens” karya fashion designer Sebastian Gunawan. Di samping ilustrasi, ia pun mewujudkan imajinasinya dalam bentuk fotografi yang walaupun terasa jauh lebih grim bila dibandingkan ilustrasi penuh warna miliknya, namun tetap menunjukkan elemen surreal yang selama ini menjadi ciri khasnya. Seolah tak kehabisan energi, hari-harinya juga disibukkan dengan menjadi dosen fotografi dan ilustrasi di Universitas Bunda Mulia dan ia pun menambah resumenya dengan berakting dalam film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might garapan Lucky Kuswandi.

Dalam debut akting di film pendek berdurasi 25 menit tersebut, Atreyu berperan sebagai Aseng, seorang remaja Tionghoa di sebuah kota kecil yang dekat dengan basis militer di era Orde Baru yang represif. Sarat oleh isu rasial, opresi, dan percikan seksualitas, film ini berhasil terpilih untuk ditayangkan dalam program Semaine de La Critique (Pekan Kritikus) di Festival Film Cannes tahun 2015, sekaligus menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam ajang tersebut setelah film Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot di tahun 1989. Sebuah langkah awal yang impresif bagi seseorang yang mengaku tidak pernah berakting sebelumnya. Dengan begitu banyak sisi yang menggoda untuk dibicarakan, Atreyu pun menuturkan beberapa fragmen dalam dirinya.

backyard-wonderland

Di mana kamu menghabiskan masa kecil dan hal-hal apa yang menarik minatmu saat itu? Saya menghabiskan masa kecil saya mostly di kamar. Membaca dongeng-dongeng klasik, majalah Bobo, komik Jepang, dan bermain video game. Yang menarik minat saya saat itu adalah keajaiban cerita-cerita fantasi

Apakah kamu memang berasal dari keluarga kreatif? In a way of thinking? Yes. Saya merasa orangtua saya memiliki pandangan dan argumen yang unik.

Hal apa yang pertama kali membuatmu ingin serius menekuni bidang ilustrasi? Yang membuat saya ingin serius menekuni bidang ilustrasi sebenarnya dimulai sejak kuliah. Saya awalnya sempat pupus menggambar karena merasa tidak memiliki bakat dan informasi. Yang saya tahu saat itu adalah jika ingin survive; jadilah desainer grafis. Dan karena dekat dengan menggambar, saya rasa tak apa-apa.Tapi belakangan selama perkuliahan berjalan sayamendapatkan informasi-informasi baru tentang ilustrasi, ilustrator, dan detail-detail lain yang membuat saya merasa punya kesempatan.

Siapa saja sosok yang menginfluens karyamu? Cara bertutur saya dalam berkarya sepertinya sangat terinfluens dari singersongwriter Jewel. Saya merasa ingin membuat ilustrasi sebaik dia membuat lirik. Selain itu saya juga terinspirasi dari orang-orang seperti James Jean, Takashi Murakami, Dussan Kallay, dan dosen saya sewaktu kuliah dulu mas Arief Timor. Saya juga menyukai karya-karya Pedro Almodovar.

13241244_226596837724483_6082203544827445773_n

Kalau sekarang, hal apa saja yang biasanya menginspirasi untuk berkarya? Yang menginspirasi saya dalam berkarya sekarang (selain briefing dan demand), saya rasa kehidupan itu sendiri. Saya secara egois membicarakan tentang diri saya sendiri dalam karya-karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan personal aesthetic dirimu? Dan apa medium favoritmu untuk berkarya? I actually can’t describe my personal aesthetic. Saya mencoba untuk relax dalam berkarya agar saya betul-betul menikmati proses penciptaan karya. Medium favorit saya juga sebetulnya nggak ada. Mungkin karya saya didominasi cat air. Tapi yaitu karena cat air masih sampai saat ini medium yang paling saya kuasai. Tapi sebetulnya saya sangat ingin mencoba medium-medium lain. Rasanya akan sangat seru.

please

Selain ilustrasi, kamu juga mendalami fotografi. Kalau menurutmu, bagaimana ilustrasi dan fotografi bisa saling melengkapi? Saya melakukan treatment yang sama dalam fotografi seperti yang saya lakukan dalam ilustrasi (baca: curhat) jadi saling melengkapi mungkin nggak, tapi ada beberapa hal yang menurut saya bisa diraih lebih baik dengan digambar, dan beberapa lebih baik dengan dipotret.

13245423_230140614036772_5985381347418943950_n

Kalau tentang menjadi dosen? Apa yang menarik dari profesi ini? Saya jadi dosen karena tawaran teman saya yang saat itu sudah jadi dosen uluan. Sudah dua tahun mengajar. Yang menyenangkan adalah melihat semangat-semangat polos anak-anak ini sih dan mengajar membuat saya jadi terus meng-update kabar-kabar terkini dari mata kuliah yang saya ajarkan. Dan semangat mahasiswa-mahasiswa ini yang akhirnya membuat kami sudah membuat 2 kali pameran fotografi dan 1 kali pameran ilustrasi. Semoga bisa terus berlangsung.

Bagaimana ceritanya sampai akhirnya terlibat di film Lucky Kuswandi? Ini kisah yang jawabannya seperti jawaban artis-artis di interview TV nih, haha! Saya nggak sengaja datang ke sebuah pameran di mana saat itu Lucky juga datang. Dan menurut dia saya cocok dengan karakter Aseng di film ini. Terus diajak casting. Terus dapat deh perannya.

Apa yang paling memorable dan menantang selama syuting, mengingat ini adalah film pertamamu? Syutingnya sangat menyenangkan. Saya merasa beruntung bekerja dengan mereka yang sangat cekatan dan rapi. Yang paling menantang saat shooting adalah scene terakhir saat Aseng dan David terlibat perebutan pistol. Malam itu take-nya belasan kali. Saya dan Fauzan (pemeran David) sangat merasa bersalah sama crew yang lain saat adegannya harus diulang, dan saat itu sudah sekitar jam 1 pagi.

Selain film ini, kamu juga bermain di film pendek garapan Monica Tedja, apakah dunia akting akan menjadi sesuatu yang kamu geluti dengan serius? Untuk itu saya masih belum tahu. Saya ternyata menikmati proses berakting dari reading sampai syutingnya beneran. Jadi mungkin saya ingin mencoba lagi. Ya berkaryalah ya, apapun platform-nya. Kalau prosesnya enjoyable yah ayuk aja.

Selain dunia art, apa hal lain yang kamu nikmati? Sushi, tapi ini art juga kan sebenarnya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative blockBiasanya saya latihan teknis sih kalau lagi mentok. Latihan mewarna atau mengarsir. Tapi kalau jenuh banget biasanya saya stop sama sekali dan nonton-nonton film aja. Cuma baru-baru ini saya mendapat treatment baru yaitu creative talks. Jadi kaya kumpul-kumpul sama teman-teman terus ngobrol ngalor ngidul aja tentang urusan art. Dan kalau tetap mentok juga, saya nyanyi-nyanyi aja di kamar.

What’s your next project? Be healthy, be happy! That’s the ultimate, ultimate project!

14606520_297400527310780_2955092824774464233_n

 

 

Go Ahead, Change The Ordinary!

GoAhead

Ingin mengunjungi festival seni terbesar di kota Melbourne, Australia? Here’s how!

Setelah beberapa hari lalu memposting pengalaman saya soal bagaimana saya akhirnya bisa mengejar passion and change the ordinary, saya mendapat cukup banyak tanggapan yang masuk, serta beberapa pertanyaan tambahan. Khususnya yang seperti ini:

“Kak Alex, aku pengen coba banyak segala hal tapi kadang ada aja halangan dan sering ditunda-tunda, ‘Ah nanti aja deh,’ gitu terus ada aja alasan. Lama kelamaan jadi males terus ‘Ah ya udah nggak apa-apa, nggak usah deh, lain kali aja,’ But I want to experience it. How to get rid of this and just ‘take it’?”

atau

“I can’t move from my comfort zone and I spend most of the time staying at home, even though there’s a lot of things I want to try. Any advices?”

Yup, banyak orang yang sebenarnya ingin melakukan sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka atau follow their dreams namun merasa ragu-ragu dan akhirnya cuma jadi wacana. Well, menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kalau dari experience pribadi, my best advice is just go ahead and do it. Mengutip kalimat dari salah satu lagu The Smiths yang berjudul “Ask”: “Shyness is nice and shyness can stop you from doing all the things in life you’d like to.” Kalau saya waktu itu terus malu-malu dan membiarkan kesempatan lewat begitu saja, mungkin saya tidak akan ada di posisi saya yang sekarang.

go-ahead-get-started-and-as-you-go-forward-youll-get-better-quote-1Di saat menemukan passion saja tidak cukup, kamu butuh keberanian ekstra untuk terus mengejarnya and write your own story. Beberapa orang cukup beruntung karena kesempatan seolah datang dengan sendirinya, sementara beberapa orang lainnya harus gigih mencari opportunity yang ada, termasuk salah satu contohnya adalah mengikuti berbagai kompetisi yang ada. Well, I don’t believe in coincidence. Saya lebih percaya setiap peluang yang ada sebetulnya akumulasi doa dan usaha kita sendiri yang dijawab oleh universe. Karena itu, saya selalu mendukung sepenuh hati jika teman-teman saya memutuskan untuk mengikuti sebuah kompetisi, apapun itu. Dari pengalaman saya, its really nothing to lose to join some competition. Kalau menang, kamu bisa jadi menemukan momen yang akan membuka peluang yang lebih besar, kalau kalah pun, kita bisa menjadikannya pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi. Saya percaya tidak ada istilah instan dalam menuju keberhasilan dan mengikuti kompetisi yang ada juga bisa menjadi trigger bagimu untuk mulai melakukan sesuatu yang kamu inginkan, mempertajam bakatmu, give your best shot, and deliver the unexpected.

Salah satu kompetisi yang konsisten memberikan peluang bagi para pemula untuk berkarya dan mengejar mimpi mereka adalah Go Ahead Challenge, sebuah kompetisi kreatif yang diselenggarakan oleh Sampoerna A, di mana kamu bisa meng-upload karya-karya bertema musik, visual, fotografi, dan style melalui GoAheadPeople.com dan berkesempatan merasakan pengalaman internasional yang berbeda dan tidak biasa bagi pemenangnya.

unnamedPemenang Go Ahead Challenge 2014 melakukan photo shoot di Paris.

Kompetisi Go Ahead Challenge 2014, misalnya, berhasil menjaring 22.830 peserta dan memilih Raditya Bramantyo serta Stephanus Sylvester sebagai pemenang utama untuk mendapatkan pengalaman internasional di ajang Paris Fashion Week 2014. Tahun lalu, keduanya telah diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari tim desainer ternama Indonesia, Tex Saverio serta bekolaborasi dengan fotografer fashion internasional, Michel Duprè di ibukota mode dunia, Paris. Dengan semangat ”Go Ahead Change the Ordinary” yang meliputi tantangan-tantangan di 4 bidang seni yaitu: musik (kurator: Arian13), fotografi (kurator:Anton Ismael), seni visual (kurator: Ade Darmawan), style (kurator: Auguste Soesastro), Sampoerna A kembali menggelar Go Ahead Challenge yang menjadi ajang bagi para sobat kreatif untuk create some personal works dan memperebutkan kesempatan untuk merasakan sisi seni kota Melbourne, Australia dalam perhelatan Melbourne Fringe Festival 2015.

MelbourneSalah satu sudut jalanan kota Melbourne yang dipenuhi graffiti.

fringe
Sebagai salah satu urban city utama di dunia, Melbourne memiliki komunitas kreatif yang besar. Mulai dari street art, street musician, pelukis, fotografer, sampai penyair dan penulis yang didukung oleh arsitektur modern dan eksentrik. Melbourne Fringe Festival sendiri merupakan salah satu event terpenting dalam kalender seni Melbourne. Sejak diadakan tahun 1982, festival seni tahunan paling populer di Melbourne ini telah menghadirkan lebih dari 50 ribu seniman ke hadapan 2 juta orang yang diselenggarakan di ratusan venue di sekitar Melbourne dan Victoria. Saat ini, setengah juta audiens datang dari seluruh dunia untuk menikmati karya 4 ribu lebih seniman dari berbagai bidang (teater, komedi, musik, performance art, film, kabaret, digital art, dan bahkan circus performance) dalam 300 lebih show yang diadakan di 100 venue, dari bar, club, galeri seni, teater independen sampai lokasi prestisius seperti Federation Square dan The Melbourne Museum.

Nah, sekarang… Tertarik untuk menantang diri sendiri dan mencoba melakukan hal yang berbeda dari biasanya?
Jika kamu merasa ini saat yang tepat untuk menunjukkan bakat kamu, berikut adalah cara berpartisipasi dalam Go Ahead Challenge 2015:

• Daftar dan log in ke GoAheadPeople.com
Submit karya kamu yang bisa berupa musik, visual, fotografi dan style dan kumpulkan poin sebanyak-banyaknya.
• Raih kesempatan trip ke Festival Seni di Melbourne dan hadiah menarik lainnya.

Pendaftaran dan penyerahan karya sendiri untuk Go Ahead Challenge 2015 telah dibuka dari tanggal 1 Februari 2015 kemarin. Selain hadiah utama, sepanjang kompetisi ini dibuka pada bulan Februari hingga ditutup di bulan Agustus 2015, ada berbagai hadiah bulanan menarik yang bisa didapatkan di GoAheadPeople.com dengan cara mengikuti berbagai kegiatan interaktif yang sederhana dan menarik. To kick start the event, Sampoerna A juga menyelenggarakan opening night tanggal 15 Februari 2015 di Museum Satria Mandala yang dimeriahkan oleh Tulus, Sore, Payung Teduh, dan performer keren lainnya. Event ini gratis dan terbuka untuk umum bagi 18 tahun ke atas.

image
So what are you waiting for? Go ahead, create your chance, and change the ordinary you.