On The Records: HEALS

HEALS

Tercetus dari lingkup pertemanan dengan kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality para personelnya, Heals secara resmi memperkenalkan diri lewat single “Void” yang dirilis bulan September tahun lalu. It was an instant hook, terutama bagi siapa saja yang menyukai band-band NuGaze seperti My Vitriol dan Blonde Redhead, walaupun kuintet asal Bandung ini menawarkan alternatif lain untuk mendeskripsikan musik mereka. “Hmm sound yang kami mainkan sekarang sih lebih merepresentasikan musik-musik yang kerap didengar dan dikonsumsi oleh masing masing personel. Ya jadinya begini, kalau boleh kami mau sebut musiknya sebagai ‘Random-gaze, hehe.” So what’s ‘Random-gaze’ anyway? Bayangkan campuran antara alternative rock, new wave, dan shoegaze yang digambarkan lewat aransemen penuh distorsi dan reverb namun catchy di saat yang sama. Trust me, its good.

Halo! Boleh diperkenalkan ada siapa saja di Heals? 

Boleh dong. Nih kenalin Aldead di vokal/gitar, Rara di gitar, Ejasaurus di gitar/vokal, Via di bass/vokal, dan Reza di drum.

Bagaimana ceritanya kalian bisa saling bertemu dan memutuskan buat ngeband bareng?Jadi gini, kami berlima udah berteman lama sekali. Kami seringkali berbincang dan bertukar pikiran tentang kekonyolan, absurditas, candaan, curhat, khususnya musik. Sebelumnya kami tidak terpikir untuk membentuk sebuah band, karena masing-masing personel sudah memiliki band yang digarap. Seiring waktu berjalan, kami merasakan bahwa akan lebih baik jika setiap diskusi (tentang musik) dimediai oleh sesuatu sehingga pada akhir 2013 kami memutuskan untuk membuat proyek dengan format grup band yang dinamakan Heals. Singkat cerita, Heals terbentuk karena pertemanan yang menghabiskan waktu cukup lama dengan adanya kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality dari masing-masing personel.

Apa cerita di balik nama band kalian?

Untuk nama “Heals” sendiri kami usung dengan tidak ambil pusing karena kami menginginkan nama yang singkat, padat, dan mudah diingat. Sebelumnya saat kami belum memiliki nama, kami menamakan grup di salah satu aplikasi chat (Line) kami dengan nama “Satanic” lalu saat itu kami sudah mulai bosan dengan anonimitas sehingga diganti dengan nama yang secara spontan keluar dan disepakati yaitu Heals.

Apa atau siapa saja influens bermusik kalian yang paling berpengaruh ke materi Heals saat ini?

Mengenai influence di Heals sih setiap personel punya dan berbeda-beda, seperti influence-nya Aldead yaitu Glassjaw, The Mars Volta. Rara yaitu Silverchair, M83. Eja lebih ke Japanese shoegaze, idol group Jepang dan Indonesia. Via sekarang lagi suka dengar band-band alternative rock, grunge seperti Hole, The Smashing Pumpkins dll. Influence Reza yaitu Soundgarden dan Foo Fighters. Namun perbedaan tersebut tidak jadi masalah bagi kami sehingga untuk influence Heals kami kerucutkan lagi menjadi Amusement Parks On Fire, My Vitriol, The Depreciation Guild, Tokyo Shoegazer, Luminous Orange, Anne, dan lain-lain.

How’s the creative process usually goes? Siapa yang biasanya bikin lirik dan inspirasinya dari mana saja?

Kalau proses perancangan musik sih biasanya kami adakan workshop/briefing yang dilakukan di rumah Aldead, kami semua membuat pattern dan kerangka lagu sesuka hati tetapi di studio dikurasi dan disesuaikan lagi. Untuk lirik dan inspirasi sih datang dari mana aja, seperti single kami yang berjudul “Void” itu inspirasinya datang dari sebuah film yang berjudul Gravity.

Boleh cerita soal single “Void”, what’s the story behind the song?

Oke, kalau “Void” sih sebetulnya nggak punya cerita/plot yang absolut sih, tapi “Void” itu lebih kami implisitkan dengan keadaan di mana seseorang berada di dalam titik jenuh yang paling maksimal. Menggambarkan seseorang dengan kesendirian dan berasa di ruang hampa udara. Nggak ada cerita yang nyata di lagu ini

Bagaimana dengan persiapan album? Apakah berencana rilis EP atau LP?

Persiapan untuk rilis sih sekarang sudah digarap sekitar 57% lah, rencana kami bakalan membuat rilisan di pertengahan tahun ini semoga aja nggak ngaret.

Kalian punya nggak sih sosok yang kalian anggap Local Music Heroes? Musisi lokal yang kalian kagumi atau band lokal yang kalian suka, perhaps?

Menurut kami sosok Local Music Heroes itu adalah setiap sosok yang melakukan upaya demi keberlangsungan industri musik lokal entah itu bandnya, record label, media, dll terlepas dari besar kecilnya pengaruh yang didapat. Jadi menurut kami Local Music Heroes tuh banyak banget. Kalau musisi lokal favorit setiap personel pasti punya.

Aldead: Saya sih band lokal suka banyak ada Jolly Jumper, Kaimsasikun terus Hark It’s Crawling Tar-tar.

Rara: Homogenic sama The Milo.

Eja: saya sih mengagumi Dewi Lestari, kalau untuk band lokalnya suka Friday (Surabaya).

Via: Hmm, The Milo & Boys Are Toys pas saya masih SMP. Mereka cukup menjadi inspirasi saat itu.

Reza: Gugun Blues Shelter, Pure Saturday.

Bagaimana sih kalian ngeliat scene musik di Bandung saat ini?

Aldead: Scene musik di Bandung saat ini sih lagi asik, sedang menggeliat. Gigs lagi rutin, lagi regenerasi pokoknya.

Eja: Lagi banyak bermunculan micro gig yang dikemas secara keren, dari mulai konsepnya, pengisi acaranya, dan apapun yang terlibat dengan micro gig tersebut.

Untuk Via, bagaimana rasanya jadi perempuan sendiri di band?

Rasanya enak diasuh sama 4 orang cowok yang lebih tua dari saya dan selalu dikasih pengetahuan baru. Serasa punya pacar 4, dan karena mereka semua laki-laki, no drama.

Kalau untuk kalian, apa rasanya tampil live di atas panggung? Punya memorable moment selama manggung nggak, so far

Rasanya tampil live di atas “panggung”, hhmmm lebih banyak memperhitungkan sesuatu, terus pasti persiapannya agak berlebihan walau pada akhirnya ke-blunder-an memang suka terjadi. Memorable moment selama perform sejauh ini masih memorable semua karena jumlah performance masih bisa terhitung jari hahaha.

Kalau boleh berandai-andai, what’s your dream gig?

Aldead: Coachella.

Eja: Summersonic Japan.

Ramdhan: Summer Sonic.

Via: Pengen main di gig metal, dan Heals satu-satunya band yang nggak/belum metal hehehe.

Reza: Lollapalooza, Bonnaroo.

Next plan/goal for this year?

Tahun ini beres rilisan pertama kita harus liburan se-band, haha. Jadi intinya ya tahun ini kita harus udah punya rilisan.

https://soundcloud.com/healsmusic

Foto oleh Yogha Prasiddhamukti

Seeing Sounds, An Interview With Sparkle Afternoon

Sparkle Afternoon melukis dunia mereka sendiri lewat nada-nada eksperimental yang lembut dan keras di saat yang sama, so are you in? 

Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata dream pop? Kemungkinan besar yang terpikir adalah musik beraransemen meruang dengan soundscape yang seakan bercerita tanpa harus dihiasi vokal dan lirik sekali pun. Saya juga percaya jika lagu dream pop yang baik adalah yang bisa membuatmu melamun dan membayangkan suatu scenery tertentu. Well, hal seperti itulah yang membuat saya langsung suka saat pertama kali mendengarkan single “Gorgeous” milik Sparkle Afternoon. Dibuka dengan dentingan piano yang menjadi pengantar vokal lirih seorang gadis sebelum lengkingan gitar mulai masuk dan semakin intens saat menuju menit ketiga lagu berdurasi sekitar 4 menit tersebut, saya terhanyut dalam ruang yang dibangun lagu yang sedikit mengingatkan saya akan masa-masa awal Homogenic dalam versi less-electronic ini.

Terdiri dari vokalis Ratih Kemala Dewi, gitaris Diki Setiadi, gitaris Yogie Riyanto, bassist Warna Kurnia, drummer Tedy Wijaya dan keyboardist Rizka Rahmawaty, unit musik dari Bandung ini memang meramu musik yang kerap didefinisikan sebagai dream pop dengan nuansa post-rock dan shoegaze yang kental. “Sebenarnya dari dulu kami nggak pernah nentuin mau main musik seperti apa, dulu sempat ke arah indie pop, tapi karena sekarang influensnya juga semakin bertambah akhirnya musik yang kami rilis sekarang seperti ini, ada post-rock, dream pop, shoegaze minimalis dan ada eksperimentalnya juga.” Jawab Yogie saat saya bertanya tentang konsep musik mereka yang mengaku mendapat influens dari band-band seperti God Is an Astronaut dan Maybeshewill.

Dream pop dan post-rock sendiri sama sekali bukan hal yang asing di scene musik Indonesia saat ini sehingga mau tak mau mereka harus memiliki suatu ciri khas yang bisa membuat mereka standout di antara puluhan band segenre di negeri ini, untungnya mereka punya hal itu. Selain memiliki vokalis perempuan yang juga pemain glockenspiel, hal menarik lainnya dari band ini adalah komposisi musik yang kerap mengawinkan dentingan keyboard Rizka dengan kocokan gitar Diki yang powerful (sebelumnya ia tergabung di band metal). Terdengar kontras memang, but opposites attract dan justru itulah yang membuat musik mereka menyenangkan untuk disimak. Bisa dibilang, keyboard adalah salah satu pilar utama band ini, karena itu saya bertanya kepada Rizka tentang influens dari permainan keyboardnya yang kadang terdengar psychedelic itu, “Dulu saya sempat suka banget sama Ray Manzarek (keyboardist The Doors), cuma kalau menyebutnya sebagai influens, kayanya juga nggak sampai segitunya, jadi ya sudah ngalir aja, saya bukan pemain yang baik tapi tetap berusaha untuk punya style sendiri.” Jawab gadis mungil ini dengan merendah.

Dalam band profile-nya, mereka menulis jika saat yang tepat untuk mendengarkan lagu-lagu mereka adalah di sebuah padang rumput terbuka dengan langit yang sedikit mendung. “Katanya sih musik kami lebih ‘kena’ ke pendengar cewek, kaya lagu ‘Gorgeous’ itu yang nyeritain tentang perempuan.” Ungkap Diki yang disetujui personel lainnya, tentang beberapa lagu mereka yang telah dirilis dalam format split album bersama band post-rock Bandung bernama Under The Bright Big Yellow Sun dengan judul We Sit Under The Bright Big Yellow Sun in Sparkle Afternoon yang dirilis Loud For Goodness Records bulan Oktober 2010 lalu. Sebelum itu, dua lagu mereka yaitu “Gorgeous” dan “Fade Away” juga sempat dirilis oleh BFW Recordings, sebuah netlabel asal Manchester, Inggris yang memang spesialis genre ambient, shoegaze, experimental dan semacamnya. “Untuk suasana yang pas mungkin lebih ke nature seperti film Heima, haha,” ucap Yogie sebelum meneruskan, “Harapan kami untuk gig Sparkle Afternoon sendiri lebih yang outdoor atau mungkin di galeri, dan kurang cocok juga kalau siang hari.” Ujar sosok yang termasuk aktif di scene musik Bandung sebagai Head Chief dari Glasslike ent. yang rutin menggelar event bernama Hearing Goodness ini.

Bicara tentang langkah Sparkle Afternoon selanjutnya, mereka mengaku tidak terdesak oleh target, karena saat ini mayoritas personel baru saja meniti karier masing-masing, kecuali Rizka yang masih kuliah, sementara Mala dan Tedy pun kini berdomisili di Jakarta sehingga mereka merasa sedikit kerepotan untuk mengatur jadwal latihan. “Kalau latihan kita live streaming! Haha,” canda Yogie, “Kalau ada materi atau ide-ide baru kita bisa lewat Skype dan kalau mau manggung kita pasti latihan, kadang di Bandung atau nyamperin yang di Jakarta, yang penting tetap komunikasi.” tambah Diki. Masalah perbedaan geografis memang terdengar seperti hal yang telah usang, jangankan Jakarta – Bandung, jarak antar benua pun tak menghalangi mereka menyiapkan sebuah split album bersama band shoegaze asal US, The Sunshine Factory, di samping menggarap materi untuk full album mereka yang diharapkan rilis tahun ini. That’s definitely some sparks to watch out.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.