The “Yeah-Yeah” Girls From Paris

Ada suatu hal yang terasa magis di dalam udara Prancis yang membuat gadis-gadis Prancis seakan diberkahi oleh pesona natural dan chicness yang sulit dijabarkan dengan kata-kata. Mereka menyebutnya dengan istilah “je ne sais quoi”, sebuah karakteristik khusus yang membuat seseorang terlihat begitu atraktif dengan cara yang alami dan effortless, pun tak terkecuali dalam dunia musik dan para pelakunya. Ketika berbicara tentang musik Prancis, yé-yé, sebuah gerakan musik pop yang berkembang di Prancis pada awal tahun 60-an menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Bertemakan hal-hal innocent seperti first love dan masa remaja, genre musik “yé-yé” yang namanya berasal dari seruan “Yeah! Yeah!” menampilkan musik pop yang berakar dari paduan jazz, chanson, rock & roll, serta traditional girl group yang kemudian dianggap menjadi salah satu cikal bakal dari indie pop kontemporer yang kita kenal saat ini.

Meskipun tidak eksklusif untuk penyanyi perempuan belaka, namun fenomena musik pop ini nyatanya memang didominasi oleh penyanyi perempuan muda yang lahir dari program radio “le chouchou de la semaine”/”this week’s sweetheart” yang telah memperkenalkan nama-nama penyanyi perempuan muda legendaris seperti France Gall, Françoise Hardy, dan Sylvie Vartan untuk menyebut segelintirnya. Sensual dan naif di saat yang sama, mereka adalah perwujudan dari pesona gadis Prancis yang très chic, très fabu yang tidak hanya ditunjukkan dari vokal dan musik yang mereka bawakan, tapi juga dari riasan mereka, seperti yang ditunjukkan oleh salah satu penyanyi yé-yé paling ikonik sepanjang masa, Françoise Hardy.

Berawal dari sebuah kado ulang tahun berupa gitar di masa remajanya, Françoise Madeleine Hardy menjelma menjadi penyanyi kesayangan Prancis ketika ia merilis single “Tous les garçons et les filles” di usia 18 tahun dan mempopulerkan namanya sebagai ujung tombak fenomena yé-yé di Prancis. Tak hanya mahir bernyanyi dalam bahasa Prancis, Inggris, Italia, dan Jerman, perempuan kelahiran 1944 ini juga dikenal sebagai seorang aktris dan style icon. Wajahnya yang menghiasi banyak publikasi menjadi cetak biru gaya khas yé-yé dengan riasan natural yang terdiri dari maskara hitam, black eyeliner tipis, alis mata yang well-groomed, dan sentuhan lip balm, di samping rambut fringe sebahu yang menjadi sinonim dari gaya low-key Parisian cool yang menjadi inspirasi bagi Alexa Chung, Zooey Deschanel, Cat Power, dan banyak perempuan keren lainnya sampai hari ini.

Want to try the yé-yé looks? Here are some of my recommendations to channel your je ne sais quoi!

 

On The Records: Lao Ra

“Saya tidak terlalu yakin apa yang sebetulnya mendorong saya untuk bermusik, it was a mix of things I guess; dari mulai terlalu banyak menonton MTV, menjadi seorang attention seeker, dan mungkin ada bagian dari diri saya yang ingin membuat orangtua saya kesal,” ungkap Laura Carvajalino, seorang musisi pendatang baru asal Kolombia yang bermusik dengan nama Lao Ra. Lahir dan besar di ibukota Kolombia, Bogota, yang terkenal sebagai salah satu kota dengan angka kriminalitas tertinggi di dunia sekaligus iklim konservatif dan religius yang kental, musik memang menjadi sebuah pelarian sekaligus pemberontakan bagi gadis kelahiran 22 Juli 1991 tersebut.

Mengaku mulai membuat musik sejak umur 14 tahun dari kegemarannya menulis puisi dan bermain gitar akustik, karier profesionalnya dimulai saat dia bertemu dengan Peter Jarrett yang sekarang menjadi manajer dan produsernya di sebuah restoran India. Kolaborasi keduanya menghasilkan lagu bertajuk “Jesus Made Me Bad”, sebuah lagu rebel pop berelemen glitchy tropical beats yang danceable dengan video yang menampilkan Lao Ra berdoa di gereja sebelum menelusuri jalanan Bogota yang dipenuhi graffiti sambil menggenggam botol sampanye. “Ibu saya tidak menyukai lagu itu,” ujarnya. ”Walaupun keluarga saya sebetulnya tidak terlalu relijius, dia berpikir jika saya tidak menghormati tradisi, but I just keep saying that’s actually the point; it’s about not apologizing for yourself. We all are wild at heart and we can’t help our behavior. Tapi dia menyukai lagu-lagu lainnya, haha! Dia sangat suportif dan selalu mendukung saya!” sambungnya.

Lagu tersebut termasuk dalam debut EP berjudul sama yang ia rilis di bawah label Black Butter setelah menyelesaikan kuliahnya di sebuah akademi musik di Kolombia dan pindah ke London. Lirik lugas, sikap cuek, dan pesan-pesan tersirat yang dibalut musik electronic pop dan influens R&B/hip-hop yang catchy dalam musiknya membuatnya dibandingkan dengan M.I.A. dan Gwen Stefani, yang diterimanya dengan senang hati karena kedua musisi memang tersebut termasuk influensnya, namun bukan berarti dia tidak punya warna tersendiri yang lahir dari tempat asalnya. “Im very influenced by pop music, but I’m equally influenced by Caribbean and Colombian traditional music. Saya ingin musik saya terdengar fresh, pop, dan mewakili diri saya dan tempat asal saya. Datang dari Bogota tidak hanya menginfluens musik saya, tapi juga diri saya sendiri. It’s the place where I was born, my people and what I know best.”

 Pengaruh dari lingkungan sekitarnya tidak berhenti di elemen tropical beat dalam musiknya, tapi juga lirik-lirik lagu yang menurutnya berasal dari situasi, pemikiran, dan dilema yang secara konstan berputar di benaknya. “Daddy Issues” bercerita soal sosok tipikal Latin dad yang absen dan tidak pernah benar-benar berkomunikasi dengan anak-anak mereka sehingga banyak anak perempuan yang tidak tahu bagaimana seharusnya mereka diperlakukan oleh pria dan seringkali berakhir mengejar para bad boys. Sementara dalam “Tell Me Why” dengan video yang menampilkan dirinya dan sahabat perempuannya di sebuah kamar temaram dengan lampu neon, Lao Ra menunjukkan vokal innocent dengan lirik penuh percaya diri dan frasa-frasa catchy sebagai bentuk empowerment melawan para fuckboi. “Lagu ini tentang stupid boyfriends, young love, and heartache. Tentang cowok-cowok kemarin sore yang sok bertingkah selayaknya pria dewasa. Lagu ini sangat personal karena saya rasa hampir semua cewek bisa relate ke hal ini karena kita pernah pacaran dengan cowok semacam itu,” jelasnya. Sambil masih menulis dan menyiapkan album penuhnya, kali ini Lao Ra pun membocorkan katalog album yang mempengaruhi musiknya.

Love.-Angel.-Music.-Baby.

Gwen Stefani

Love. Angel. Music. Baby.

Bagi saya album ini adalah definisi sempurna dari kata “cool”. Semua lagu di album ini keren- its fun, edgy, dope production, and super original lyrics. Gwen is next level! Menurut saya album ini adalah ultimate goal of how a pop album should be.

miaarular

M.I.A.

Arular

Pertama kali saya mendengarkan album ini, it really changed my life, and I’ve never heard anything like it. Beats-nya terdengar aneh seperti datang dari planet lain. Penyampaian liriknya sangat mentah dan energetik. It was really a punch in the face- super confident and so ahead of everything else.

Bomba12_cover_new

Bomba Estereo

Elegancia Tropical

Bomba adalah band Kolombia favorit saya. No one makes music like them back home. Mereka punya lebih banyak swag dibanding siapapun. Their fearless approach to Colombian traditional music mixed with dance beats is so sick.

cafetacvba

Cafe Tacvba

Re

Ini adalah CD pertama yang saya punya. Kakak saya memberi saya CD ini untuk kado Natal, walaupun saya masih sangat kecil namun saya langsung terobsesi dengan musik yang mereka buat. Mereka adalah band Meksiko yang memadukan pop dan musik dance dengan musik tradisional Meksaiko seperti racheras. Sampai hari ini saya masih percaya kalau album ini salah satu album Latin Amerika terbaik dan mereka adalah band Meksiko paling hebat sepanjang masa.

 Johnny_Cash-The_Great_Lost_Performance-Frontal

Johnny Cash

The Great Lost Performance

He was the ultimate bad boy; Liriknya, personanya, dan vokalnya sangat jujur dan unapologetic, bahkan sampai karya-karya terakhirnya sebelum wafat. Johnny is one of my biggest ever crushes. Saya dulu mempelajari liriknya sambil membuka kamus Inggris-Spanyol. Saya bisa bilang jika Johnny Cash lah yang mengajarkan saya Bahasa Inggris.

majorlaze

Major Lazer

Peace Is The Mission

These guys are the best producers around. Mereka tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan dan mereka membuat seluruh dunia berdansa mengikuti irama mereka. Saya harus memberi acungan jempol untuk itu. Their music is borderless and thats super cool!

 

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

The Curious Case of Björk

Lewat album terbaru bertajuk Vulnicura, Björk menyembuhkan luka patah hati dengan berefleksi ke masa awal dan membalutnya dengan therapeutic strings. Brutally honest dan musikalisasi yang magis, its simply Björk at her best.

Sebagai salah satu legenda musik kontemporer paling ikonik sampai hari ini, jujur saja memori awal saya tentang Björk tidak terlalu bagus. Ketika pertama kali melihat video “Hunter” dari album Homogenic yang dirilis tahun 1997, saya sebagai anak kecil hanya bisa terbengong menyaksikan wanita botak di layar TV yang bertransformasi menjadi beruang kutub tersebut dan berpikir: “Ini musik apa sih? Who’s this crazy lady? Bejork? What a weird name! (its “bee-york” actually).” Saya sempat sebal setiap kakak saya memainkan musiknya yang sama absurdnya dengan segala pakaian yang ia pakai (ingat the swan dress yang ia pakai ke Oscar 2001?). Björk is weird, period. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk akhirnya bisa mengapresiasi musik yang dihasilkan musisi eksentrik Islandia tersebut. But, once you go Björk, you’ll never go back.
Ketika album Medúlla dirilis di tahun 2004, saya sedang duduk di kelas dua SMA dan sudah lumayan terpapar oleh berbagai jenis musik. Saya memutuskan membeli CD-nya, out of curiousity karena melihat sampulnya. It’s not exactly an instant love, to be honest. Butuh berapa saat sampai akhirnya saya bisa mencerna segala kompleksitas yang tersimpan di dalam album yang hampir seluruhnya dibangun secara a cappella tersebut, and it became a pleasure. Lalu saya mulai mendengarkan diskografi sebelumnya dan semakin menyadari betapa jeniusnya wanita bernama lengkap Björk Guðmundsdóttir tersebut. Dalam setiap albumnya, Björk menciptakan dunia sendiri yang dibangun oleh vokal sopran khasnya yang celestial dan mengancam di saat yang sama, aransemen musik yang luar biasa detail dan kompleks, serta eksplorasi musikal tanpa batas yang ia tempuh, mulai dari electronic, trip hop, rock, classical, jazz, dan bahkan hip hop. There’s no other words to describe her music beside eclectic and avant-garde.
Di balik segala keeksentrikan seorang Björk, yang membuat saya akhirnya jatuh cinta adalah passion dan totalitas yang begitu besar dalam dirinya. Semua karya yang ia buat selama tiga dekade kariernya berasal dari hati. Di antara tema-tema seperti kosmologi, alam semesta, dan kultur, lagu-lagu terbaik yang Björk hasilkan adalah lagu yang berbicara tentang hubungan dan kejiwaan manusia secara puitis dan blatant di saat yang sama. Namun, tampaknya belum ada yang setelanjang secara emosi seperti album terbarunya, Vulnicura, sebuah breakup album yang ia tulis pasca perpisahannya dengan seniman Amerika garda depan, Matthew Barney, seorang long time partner sekaligus ayah dari anaknya. Meneruskan tradisi panjang seniman wanita yang mencurahkan perasaan paling personalnya ke publik dalam bentuk seni sebagai terapi, sekaligus personal reclaiming.
Vulnicura yang berarti “Cure for Wounds” dan diproduksi dari 2 tahun lalu adalah sebuah album yang terlahir prematur. Album kesembilan itu awalnya dijadwalkan rilis Maret ini bersamaan dengan peluncuran buku Björk: Archives dan sebuah pameran seni retrospektif tentang karier tiga dekade Björk di MoMA, New York. Namun, menyusul online leak awal tahun ini, Vulnicura dirilis lebih cepat dua bulan, Januari silam. Sebuah keputusan reaktif yang cepat dan menjadikannya salah satu dari sedikit album Björk yang dirilis tanpa gimmick apapun. Tapi dengan tema yang begitu personal, hal itu justru bagai blessing in disguise, membuat album ini bisa dinikmati secara utuh tanpa perayaan dan distraksi yang tak perlu.
Björk mendeskripsikannya sebagai album yang ditulis secara tradisional dengan pemakaian strings yang dramatis dan bebunyian elektronik eksperimental sebagai pengingat album Homogenic, namun secara tematis album ini lebih dekat pada Vespertine (2001), sebuah album penuh konflik yang terasa intim, dingin, domestik dan “sangat feminin”, sekaligus album yang dibuat ketika ia mulai menjalin hubungan dengan Barney tahun 2000 silam. Di Vulnicura, Björk menjalani proses pemulihan diri dengan cara self-questioning, merenungkan apa yang salah dalam hubungan mereka lalu mencurahkannya dalam lirik-lirik paling jujur dan rapuh yang pernah ia buat. Sebuah proses penyembuhan yang mungkin sama brutalnya dengan melakukan self-amputate. “Ketika saya membuat album ini, dunia saya terasa runtuh. Saya tidak punya apapun yang tersisa. Hal itu adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidup saya. Satu-satunya jalan untuk menghadapinya adalah dengan membuat musik. Saya mulai menulis komposisi strings dan menjadi violin nerd. Saya punya sekitar 20 teknologi baru yang bisa saya coba, namun album ini tidak bisa terasa futuristik. Album ini harus terasa singer/songwriter. Old school. It had to be blunt,” ungkap wanita berumur 49 tahun tersebut dalam sebuah interview emosional penuh air mata yang ia lakukan bersama Pitchfork tentang album ini.
Di Vulnicura, Björk menggandeng kolaborator utama Alejandro Ghersi, yang lebih dikenal dengan nama Arca, seorang produser musik Venezuela berbasis di London yang juga menjadi otak kreatif di balik LP1 milik FKA twigs dan Yeezus milik Kanye West. Arca yang merupakan long time fan Björk menjalani hubungan guru dan murid sekaligus nahkoda untuk dirinya, memandu semua emosi mentah untuk tetap berada di jalur dan mengeluarkan potensi terbaik yang ada, musically dan stylistically. Vulnicura disajikan berdasarkan kronologi hubungannya yang kandas. Tiga lagu pertama, “Stonemilker”, “Lionsong”, dan “History of Touches” adalah dialog yang terjadi di periode sebelum perpisahan. Lagu keempat “Black Lake” yang berdurasi 10 menit merupakan center piece dari album ini dan berisi internal monolog dari masa paling depresif pasca perpisahan, di mana Björk berbisik secara retoris “Did I love you too much?” di antara bunyi strings yang menyayat sebelum ketukan glitch elektronik ritmis di menit keempat mencapai klimaks di menit selanjutnya dan menciptakan momen terbaik dalam album ini.
Lima lagu sesudahnya, termasuk “Family” yang turut diproduseri The Haxan Cloack dan “Atom Dance” yang menghadirkan Antony Hegarty sebagai vokalis tamu menceritakan masa-masa pemulihan yang lambat. Sepuluh lagu di dalamnya yang berdurasi total 58 menit dengan mulus terajut menjadi tragedi musikal lethargic yang tak hanya menyembuhkan dirinya sendiri secara emosional, tapi juga menemukan kembali jati dirinya sebagai musisi dan seniman, “It’s been a strange album. Album paling menyakitkan yang pernah saya buat, tapi juga yang paling melegakan,” tandasnya. Sublime, emotionally demanding, dan dewasa, Vulnicura menjadi salah satu album paling gemilang dari sepanjang diskografi Björk yang secara ironis tercipta di saat yang paling rapuh, sekaligus paling humanis.

Björk’s Essentials:
Dalam sepanjang karier musikal yang dimulai dari tahun 1977, Björk telah menghasilkan sembilan album seminal peraih ratusan penghargaan yang belum termasuk album soundtrack, remix, live, dan greatest hits, ataupun album-album dari band tempatnya bernaung sebelum bersolo karier. Never too late to listen some Björk, here’s some concise guide:

BjorkBjörk (1977)
Dirilis ketika masih berumur 11 tahun, album ini adalah perkenalan pertama seorang Björk dalam dunia musik. Berisi 10 lagu berbahasa Icelandic yang dibuka oleh bunyi sitar dalam lagu “Arabadrengurinn (The Arab Boy)” yang ditulis oleh ayah tirinya, album ini juga berisi cover dari lagu The Beatles (“The Fool on the Hill”), Edgar Winter (“Alta Mira”), dan Stevie Wonder (“Your Kiss Is Sweet”) dalam bahasa Islandia, serta satu lagu instrumental yang ditujukan sebagai tribut untuk pelukis Islandia Jóhannes Kjarval yang ditulis sendiri oleh Björk. Mendapat respons yang cukup bagus di negaranya, ia mendapat tawaran untuk membuat album kedua bersama labelnya, Fálkinn, namun menolaknya dan memilih membeli piano dari royalti penjualan albumnya untuk belajar membuat lagu-lagunya sendiri.

DebutDebut (1993)
Setelah band alternative rock The Sugarcubes yang digawanginya memutuskan bubar, Björk pindah ke London untuk bersolo karier dan memberi judul Debut bagi album solo keduanya ini sebagai fresh start. Dibuka oleh single pertama “Human Behaviour”, lagu dance dengan sample gitar bossa dari Jobim dengan video klip yang digarap oleh sutradara Prancis Michel Gondry yang kelak menjadi long time collaborator untuk video-video ajaibnya, album yang diproduseri Nellee Hooper ini berisi jazz, trip hop, house, dan disebut sebagai salah satu album pertama yang mengenalkan electronic dance music ke ranah mainstream pop. Berisi lagu-lagu seperti “Venus As a Boy”, “Big Time Sensuality”, “Like Someone in Love”, dan “Violently Happy”, album yang menjadi best-selling albumnya ini mencerminkan Björk di awal usia 20-an yang penuh cinta dan berbicara tentang cinta dengan cara yang tak biasa.

PostPost (1995)
Menyambung kesuksesan Debut, Björk kembali bekerjasama dengan Nellee Hooper dan beberapa produser lainnya seperti Tricky, Howie B, dan Graham Massey untuk terus bereksplorasi dengan banyak genre. Diawali industrial beat untuk lagu pembuka “Army of Me”, Post yang bercerita tentang perasaan Björk sebagai seorang gadis muda yang meninggalkan rumah dan berada di negeri asing juga menghadirkan trip hop di “Possibly Maybe”, elektronik sinematis yang dreamy di “Hyperballad” dan “Isobel” serta lagu jazz dengan komposisi big band orchestra yang sangat playful di “It’s Oh So Quiet” dengan video klip yang disutradarai oleh Spike Jonze sekaligus mengukuhkan nama Björk sebagai musisi perempuan fearless paling eklektik yang bisa diterima oleh masyarakat umum.
homogenicHomogenic (1997)
Menyusul ancaman acid bomb dari seorang penggemar maniak, Björk memilih meninggalkan London untuk sementara waktu, sekaligus image eccentric pixie girl dari dua album sebelumnya. Homogenic yang direkam di Spanyol adalah album konseptual pertamanya dan disebut sebagai salah satu karya Björk yang paling eksperimental dan emosional. Dengan tema utama kerinduannya pada Islandia, Björk berusaha menggambarkan lanskap ethereal negara asalnya tersebut lewat komposisi strings yang megah dari String Octet asal Islandia dengan glitch elektronik glasial seperti yang terekam sempurna dalam lagu “Jóga” dan “Unravel”. Album yang menjadi kolaborasi pertamanya dengan produser Mark Bell ini juga menghadirkan video-video Björk paling ikonik seperti “Bachelorette” oleh Michel Gondry, “All Is Full of Love” oleh Chris Cunningham, dan “Hunter” oleh Paul White.

VespertineVespertine (2001)
Björk menulis album kelima ini ketika ia menjadi pemeran utama di film Lars Von Trier berjudul Dancer in The Dark yang mendapat P’alme d’Or di Cannes. Proses syuting yang melelahkan dan penuh konflik membuat album ini terasa lebih gelap dan meditatif dari album sebelumnya. Di sisi lain, Björk yang baru menjalin hubungan dengan Matthew Barney menuangkan keintiman tersebut dengan begitu lugas seperti yang terdengar di lagu “Hidden Place” dan “Cocoon” yang berisi narasi erotis berbalut manipulasi micro beats dari duo Matmos, koir wanita Inuit, dan chamber orchestra. Sensual dan dingin di saat yang sama, video “Pagan Poetry” yang disutradarai Nick Knight disebut sebagai salah satu musik video paling kontroversial. Vesper sendiri berarti evening prayers, dan album ini bisa dibilang sama personalnya dengan melihat Björk di balik kamar tidurnya.

MedullaMedúlla (2004)
Dengan tema a cappella, di album yang judulnya diambil dari bahasa Latin untuk “sumsum” ini, Björk bereksplorasi dengan potensi vokal manusia. Hampir keseluruhan komposisi album ini dibangun dari bunyi vokal, baik vokalnya sendiri, maupun manipulasi vokal dari penyanyi throat, beatboxer, avant-rocker, dan choir. Contoh paling gemilang adalah “Oceania” yang dibawakan di pembukaan Olimpiade Yunani 2004, di mana Björk menyanyikan lirik tentang evolusi manusia di antara racikan beatboxing dari Shlomo dan paduan suara London dan menjadi highlight album ini di samping “Who is It” dan “Triumph of a Heart”. Sekilas, album yang banyak berisi lagu Icelandic ini terasa lebih senyap dan berbisik dibanding album sebelumnya, namun di saat yang sama juga menjadi album yang diakuinya paling politis menyusul reaksi atas rasisme dan patriotisme pasca 9/11.

VoltaVolta (2007)
Pulang dari mengunjungi korban Tsunami di Aceh, Björk menulis lagu industrial “Earth Intruders” yang menjadi lagu pembuka di album ketujuh ini yang didominasi oleh energi yang meluap dari brass section dan bunyi African beats. Selain Mark Bell, Björk juga mengajak produser hip hop Timbaland dan Danja sebagai kolaborator utama album ini, yang membuatnya dianggap sebagai album paling pop dan mainstream dari Björk, which is not very true. Walaupun tidak seeksperimental tiga album sebelumnya, Volta adalah taman bermain bagi Björk sebagai musisi untuk mengeksplor world music, mulai dari musik tribal Afrika dan elemen hip hop di “Innocence”, brass section oleh 14 musisi wanita Islandia, pemain kora dari Mali, ensemble dari Kongo, dan pemain pipa Cina, serta berduet dengan Antony Hegarty di lagu “The Dull Flame of Desire” dan “My Juvenile”. Primal dan cenderung liar, album ini juga berisi “Declare Independence” yang merupakan anthem anti tirani yang memancing kontroversi di banyak negara.

BiophiliaBiophilia (2011)
Terinspirasi hubungan antara lingkungan, musik, dan teknologi, Björk menghadirkan Biophilia yang merupakan proyek multimedia yang meliputi album musik, apps teknologi, dan educational workshop tentang alam semesta. Tema itu terwujud dalam “Crystalline” yang menjadi single pertama adalah lagu elektronik yang menghadirkan instrumen one of a kind bernama “gameleste” yang merupakan gabungan dari gamelan dan celesta yang dimainkan secara digital, serta struktur musikal yang dipengaruhi fenomena alam, seperti rotasi bumi di “Solstice”, musical cycle di lagu “Moon”, dan arpeggios di “Thunderbolt”. Disebut sebagai “app album” pertama di dunia, setiap lagu di dalamnya memiliki iPad interactive apps masing-masing yang juga menjadi downloadable apps pertama di Museum of Modern Art, New York.

VulnicuraVulnicura (2015)
Pasca kematian long time collaborator Mark Bell dan perpisahannya dengan long time partner Matthew Barney, Björk meninggalkan tema-tema besar tentang dunia dan alam semesta dan beralih sejenak ke hal-hal yang lebih substantif dan personal secara emosional. Menggandeng produser Arca yang berada di balik kesuksesan FKA twigs sebagai kolaborator utama, album berisi 9 lagu ini lebih dari sekadar breakup album, tapi juga salah satu album Björk yang paling genuinely honest, heartbreaking, and hopeful at the same time. Selain perilisan buku Björk: Archives dan ekshibisi retrospektif di MoMA yang akan meng-cover perjalanan musik Björk dari Debut sampai saat ini, ia juga bersiap melakukan Vulnicura Tour di Amerika, Eropa, and hopefully, Asia.

On The Records: Josef Salvat

JosefLondon-based, Australian singer-songwriter Josef Salvat is ready to hunt the crown of crooner.

After all these times pop music being dominated by the feisty divas and pop princess, we saw the raising reign of the prominent male soloists and singer-songwriters, geared with soulful vocal and crooning ballads. Names like James Blake, Sam Smith, Mikky Ekko, Gotye already has their place in music industry, and now its time for Josef Salvat to claim his. Hailing from Sydney and based in London, this 26 year old singer-songwriter getting noticed after releasing early singles like “This Life” and “Hustler”, showcasing his haunting vocal, killer piano , and overall promising career ahead. I talk about him via email regarding his music and the upcoming release.

Hello Josef, how are you? Where are you right now and what were you doing before answering this email?
I’m well thank you. I’m currently sitting on my own in a cafe in central London waiting for my lunch. Before coming here I was around the corner at a screening of a friend’s short film that is part of the Raindance Film festival.

Please tell me a bit about your background and what really prompted you to make music?
I was born and raised in Australia. I loved singing as a kid and we had a piano in the house but I never had the patience to learn it properly so I started making my own things up on it. Quickly it become my way of processing things I couldn’t talk about. I went and studied law after school because I was worried I couldn’t make a living with the music I made. But it became clear towards the end of my degree that if I wanted to be happy it wasn’t really a choice. So here I am.

The early press articles describe you as the mix between Morrissey & Lana Del Rey, how do you feel about that? Who were your musical influences that really shapes your music right now?
It’s very flattering – they’re both wonderful artists. My influences range from Bjork, Nina Simone, Eurythmics, Art of Noise, Nirvana – so my parents record collection and teenage discoveries – to Drake, Nas, Katy Perry/Dr Luke, Florence and the Machine, Amy Winehouse etc.

How would you describe your own music?
I generally don’t, but if pushed I usually just say it’s ‘pop’. Self-categorization and creative freedom aren’t often friends in my experience.

After your early singles “This Life” & “Hustler” last year, you seems to take your time and not rushing to release anything until now, tell us what were you busy doing during that period?
I got signed and then started making an album. I spent some thinking/writing time in Spain and couple of months in LA and then came back to London and went into the studio to record everything.

Its seems like we’re kinda have the rise of soulful male vocalists, how do you see yourself in the music industry nowadays?
Ah. The sands are always shifting.

Tell me about your latest single, “Shoot & Run”, I always feel slightly dark tones on your songs but this single is actually darker, so what is the song tell about lyrically and musically?
Lyrically it’s about that realization you have when you see the world for what it is. When you realize no one really knows what they’re doing, that there is no ‘grand narrative’. A lot of my friends went through a very nihilistic and self-destructive phase whilst they were coming to terms with this. But they were joyful in their recklessness. Musically I wanted to create a type of dystopia that was beautiful and full of color but kind of cold and empty at the same time.

Would you mind to talk about the upcoming In Your Prime EP? How many songs on this EP will be? Are you still working with Rich Cooper for the new materials?
I’ve done everything with Rich yeah. We’ve worked together for 3 years now and it’s a beautiful relationship. There are 4 tracks on the EP, one of which is a cover of “Diamonds” by Rihanna. It’s the first time I’ve shown the other side of the music I write, the more hopeful side. It’s a small proposal of how I experience the world; there is contrast.

What is your plan for the full album?
It’s actually almost done and will be coming some time next year. Apart from that I’m not really sure.

What else you did enjoy beside music?
People mainly. But also I try to read books, travel when I can and recently I’ve started bouldering (climbing, but without ropes), which is brilliant.

What’s the next plan for you?
The next plans on the horizon are shooting the video for “Open Season” and a few live shows.

https://soundcloud.com/josef-salvat

Amazing A, An Interview With Andien

    NYLON Indonesia

Melalui empat belas tahun dengan lima buah album, puluhan penghargaan, dan ratusan cerita, Andien tak pernah pergi dan tetap menjadi seorang biduanita muda teristimewa. But make no mistake; she keeps getting stronger than ever.

Jika harus memilih edisi NYLON apa yang selalu saya tunggu setiap tahunnya, tanpa harus berpikir pun saya akan langsung menjawab music issue as my personal favorite. Dan menginjak kali keempat NYLON Indonesia merilis music issue, our excitement bertambah karena untuk pertama kalinya kami memutuskan memakai cover lokal di edisi spesial musik ini. Well, Indonesia mungkin memiliki banyak sekali penyanyi perempuan yang cover worthy, namun menentukan yang bisa selaras dengan DNA majalah ini tentu bukan perkara mudah. Dari beberapa pilihan yang semakin mengerucut, akhirnya kami sepakat jika Andienie Aisyah Haryadi adalah sosok paling tepat untuk menjadi cover music issue tahun ini. Lewat album debut bertajuk Bisikan Hati di tahun 2000, Andien yang waktu itu masih berusia 15 tahun seketika melesat menjadi penyanyi pendatang baru terbaik dan yang lebih menakjubkan lagi adalah fakta jika ia muncul dengan image yang mature dan membawakan musik jazz, genre yang masih jarang ditempuh oleh penyanyi sebayanya ketika itu.

Always stay true to her music, empat belas tahun berikut dalam kariernya diwarnai oleh so many ups and downs. Nama Andien pun terbilang cukup adem ayem saja di ranah musik Indonesia, dalam arti ia tidak pernah benar-benar meledak gila-gilaan secara popularitas atau albumnya laris jutaan kopi, namun ketika banyak penyanyi perempuan yang bisa tiba-tiba melejit namun kemudian hilang begitu saja, Andien dengan stabil terus menghasilkan album-album berkualitas dan tetap bertahan di industri entertainment yang keras. Dalam setiap album yang ia rilis, gadis kelahiran Jakarta 25 Agustus 1985 silam ini menjelma sebagai pribadi yang senantiasa berkembang. Tak hanya soal menyanyi, Andien kini juga dikenal karena gaya hidup sehat serta statusnya sebagai salah satu style icon.
Setelah mencocokkan jadwal dengan Andien, di suatu pagi pertengahan April lalu, kami pun bertemu di studio foto daerah Kemang untuk interview dan photo shoot. Ini adalah interview kedua saya bersama Andien setelah di NYLON edisi Desember 2011 saya juga sempat mewawancarainya. Sama seperti perjumpaan pertama kami, setelah ice breaking sejenak dan bertukar kabar, saya mewawancarainya di depan meja rias ketika ia bersiap dirias dan ditata rambutnya. Bila di interview kami dua tahun lalu, Andien dengan cekatan mendandani wajahnya sendiri sebelum perform di sebuah jazz club, kali ini ia memilih duduk manis untuk dirias oleh penata rias dari tim Jed Root Filipina dan penata rambut andalannya. Sebelum menjawab pertanyaan pertama saya mengenai kesibukannya saat ini, ia meminta pendapat apakah rambut bob pendeknya akan terlihat bagus jika ditata wet look dengan gaya ikal ke belakang. We all agree, it will look good on her. Salah satu fakta yang menurut saya unik dari Andien adalah ia terbiasa bertanggung jawab penuh pada image dirinya sendiri sebagai public figure. Ia tak pernah punya personal stylist dan terbiasa memakai makeup sendiri sebelum perform. “Gue nggak pernah belajar yang serius, kaya makeup school gitu, karena mungkin dari dulu gue terbiasa ngeliat caranya karena sering di-makeup orang-orang, menurut gue naluriah ya perempuan pasti ada sisi seninya untuk mendandani diri sendiri, jadi gue tinggal kaya berkreasi aja,” ujarnya sambil tersenyum.

Andien3
Sembari membiarkan wajahnya mulai dirias, Andien lantas bercerita tentang kesibukannya saat ini yang masih dipenuhi undangan nyanyi dan menyiapkan album baru, kabar yang cukup mengejutkan, mengingat baru tahun lalu ia merilis album kelima dengan judul #Andien. “Iya nih gue ngejar target soalnya sebentar lagi udah umur 30, kayanya pengen bikin album ini album itu. Sebenarnya bukan momok juga sih umur 30 tahun, cuma kayanya, once udah di usia itu, kemudian planning-nya kan banyak tuh, kaya harus nikah, harus segala macem, pastinya ada sesuatu yang akan berubah dari gue, pastinya akan lebih dewasa, punya image yang lebih mature,” jelasnya. Ia menargetkan album keenam itu untuk selesai akhir tahun ini dan dengan senang hati membocorkan beberapa hal tentang album ini. “Ada 10 lagu, tadi rencananya lagu cover semua dari lagu-lagu Indonesia era 90’s karena konsepnya tadinya Andien Sings Indonesian 90’s. Kita udah nyusun list tapi belakangan kaya Mbak Melly (Goeslaw) bikinin lagu baru bagus banget dan gue pikir sayang aja kalau nggak dimasukkin. Jadi, mungkin bakal ada dua atau tiga lagu baru, sisanya lagu cover.”

Menyanyikan ulang sebuah lagu dengan sentuhan sendiri tentu bukan hal baru bagi Andien. Di akun Soundcloud miliknya pun, kamu bisa mendengar rekaman live saat dia membawakan lagu-lagu dari Janet Jackson, Foster the People, hingga Daft Punk. Tapi yang terasa spesial di album baru ini adalah ia akan menyanyikan lagu-lagu dalam negeri favoritnya. Apa saja? “Gue suka banget lagunya Iwa K, ‘Selama mentari bersinar, hari-hari sepi tanpa dirimu,’” nyanyinya spontan dengan agak nge-rap sebelum melanjutkan, “Haha itu satu. Terus semua lagunya Slank, khususnya lagu ‘Terbunuh Sepi’ yang gue cinta banget lagu itu, lagunya Naif yang ‘Mobil Balap’, terus lagunya Dewa. Sebenarnya gue suka banget lagunya Ahmad Band yang ‘Sudah’ tapi ternyata nggak boleh di-cover karena Mas Dhani udah cover lagu itu untuk dibawain lagi. Itu keren banget, terus lagunya Oppie Andaresta ‘Ingat-Ingat Pesan Mama’, Rida Sita Dewi, ‘Kiranya’ Protonema, Sheila on 7, aduh banyak banget deh!” ungkapnya antusias.
Sama seperti dua album terakhir, album terbaru ini juga akan diproduseri oleh bandnya sendiri yang dipimpin oleh Nikita Dompas. “Dua album terakhir sangat berkesan buat gue karena jarang banget ada penyanyi yang albumnya diproduseri oleh anak-anak bandnya sendiri. Waktu pertama kali gue bawa band sendiri, itu belum ada penyanyi perempuan di sini yang punya band sendiri, yang bawa band sendiri biasanya penyanyi cowok kaya Glenn atau Rio Febrian. Jadi gue berusaha banget ngedepankan band gue dan musik gue karena kalau tanpa band gue, musik gue nggak bakal tergambarkan di panggung dan orang nggak bakal liat message gue,” imbuhnya.

Sehari sebelumnya ia baru pulang dari Kuching, Malaysia untuk undangan menyanyi. Bukan kabar baru sebetulnya bila kamu termasuk dari 156 ribu follower di Instagramnya di mana ia sempat posting beberapa foto dirinya yang sedang berjalan-jalan di kota itu. “Iya, gue selalu menyempatkan diri untuk sightseeing gitu, nggak usah di luar negeri, di luar kota juga sama sih sebenarnya kecuali kalau yang udah sering didatengin, gue selalu ngeliat kayanya itu kesempatan untuk eksplor. Kalau kaya Kuching kemarin gue seneng banget, karena gue pikir tadinya daerahnya kaya terbelakang gitu, terus gue ngobrol sama orang di pesawat yang bilang kalau Kuching itu developing city banget, mungkin kalau di Indonesia kaya Bandung. Terus pas landing, emang bagus banget dan lucu gitu kotanya, nggak ada gedung tinggi, semua vintage buliding yang dijaga sama pemerintahnya, jadi semua restoran atau hotel dari vintage building gitu, ada gaya Cina, Melayu, Timur Tengah. Dan ternyata orang-orang di sana juga nggak Melayu konservatif, orang-orangnya pake bajunya Supreme atau apa gitu, terus gue nanya, mereka kalau belanja di mana? Mereka jawab online shop, hmm… okay… haha,” ceritanya sambil tertawa.
Setelah menyesap air mineral, Andien pun melanjutkan ceritanya dengan nada excited khasnya. “Nggak semua orang punya pekerjaan yang bisa menggabungkan sisi pekerjaannya dengan pleasure, leisure, dan hobinya. Gue punya kesempatan itu, jadi gue pasti selalu gue manfaatin untuk eksplor tempat yang wajib dilihat,” ceritanya sambil tersenyum. Ucapannya tersebut mengingatkan saya saat tahun lalu ia diundang menghadiri New York Fashion Week setelah sebelumnya meraih gelar sebagai The Most Stylish Celebrity of the Year dari Fashion Nation. Tak hanya menghadiri beberapa fashion show, Andien juga membuat video untuk single “Teristimewa” yang memperlihatkan dirinya strolling around the Big Apple dalam balutan batik rancangan Edward Hutabarat yang sangat chic.

Andien4
Gelar the most stylish celebrity sendiri jatuh padanya bukan tanpa alasan. Di social media, Andien kerap mengunggah foto gaya pakaiannya yang memang keren. Di atas panggung, Andien terlihat glamor dengan headpiece dan gaya Roaring Twenties, sementara sehari-hari ia terlihat stylish dengan memadukan label luar negeri dan label lokal yang kebanyakan adalah rancangan teman-teman Andien sendiri. “Dari SMP kali ya?” jawabnya ketika ditanya kapan ia mulai tertarik fashion. “Dulu gue punya butik namanya Debut Pret a Porter, waktu itu gue udah agak melek sama fashion, tapi dulu gue lebih sering dibilang aneh sih daripada keren, soalnya gue sangat look up ke majalah-majalah Jepang kaya Nonno gitu. Jadi misal gue bisa pake eyeliner putih atau ijo, tapi makin ke sini makin terekspos mungkin karena social media aja. Dulu-dulu gue nggak berkesempatan foto baju-bajunya. Justru sekarang gue jauh lebih mainstream dibanding dulu, karena dulu apalagi waktu kuliah gue sangat menikmati pake baju ini baju itu, bisa ngarang sebebas-bebasnya,” ungkapnya.
Meskipun sering dibilang stylish, Andien mengaku soal personal style sebenarnya ia sangat cuek dan memakai yang menurutnya nyaman saja. Hari itu ia datang dengan memakai tank top hitam, jeans, dan sneakers yang terlihat effortlessly cool di badannya yang tergolong mungil namun terlihat kencang dan sehat. Selain musik dan fashion, topik lain yang akan memancing Andien untuk bercerita panjang lebar dengan antusias adalah soal menjaga kebugaran tubuh. Morning routine seorang Andien dimulai dengan olahraga, minum manukah honey dan makan buah untuk menjaga kekebalan tubuh. Ia mengaku tak pernah diet dan tubuh ramping sehatnya murni hasil banyak olahraga yang ia geluti.

Sebelum melanjutkan cerita, ia minta izin sejenak untuk membalas teks yang masuk di iPhone-nya. Dengan sigap dan penuh konsentrasi ia menekan-nekan touchscreen selama beberapa menit sambil menjelaskan jika ia sedang meminta bantuan untuk mencari kado. Setelah kurang lebih 3 menit berkutat dengan iPhone, ia meletakkan iPhone dan dengan tersenyum menatap saya lagi dan mulai menyebutkan list olahraga yang sedang ia jalani. “Gym, pilates, Muay Thai terus ada freeletics juga, banyak banget olahraga gue. Karena badan kita nggak bisa ngelakuin satu olahraga constantly, misalnya lo suka pilates terus lo pilates dengan gerakan yang sama selama berapa tahun itu nggak mungkin karena badan kita adaptasi sama gerakan. Bisa jadi badan lo keren dalam tiga bulan pertama, tapi di bulan keempat gerakan itu nggak ada pengaruhnya ke badan lo terus lo mikir ‘Kok sama aja ya?’ Justru itu badan lo udah adaptasi, jadi harus coba yang lain lagi,” jelasnya.
Recently gue bikin gym, namanya 20 Fit di Cipete dan gym ini bentuknya micro gym, cuma ada dua alat namanya miha. Miha itu electro muscular stimulation. Gue recently lagi pake itu terus karena keren banget alatnya, mau liat nggak?” tawarnya sebelum memperlihatkan video di iPhone-nya yang memperlihatkan dirinya sedang melakukan gerakan work out dalam balutan body suit hitam dengan beberapa kabel yang tersambung dengan sebuah mesin. It looks hi-tech dan belum pernah saya lihat sebelumnya.

Andien2
Dengan semangat Andien lantas menjelaskan pada saya apa itu miha yang merupakan sebuah teknologi muscle stimulator asal Jerman yang memberi rangsangan elektrik di tubuh kita. “Awalnya gue nyobain miha punya temen gue yang beli di Jerman dan pas gue cobain, gue kaya ‘wow, magic!’ soalnya alat ini cuma boleh dipakai latihan 20 menit, katanya twenty minutes itu equals with two hours, jadi nggak boleh lebih dari 20 menit. Waktu itu gue pikir, ‘ah nggak mungkin,’ gue udah sering olahraga, bisa kali sampai 40 menit, tapi baru lima menit pertama aja itu rasanya kaya Muay Thai 2 jam! Wah oke banget nih. Di Jakarta belum ada yang punya gym-nya. Mengingat ini olahraganya keren banget menurut gue, banyak yang bilang ini shortcut, tapi menurut gue bukan shortcut karena waktunya aja sebentar, tapi pas olahraganya capek banget kaya lo abis nge-gym campur Muay Thai. The good thing is semuanya rata, kalau lo nge-gym misalnya angkat berat pasti entah bagian kiri sama kanan lo ada yang lebih kuat, akhirnya hasil ototnya juga nggak simetris. Tapi kalau di miha ini kan dipakainya rata di badan kita, jadi hasilnya juga bagus banget,” ujarnya tanpa bermaksud promosi.
“Gue pikir gue harus punya usaha lain di luar nyanyi, banyak orang mengharapkan gue bikin fashion line atau apa, cuma menurut gue yang lebih berguna buat orang ya yang ada hubungannya sama olahraga, dulu gue pengen bikin tempat pilates tapi waktu itu masih keribetan mikir space-nya segala macem, tapi karena miha ini cuma butuh space yang lebih kecil dan udah lebih jelas jadi gue buka ini dulu. Alatnya emang bakal cuma dua, karena alat ini nggak bisa dipake sendiri, harus ada trainer-nya dan sesi one on one gitu dan cuma 20 menit. Gue sih udah ngajak banyak orang kaya Raisa atau Luna (Maya) udah cobain. Raisa malah udah jadi member, hehe,” tandasnya.

Melihat Andien dengan gayanya yang segar dan aura yang youthful, rasanya lumayan sulit percaya jika tahun ini Andien akan menginjak usia 29 tahun. Masih jelas dalam ingatan ketika Andien pertama kali muncul di layar kaca lewat video klip “My Funny Valentine” di mana ia mengenakan lipstick dan tube dress yang terlihat sangat matang untuk anak umur 15 tahun. Berbeda dari sindrom artis cilik yang kesulitan mengubah image saat mereka beranjak dewasa, Andien justru makin ke sini makin terlihat muda. “Karena makin ke sini makin tua, jadi gue harus terlihat makin muda, haha!” cetusnya santai. Bukan hal mudah untuk bertahan selama lebih dari satu dekade dalam industri hiburan yang terobsesi pada sesuatu yang baru. Dari sekian banyak promising talents yang muncul di dekade lalu, Andien menjadi salah satu dari segelintir yang masih bertahan. Ia jelas merasa sangat bersyukur akan hal tersebut, walaupun dengan rendah hati ia mengaku hanya menjalani semampunya saja.
“Nggak tau, sumpah gue nggak punya rumusnya, gue nggak punya formulanya, gue udah ngalamin titik paling nol di karier gue, sampai yang kayanya gue udah di tengah jalan tapi gue jatuh sejatuh-jatuhnya, dimusuhin semua orang, dimusuhin semua band player sampai akhirnya gue bangkit lagi. Itu hari-hari yang berat, tapi sampai bisa bangkit lagi kalau bukan karena Tuhan, itu nonsense menurut gue. Aduh gue nggak ngerti sih, tapi sampai detik ini beberapa tahun terakhir, apa ya gue ngeliat kerja tim gue bener-bener maksimal, dari manajer, tim manajemen, dan akhirnya gue pun masih bisa bertahan sampai sekarang. Bayangin aja, gila lo, dulu gue dipasangin nyanyinya sama Syaharani terus sampai sekarang sama yang seangkatan Raisa, buat gue sendiri gue udah kaya Highlander banget nggak sih? Haha,” ujarnya.

Titik terendah dalam kariernya merujuk pada sebuah kasus yang cukup heboh di infotainment sekitar tahun 2008 lalu. “Gue dulu pernah pacaran sama, seorang cowok yang akhirnya jadi manajer gue, kalau lo pernah denger kasusnya yang semua uang gue diambil dan gue dimusuhi sama semua event organizer, gue dimusuhin semua player dan tim manajemen gue keluar semua nggak ada satu pun, itu gue untuk bangkitnya lagi dengan duit yang nol dari yang gue kumpulin dari awal gue nyanyi sampai detik itu, gue nggak minta bantuan nyokap bokap sama sekali. Gue nelponin EO satu-satu minta maaf ngejelasin kalau itu kerjaannya mantan gue. Itu worst banget rasanya tau nggak? Gue udah pernah nyanyi di acara-acara bergengsi tapi tiba-tiba gue harus mau ikutan acara-acara kaya reality show, kaya… gue inget banget waktu itu sebenernya gue nangis banget dalam hati cuma kalau gue nggak ngambil hati orang TV gue bakal susah lagi untuk ngebangun link sama mereka,” ungkapnya serius. Kejadian itu mungkin sudah berapa tahun berlalu, namun masih ada kegetiran yang terasa saat ia melanjutkan ceritanya dengan pelan. “Jadi kaya ada reality show di mana gue harus pura-pura jadi pengamen di metro mini, syutingnya di Pulo Gadung jam setengah 6 sore yang lagi rame-ramenya. Karena itu reality show, kameranya candid disembunyiin di tas jadi gue kaya bener-bener sendirian jadi pengamen pake celana pendek di metro mini. Itu gue nangisnya gila-gilaan sebenernya, karena gue inget di titik itu setahun sebelumnya gue masih nyanyi di acara Tiga Diva, nggak nyangka aja setahun kemudian bisa kaya gitu keadaannya,” imbuhnya.

Jelas tidak semudah membalik telapak tangan untuk mengembalikan reputasi yang sudah tercoreng, namun dengan kegigihan dan passion yang ia punya, Andien bisa struggling dan bangkit membangun kariernya kembali. “Itu berjalan sangat natural buat gue, gue akuin sih gue nggak pernah ‘jeder!’ kaya Agnes Monica segala macem, tapi emang penggemar gue mungkin setia ada di situ. Nggak ada banyak juga yang tau cerita gue, kaya cerita yang tadi nih, itu gue baru cerita ke elo aja, gue belom pernah cerita ke media mana pun sebenernya. Gue bersyukur karena orang-orang ngeliat usaha gue, gue minta maaf ke band player yang udah nge-blacklist gue, kan dikira gue semua yang bawa kabur uang, gue menjalin hubungan baik sama orang, manajer gue balik lagi, terus semua orang bisa berbaik hati lagi… They put their trust on me, itu yang harus gue keep sampai sekarang.”
Toxic relationship di masa lalu untungnya tak membuatnya patah semangat dalam menjalin hubungan khusus dengan pria. Senyum sumringah terpancar di wajahnya ketika berbicara soal relationship yang sudah dijalaninya selama satu setengah tahun terakhir dengan low profile.“Iya karena dulu gue kebiasaan ekspos di media nggak taunya putus, karena nggak ada enak-enaknya sebenernya terekspos di media, too much pressure. Sekarang gue juga udah di titik yang nggak menggebu-gebu, gue pengen nikah udah dari umur 24 tahun, tapi dulu kaya suka nanti kita nikah kaya gini ya, kaya gitu… Terus putus. Cuma sekarang gue udah dalam relationship di mana gue sayang sama dia, dia sayang sama gue, dia juga umurnya udah 38 tahun sekarang. Jadi kayanya gue nggak harus mikirin, dia yang harus mikirin karena udah mau 40 tahun, haha! Jadi gue udah lebih santai aja.”

Menikah mungkin bukan menjadi top priority Andien tahun ini, karena selain album keenam dan gym, Andien masih memiliki banyak project yang akan ia lakukan. Salah satunya adalah launching toko baru dari curated lifestyle shop bernama Cave and Cove di Bali yang ia gagas bersama temannya. Yang jelas, Andien sedang menikmati hari-hari yang ia jalani sekarang. “Filosofi hidup… Just enjoy your life, kalau gue sebenernya sekarang berusaha mempersembahkan apa yang terbaik yang bisa gue lakukan buat gue, buat orang-orang sekitar gue, buat hidup gue pokoknya. Jadi lo nggak perlu mikir panjang mikirin result-nya bakal seperti apa hari ini, besok, dua minggu lagi, empat minggu lagi, pokoknya lo lakukan yang terbaik untuk segala hal yang lo lakuin karena dulu gue kebiasaan banget, ‘Ndien gini’, terus gue kaya ‘nanti gue dapet apa? Gimana? Atau bisa ini gak gue?’ gue selalu ngeliat kedepannya. Tapi sekarang untuk urusan apapun gue kaya berusaha maksimal dulu aja. Dan itu bukan hal yang gampang, tapi kalau bukan karena pengalaman, agak susah ngelakuin hal itu, itu berlaku buat apapun ya buat karier, pacaran, keluarga, atau gym, diet, jadi kaya gitu-gitu, jadi banyak banget orang yang kaya ‘ya udah deh gue mau diet tapi dua minggu lagi gue bisa gini nggak ya?’ jadi lo nggak perlu nimbang badan setiap hari, kalau lo melakukan yang terbaik yang bisa lo lakuin dulu aja,” simpulnya dengan senyuman hangat.

Andien1Fotografi oleh: Mark Nicdao of At East Jed Root.

Stylist: Patricia Annash.

Makeup Artist: Xeng Zulueta of At East Jed Root.

Hairstylist: Cats Del Rosario of At East Jed Root

As published in NYLON Indonesia May 2014

Influences: Mademoiselle Yulia

yulia

“Tokyo’s finest IT Girl” would be the perfect title for Mademoiselle Yulia. The 25-year-old Tokyo beauty became an icon on the city’s hippest scene thanks to her golden touch for every single thing she had done. Whether becomes a voclaist/guitarist of punk band when she’s just barely 14, a DJ and the creator of coolest underground party called Neon Spread when she’s on highschool, or a solo singer with debut album Mademoworld, one thing for sure, music always be her ultimate passion. Nevertheless, Yulia also pursue her other passion for fashion and art, with her endeavors as model, fashion designer, and a columnist for NYLON Japan. Inspirative and ultra cool, it will be exciting to know all the influences behind her works, don’t you think?

Hi Yulia, how are you? What are you doing before answering this email?
I was watching some youtube videos that my friend had sent me:
What first sparked your desire for music?   
I started a band when I was 14, and stayed in it until I was 17. I started DJing when I was 17, then started designing things at 19.
Tell me about your activities now whether its music, fashion, or your writing gig for NYLON Japan. 
Currently, I DJ, sing, and design accessories for GIZA. I also have a column at Nylon which has been going on for 6 years now, and I model on occasion as well. As for GIZA, it’s an accessories brand, however now we are collaborating with the clothing brand JOYRICH. Aside from our original accessories, we make T-shirts, sweatsuits, bags, sneaker, etc. I look forward to challenging myself in fields that I feel confident in, that also has a demand in the market.
giza
You’ve always worn a stylish stage outfits, who’s your favorite designer and why? 
I have so many that they won’t fit on this page.
 What was the first gig/concert you ever went to? 
I remember being taken to an Eikichi Yazawa concert by my dad when I was three. The first show I went on my own was during my first year in middle school for Summer Sonic.
How would you describe the feeling you get now when you go onstage? 
My main goal is to allow people have fun and enjoy my music, which makes me nervous when I go on. To think that they are having fun while I play makes it fun for me as well.
Who are your style icons? 
I can’t think of any.
First record you reach for when you need to be cheered up? 
QUEEN KYLIE
Kylie-Minogue
Best nonmusical influences? (movies/books/stuff) 
My mother was a big influence on me as far as film and books. And Gilbert and George’s works. Pierre et Gilles’ photography also influenced me since I used to look at their photographs when I was a child, and was influenced by their colors, clothes, set designs, among other things. As for movies I’ve seen most of the films that Eiko Ishikawa had worked on. I’ve also been influenced by animations, manga, and toys. Sailor Moon, Ninja Turtles, Versailles Nobara, Barbie dolls, etc. from when I was a child.
sailormoon
What artist whom you never got to see perform would you love to have seen? 
BEYONCE !!!!!
 If you could collaborate with anyone, who would it be? 
 
As an artist, A$AP ROCKY!! Sailor Moon, VERSACE, Barbie, olly pocket, etc.
Asap
What advice do you have for girls who want to get into music? 
When I was in a band, I didn’t think that I would end up becoming a DJ. I also didn’t expect to be DJing this long when I first became one. I also didn’t expect to become a singer. At the time, I studied what I wanted to do and somehow pulled it off. I think the important thing is to try.
 Next project? 
The plan is to release my 2nd album sometime in April. Also, the 2013 S/S collection for JOYRICH x GIZA has just been released. The original GIZA accessories will be up on the website soon.
Please come to Indonesia some day! 
I really want to visit some day!
Mademoiselle Yulia’s Mixtape:
MIA – BAD GIRLS (SURKIN RMX)
The original song is awesome, but I love the intro to this track.
A$AP Rocky – Goldie
 
I love A$AP Rocky. I like his music, as well as his fashion side.
GO HARD / Kreayshawn
 
Recently, I’ve been visiting LA a lot and have felt a certain energy from the women.
 GRIMES / Oblivion
I like her voice. When I saw live footage of her, I was impressed because she could sing there by herself and looked like she was really having fun.
EVERYBODY DAZ / BROOKE CANDY
I saw her DJ at a bunch of different parties in LA so I was curious about her. Apparently she has been featured in I-D Magazine.
Riot Rhythm / Sleigh Bells
It sounds like punk but it also has a soothing feel to it.
Snapbacks & Tattoos (Original Mix) / Driicky Graham
I play this a lot recently when I DJ.
WIZ KHALIFA / Black and Yellow (feat. T-Pain)
 
I like the way Wiz Khalifa dresses, and am also a big fan of Snoop Dogg so I am checking them both out.
Werkin’ Girls (Son Of Kick Rmx) /Angel Haze
I like her rap because it sort of sounds like Grime, and because there aren’t a lot of female rappers that sound like her.
ZODIAC GOLD
This is my song from my last album, which was used for the JOYRICH x GIZA video for this season.

Sweet Disposition, An Interview With Ayushita

Membintangi film yang akan ditayangkan di Sundance Film Festival dan bersiap merilis album solo perdananya, Ayushita tengah melangkah riang dengan visi baru. 

Mendengar nama Ayushita Nugraha, mungkin kamu langsung teringat dengan Bukan Bintang Biasa alias BBB. Dalam grup musik besutan Melly Goeslaw tersebut, Ayu dan 4 artis muda lainnya menarik perhatian publik dengan konsep mereka yang menekankan jika masing-masing personelnya memang artis serba bisa. Saya sendiri selalu merasa gadis kelahiran Jakarta 23 tahun lalu tersebut memang punya sesuatu yang lebih dibanding artis-artis sebayanya yang lain. There’s some sort of big potential yang sayangnya masih terasa belum dimaksimalkan, seakan menunggu sebuah outlet atau momen yang tepat untuk akhirnya tersibak. Fortunately, that time has finally come for her.

Diiringi musik swing dan Motown yang memenuhi sebuah kafe di bilangan Kemang, Ayushita yang terlihat segar dengan rambut panjangnya mulai bercerita tentang dua proyek besar yang sedang dijalaninya. Yang pertama, dalam waktu dekat ia akan terbang ke Amerika untuk menghadiri Sundance Film Festival, di mana film terbarunya akan melakukan world premiere. Berjudul Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (What They Don’t Talk About When They Talk about Love), film garapan Mouly Surya tersebut terpilih dalam kategori The World Dramatic Competition untuk festival yang berlangsung di Salt Lake City, Utah itu. Di film ini ia memerankan salah satu tokoh utama bernama Fitri, gadis tuna netra yang berjumpa dengan Edo (diperankan Nicholas Saputra), seorang punk rocker dengan gangguan pendengaran yang menyamar menjadi dokter. Premisnya memang merujuk pada cerita cinta, namun jelas yang terpapar kali ini adalah cinta yang lebih rumit karena keterbatasan fisik mereka berdua. “Di film ini para pemain lebih dibebaskan mengembangkan karakter dan tidak terpaku vision Mbak Mouly sebagai director. Tidak ada pressure sama sekali dan waktu aku fix dapat peran ini, aku diajak ngobrol panjang lebar dengan Mbak Mouly berdua saja tentang film ini karena ceritanya kan masalah perempuan, and she’s convinces me that I can do it,” ungkap Ayu yang mengaku sempat ragu-ragu untuk memerankan penyandang tuna netra, sebuah peran yang mendorongnya melakukan observasi di panti tuna netra, belajar huruf Braille, memakai makeup sendiri tanpa melihat, sampai belajar pijat.

Exactly? Dari umur 3 tahun,” jawab Ayu tentang awal kariernya. “Dulu foto baju anak-anak, iklan, dan waktu SD sempat ditawarin sinetron tapi aku nggak mau,” kenangnya sambil tersenyum. Nama Ayushita sendiri resmi dikenal publik saat ia selesai mengikuti ajang Gadis Sampul 2004 yang bersamaan dengan syuting perdananya untuk FTV berjudul Bekisar Merah garapan Miles Production. Perannya sebagai cewek tomboy yang menyamar sebagai anak laki-laki untuk bermain bola membuatnya dinominasikan untuk Piala Vidia FFI 2004 dalam kategori Pemeran Wanita Utama Terbaik. Walau akhirnya kalah dari Ria Irawan, dalam ajang yang sama, ia meraih penghargaan khusus Aktris Pendatang Baru Terbaik. Sejak itu kariernya melesat dengan membintangi beberapa judul film lainnya dan terlibat dalam BBB.

ayushita2

Terjun ke dunia showbiz yang keras dari usia dini, apakah ia memiliki semacam regret tersendiri? “I’m sure have once in a while,” jawabnya sambil menyesap iced tea dengan hati-hati. “Waktu itu aku pernah ngambil satu produksi yang mungkin karena aku terbiasa dengan produksi jangka panjang, all of sudden I must do an instant and very industrial thing. I was so shocked, kayak yang ‘Gila, ternyata kayak gini banget ya?’ Aku selalu memerlakukan satu produksi sama dengan lainnya, I give my best. Tapi yang satu ini feedback-nya memang kurang seimbang jadi waktu itu sempat bikin males, akhirnya aku lanjutin kuliah yang pending dua tahun,” ungkapnya serius sambil menyinggung tentang kuliahnya di jurusan Performing Arts Communication di London School. “Aku ternyata lebih senang mengerjakan sesuatu dengan preparation. I don’t say I hate that industrial thing, I feel thankful for the experiences. Dari situ juga aku akhirnya merasa jauh lebih happy karena aku jadi punya banyak waktu untuk bikin sesuatu seperti album musik aku sendiri,” lanjutnya.

Yup, proyek besar kedua Ayushita saat ini adalah sebuah album solo debut. Di bawah label Ivy League Records milik Ramondo Gascaro dari band Sore yang juga menaungi Payung Teduh dan Darryl Wezy, Ayu menunjukkan potensi lain dalam dirinya lewat lagu-lagu garapan Mondo, Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company dan Anda Perdana berupa pop eklektik yang easy listening. Proyek ini sendiri tercetus setahun lalu dari sebuah jamming iseng antara Ayu dan Ricky yang mengunggah rekaman video mereka meng-cover lagu The Bird & The Bee ke YouTube. Album yang direncanakan rilis sekitar bulan Februari atau Maret ini berisi 8 lagu dengan dua lagu berbahasa Inggris, dan judul albumnya sendiri akan bertajuk Morning Sugar. “Yang milih judulnya kakak aku, Karin. I dunno why, she really loves those words, haha. Morning Sugar itu buat aku sendiri adalah suatu hal yang menyenangkan, jika ada yang bilang ‘Morning, sugar!it’s such a sweet thing,”

Saat mendengar single berjudul “Fufu-Fafa” di iPod-nya, kesan yang terdengar adalah musik pop yang fresh dan laidback seperti lagu-lagu yang dibawakan Zee Avi, Bic Runga atau Dia Frampton. Untuk influens musikal sendiri, Ayu tak terpatok genre tertentu, ia mendengarkan beragam musik, mulai dari R&B, 90’s alternative rock, jazz hingga classic. “Kalau untuk lagu aku sendiri, dari komentar yang sudah dengar ada yang bilang genrenya ini genrenya itu, beda semua pendapatnya. Aku sih bebasin aja ke yang dengar, terserah mau bilang genrenya apa, nggak mau mengotakkan album aku sendiri,” tukasnya. Selain warna vokal Ayu yang berkarakter, yang membuat album ini terasa menjanjikan tentu tak lepas dari otak kreatif di balik aransemen musiknya yang menarik. Untungnya, Ayu tak menjumpai kendala saat menyatukan visi antara pembuat lagu dan dirinya. “Penyesuaian antara karakter suara dan musik itu pasti ada. Sebelum mereka buat lagu, aku maksa mereka dengerin suara aku dulu biar tau cocoknya gimana karena kan belum tentu apa yang mereka bikin bisa cocok aku nyanyiin. Tapi mereka tetap bebas berekspresi, aku nggak maksa misal aku suka lagu seperti apa, mereka harus bikin yang kaya gitu. As long as kita sama-sama suka ya diterusin,” ungkapnya.

Dengan dua proyek besar yang seakan menjadi momen turning point untuk seorang Ayushita, baik secara personal maupun profesional, bagaimana Ayu memandang dirinya sendiri saat ini? Ia sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya memberi jawaban, “Apa ya? Mungkin beda dari sebelumnya, aku sekarang merasa lebih chic. Banyak yang lama nggak ketemu aku bilang ‘hah kok lo cewek banget sekarang?’ haha… Ya nggak tau deh mungkin sekarang umurnya lagi seneng centil, haha. Sama dengan albumnya, terserah orang mau bilangnya kaya gimana tapi this is Ayushita now,” lugasnya dengan senyuman cerah.

As published on NYLON Indonesia January 2013

Photo by Rude Billy.

All About Eva, An Interview With Eva Celia

Terlahir dengan nama belakang terkenal merupakan suatu privilege, tapi Eva Celia jelas punya caranya sendiri untuk bersinar terang. PS: We miss you!

Kalau kamu mempunyai ibu seorang Sophia Latjuba dan berayahkan Indra Lesmana, public attention is something you can’t avoid. Dari kecil, Eva Celia Latjuba sadar tentang hal itu. Gadis kelahiran Jakarta, 22 September 1992 ini jelas beruntung karena dibesarkan di tengah keluarga dengan bakat seni yang mengalir deras, selain ibunya yang bisa dibilang salah satu ikon kecantikan Indonesia dengan bakat akting dan modeling, ayah dan kakeknya, Jack Lesmana, merupakan dua musisi jazz paling tersohor di Indonesia. Dan ketika akhirnya ia mengikuti jejak orangtuanya untuk tampil di ranah publik, we all know it’s only matter of time. Eva sendiri sudah tampil di depan kamera sejak berumur delapan tahun dengan membintangi beberapa iklan bersama mamanya dan berperan di beberapa judul sinetron seperti Juwita Jadi Putri dan Sherina. Seiring waktu, bakat serta wajah cantiknya yang mustahil untuk diacuhkan juga menarik para sutradara film untuk mengajaknya bermain di karya mereka.

Dari daftar resumenya, salah satu performa Eva yang paling saya sukai adalah saat dia memainkan peran bernama Gadis, seorang survivor di film horror bertema zombie-apocalypse berjudul The Rescue yang merupakan salah satu film di Takut: Faces of Fear,  omnibus horror Indonesia yang dirilis tahun 2008 lalu. Disutradarai oleh Raditya Sidharta yang juga membuat film The Shaman, adegan terakhir film pendek ini yaitu kamera yang menyorot secara close-up wajah Eva yang perlahan menyeringai sinis menjadi momen yang memorable. Tahun berikutnya dia ikut membintangi Jamila Dan Sang Presiden besutan Ratna Sarumpaet yang juga mendapat tanggapan positif. Sayangnya di saat kariernya sedang naik, ia memilih ikut ibunya pindah ke Los Angeles, tanpa ragu ia menghentikan dulu kariernya di showbiz Indonesia dan mengejar impiannya yang lain di bidang musik.

Jujur saja, saya salah satu yang merasa kehilangan sosoknya di layar televisi kita dan saya yakin kamu pun penasaran untuk mengetahui kehidupannya saat ini, karena itu saya sangat excited saat di rapat redaksi mendengar rencana memasang Eva sebagai cover girl untuk edisi Anniversary pertama NYLON Indonesia. Menunjuk Dikka & Vega Afidick, pasangan photographer-stylist Indonesia yang berdomisili di Los Angeles sebagai creative force, photoshoot yang terinspirasi dari psychedelic art ini memakan waktu dua hari. Hari pertama berlangsung di studio dan dilanjutkan keesokan harinya di sepanjang jalan Hollywood Boulevard.  “Eva… dia cantik, suaranya bagus dan very jazzy. Dia juga santai, easy going, ramah, dan penuh canda tawa,” ungkap Dikka saat saya meminta pendapatnya tentang Eva. Dikka yang juga pernah memotret Sophia Latjuba di kediamannya di L.A. menambahkan, “Persamaan antara ibu dan anak ini pastinya sama-sama cantik dan sama-sama pintar di depan kamera, tanpa di-direct pun sudah natural bagus hasilnya. Perbedaannya nggak terlalu mencolok, tapi yang bisa kita lihat, Eva lebih suka penampilan yang cuek sedangkan Mamanya Eva lebih feminin.” Dengan pembawaan yang lebih rebel dan cuek itulah maka Vega tak ragu memilihkan berbagai baju berkarakter grunge rock 90-an yang sudah diadaptasi ke look masa kini untuk Eva kenakan. Well, seperti kamu lihat sendiri, mau itu studded denim vest dengan aksesoris berdetail spike ataupun fur crop top yang glam, semua terlihat effortlessly cool dipakai oleh Eva. Kini, di usianya yang ke-19 tahun, tak hanya sosoknya yang semakin menarik untuk diperhatikan, berbincang dengannya tentang hari-harinya di L.A., minat, dan passion yang sedang ia kejar adalah hal yang sangat menyenangkan. You can feel it by yourself.

 

So Eva, how’s your day going so far? Apa yang sedang kamu lakukan sebelum interview ini?

My day has been great! Thank you for asking. I’ve been occupied with final exams for this past week, but it’s nothing that I can’t enjoy.

Wow, how’s it going? What’s your favorite subject?

It’s over, finally! It went very well. I don’t have any favorite subject, since all of them are music/singing related. They’re all super fun.

Boleh cerita kegiatan saat ini?

Saat ini saya sedang sibuk kuliah musik di L.A.  Ini adalah tahun pertama saya kuliah di Musicians Institute jurusan Vocal Performance dengan Music Business as a minor. 

Tell me everything about your life in L.A., how do you adjust yourself in the entire new environment?

Being in LA has been a rollercoaster ride for me. It took me quite a while to adapt to the new environment. Especially since I was homeschooled for 3 years, getting used to an American public high school was tough. I was really lucky to have my family here to help me go through it. I also made a few great friends who supported me. In the end I got used to it and now I love this city. It’s such a great place to be and I’m very lucky to be here.

What’s your favorite city so far?

To be honest, I haven’t traveled much to give you an answer. But I love LA. It’s so culturally diverse and I have learned so much since I moved here. I’ve met and gotten to know many bright and talented people. The food is great, too.

What you usually do on the weekend?

Most weekends, my friends and I go on a journey to find good food. Another great thing about LA is you can almost find everything here. If I feel like going to the beach, I just have to drive 20 minutes. Or if I want to snowboard up on the mountains, as long as I have a car and I’m willing to drive, I can get there.

I bet you’re going to a lot of concerts in LA too.

Yes, I have. I went to see Sting and John Mayer a while ago. Last week I went to Jay-Z and Kanye West’s Watch The Throne concert. THAT was a blast! Although I did get to see Coldplay at iHeart radio festival, I still would love to see them again. And also John Legend.

Sounds great! How about relationship? Would you drop some words about it?

I would like to keep this personal matter private, if that’s okay, hehe.

Haha, its okay. Bagaimana dengan kehidupan akademismu? Apakah teman-teman sekolahmu ada yang mengetahui tentang siapa kamu di Indonesia?

Kehidupan akademis saya cukup menantang. Tapi karena saya bisa belajar di bidang yang saya sukai, jadi tidak pernah beban. Ada beberapa teman yang tahu, tapi itupun bukan dari saya. Haha.

Did you join some particular social activity in your college?

I would have to say no. It’s still my first quarter in college, so I’m still trying to get a hang of it. I will eventually participate.

Boleh cerita sedikit tentang masa kecil kamu?

It was fun! Masa kecil saya tidak jauh beda dengan yang lain. I was lucky to have the normal life my parents gave me despite how difficult it was to steer clear of the spotlight and everything else that comes with the entertainment industry.

Apakah kamu pernah merasa risih atau tidak nyaman saat orang sering kali membandingkan kamu dengan orang tuamu?

Tentu saja tidak. Sejak saya kecil, saya punya cita-cita untuk menjadi seperti mereka. Dan dari awal saya sudah tahu konsekuensinya. It never really bothered me.

What do you love most about your family?

They are very supportive and understanding. No matter what the situation is, I know they will always be there for me.

Apa yang paling kamu kangenin dari Indonesia?

Saya sangat kangen dengan keluarga dan teman-teman lama saya. And the food of course! Oh my God, I miss everything! Especially pecel lele. I’ve tried to find some spots in LA but nothing came close to what I had back home.

Antara akting dan musik, mana yang lebih kamu suka?

I enjoy doing both. I am concentrating on my music at the moment because it has been my passion since I was a little kid. I love doing it and I take it very seriously. It’s what I want to do. Acting is relatively new for me. 

Apakah kamu rindu berakting di depan kamera?

Wow, I’ve never really thought about this actually. I do miss some things about it. But as of now, I’m just enjoying my time in college studying what I love, and I’m learning so much.

How was the photoshoot with Dikka & Vega?

It was great! I always have so much fun with those two. They’re so talented and never fail to impress me with their works.

Kalau kamu sendiri melihat gaya personal kamu seperti apa? Do you have any particular icon?

Waduh, saya kurang tahu. I just put whatever that’s in my closet together and throw it on. I’m a tomboy, so I love So Young Kang. I don’t really know who my fashion icon is, but I love Rei Kawakubo and Hedi Slimane.

Rapid questions time! First, what’s your favorite TV shows and why?

I love Modern Family and Dexter. I wish I could watch more, but it’s already hard to keep up with these two shows. I need to catch up.

Apa yang sedang kamu dengarkan akhir-akhir ini?

I’m currently listening to Donny Hathaway, Amy Winehouse, Jill Scott and Frank Ocean.

Apa yang ada di daftar to-do-list kamu saat ini?

Saya ingin menyelesaikan buku Guns, Germs and Steel karya Jared Diamond yang sedang saya baca. Dan menyelesaikan beberapa lagu saya.

Apa satu fakta darimu yang akan membuat orang lain terkejut?

Apa ya? Bahwa saya sangat pemalu mungkin?

Last question, apa resolusi atau target yang ingin dicapai di tahun ini?

To be a better daughter, sister and student.

As published in NYLON Indonesia January 2012

Photos by Dikka Afidick

Styling by Vega Afidick