Style Study: Rupahaus

Rupahaus merupakan kolaborasi antara tim desain yang berbasis di Australia dengan penjahit dan pengrajin tekstil di desa-desa kecil Indonesia. Berdirinya Rupahaus di tahun 2015 berangkat dari kepedulian sang pendiri dan creative director atas kekayaan tekstil Indonesia yang perlahan kehilangan jati diri dengan digantikannya beberapa proses tradisional menjadi produksi mesin yang berbahaya bagi lingkungan. Banyak pengrajin tekstil yang menyerah pada tuntutan ekonomi dan menjadi buruh industri demi bertahan hidup dan hal itu tercermin dari banyaknya pabrik fast fashion yang kini berdiri di Indonesia. Memadukan tradisi dengan desain leisure wear yang chic dengan proses handmade dan bahan natural, sebagian profit yang didapat pun diinvestasikan kembali pada komunitas pengrajin desa.

21910771_1442902312443382_5839801096033271808_n(1)

Bagaimana awal mula label ini berdiri?

Creative Director dan Founder kami lahir di Indonesia, menghabiskan masa remajanya di Australia, lalu tinggal di Jerman untuk belajar fashion lebih dalam sebelum pulang kembali ke Australia. Dalam perjalanannya, dia menyaksikan banyak disintegrasi budaya dan dampaknya terhadap kehidupan saat ini. Dari tiga budaya yang ia alami, dia merasa paling tertarik dengan kekayaan warisan budaya tekstil Indonesia yang perlahan kehilangan identitas.

Rupahaus berdiri dari hasil kolaborasi antara tim kami dengan pengrajin dan penjahit lokal. Kami percaya setiap orang dalam kolaborasi ini berharga, karena itu kami merasa bertanggungjawab untuk berkontribusi pada komunitas yang telah mendukung kami. Itu yang menjadi akar dari label ini. Dengan menampilkan keindahan dan sejarah di balik tekstil Indonesia, kami turut menyediakan wadah bagi pengrajin lokal untuk berkembang dan mempertahankan tradisi. Secara khusus kami mengajak para pengrajin dari desa-desa terpencil untuk berkolaborasi di mana kami memperkenalkan proses inovatif namun tetap mempertahankan metode pembuatan tekstil tradisional.

Apa yang menjadi filosofi label ini?

Nama Rupahaus sendiri secara fundamental merefleksikan pemilihan dan penggunaan bahan-bahan alami dalam setiap aspek produk kami—mulai dari bahan mentah hingga finishing touches. Dengan mengaplikasikan berbagai teknik tradisional seperti hand waving dan batik hand-drawing, kami membuat kain dengan tekstur menarik yang bisa diapresiasi indra kita. Karena setiap produk menampilkan kisah para pengrajin dan kemampuan mereka, kami punya hubungan simbiosis dengan mereka dan ini yang membuat kami berbeda dibanding label lain.

30084356_586993365009514_1676491873553743872_n(1)

Apa yang membuat Rupahaus memilih berada di jalur eco-friendly/sustainable?

Sustainability ibarat sebuah perjalanan. Kesadaran akan sustainability dan praktik etis di Indonesia masih tergolong rendah. Karena kami ingin mempertahankan warisan tradisi, kenapa tidak sekalian menjaga autentisitasnya dan mengembangkannya sebagai proses yang berkelanjutan? Kami secara sadar mengusung filosofi slow fashion di mana selain menciptakan tren, kami juga ingin menjalankan rantai supply kami dengan cara yang etis dan bertanggungjawab. Kami membuat produk yang dibuat dari bahan mentah dan pewarna alami berkualitas tinggi yang digabungkan dengan teknik produksi handmade. Kami pun selalu memastikan bahwa bahan yang kami pakai tidak berbahaya bagi lingkungan.

 

Bagaimana kalian melihat perkembangan mode ramah lingkungan dalam beberapa tahun terakhir? 

Kami menyaksikan perkembangan positif di masyarakat dengan orang dari berbagai generasi mulai aktif beralih ke pilihan pakaian yang lebih sustainable dan mendukung gerakan slow fashion. Semakin banyak orang yang peduli dan bertanya tentang dari mana dan bagaimana pakaian yang mereka kenakan dibuat. Hal itu semakin membuat kami percaya diri bahwa kami berjuang untuk hal yang benar.

21980423_118758792126242_6271646807671963648_n

Sejauh ini apa koleksi paling laris yang telah kalian buat?

Koleksi kedua kami, KURAKARA, berhasil menarik perhatian masyarakat yang lebih luas. Khususnya MAIA wrap dress dan ABBE shirt yang senantiasa sold out di semua platform penjualan.

 

Bagaimana kalian menanggapi respons dari konsumen?

Selalu menegangkan sekaligus exciting melihat respons publik terhadap produk kami! Kami begitu bersyukur melihat banyaknya orang yang tak hanya mengapresiasi produk kami tapi yang lebih penting adalah cerita di baliknya dan tujuan di balik label ini. Kami melihat perkembangan yang positif di masyarakat yang menginginkan transparansi dalam produk yang mereka kenakan, dan kami bangga bisa turut berkontribusi dalam pergerakan untuk menjaga lingkungan.

23279371_1974077762862739_8956684353371373568_n

Apa rencana selanjutnya untuk label ini?

Creative Director kami baru kembali dari perjalanan produksi tahunan dan kami yakin ia punya banyak ide menarik yang siap diwujudkan. Selain pakaian, setahun terakhir ini tim kami juga telah bekerja keras menyiapkan koleksi homewares.

 

Apa harapan kalian untuk industri mode secara umum? 

Industri mode termasuk sumber polusi terbesar di dunia dan prosesnya termasuk rumit karena rantai supply yang begitu panjang hanya untuk menjual sebuah produk jadi. Kita bisa melihat sendiri kerusakannya namun belum bisa maksimal untuk mencegah dampaknya. Secara komersial, di mana ada permintaan pasti ada supply. Karena itu, kami percaya jika setiap perusahaan mode ikut peduli dengan isu ini, kita bisa memenuhi permintaan untuk pakaian dengan tren terbaru yang affordable tanpa harus merusak lingkungan. Jika semua pihak bisa beroperasi dengan cara yang etis dan berkelanjutan, pada akhirnya kita bisa memenuhi target industri dengan bonus ekosistem yang sehat. Bila bukan kita yang membuat perubahan, siapa lagi?

34406575_181901499166876_7341166287977971712_n(1)

All pictures are courtesy of Rupahaus

Instagram: @rupahaus

Website: www.rupahaus.com