Filmstrips: 13 Scariest South Korea Horror Movies

Hampir mirip seperti film horror Jepang dan Asia pada umumnya, film horror Korea kerap mengangkat tema tentang keluarga disfungsional, rahasia kelam, dan dendam jiwa tertindas yang kemudian melahirkan cerita misteri tentang arwah pembalas dendam yang mungkin klise namun selalu efekfif membuat bulu kuduk kamu merinding. Fenomena tersebut berakar dari ungkapan Gwonseonjingak (“Menghukum kejahatan dan menghargai kebajikan”), sebuah pepatah Korea yang terinspirasi dari ajaran Konfusianisme tentang keadilan: Lakukan hal baik, kamu akan mendapat imbalan; lakukan hal buruk, tak hanya kamu yang akan menerima akibatnya, tapi juga orang-orang di sekitarmu. Konsep tentang balasan setimpal ini yang kemudian menjadi salah satu tema dominan dalam film-film horror Korea. Namun, dalam perkembangannya, film horror Korea pun tak terjebak dalam tema dan genre yang itu-itu saja. Beberapa tahun belakangan, para sineas Korea Selatan menawarkan film berelemen zombie, monster, torture, hingga thriller psikologis yang memperkaya khazanah horror Korea Selatan. Menyambut Halloween, berikut adalah 13 film horror Korea Selatan yang harus masuk watch list kamu.

 

Whispering Corridors (1998)

Walaupun sudah berusia 20 tahun, namun film ini menjadi salah satu film horror wajib tonton bila kita bicara tentang dunia sinema Korea. Disutradarai oleh Park Ki-hyung, film ini menjadi bagian dari film-film Korea pasca penghapusan sensor ketat di akhir kediktatoran militer negara tersebut. Hasilnya, film-film di era tersebut banyak mengangkat sindiran sosial terhadap sistem, tak terkecuali film ini yang menyinggung tentang sistem edukasi Korea yang keras. Berlatar di sebuah sekolah menengah khusus perempuan, peristiwa kematian seorang murid menjadi pemicu dari banyak kematian misterius lain, rahasia tabu yang terpendam, dan pemberontakan gadis remaja. Film ini sendiri menjadi film pertama dari Whispering Corridors series dengan empat film sekuel (Memento MoriWishing Stairs, Voice, dan A Blood Pledge) yang walaupun tidak memiliki cerita yang saling berkaitan namun memiliki latar dan tema yang mirip.

A Tale of Two Sisters (2003)

Cerita tentang keluarga difungsional memang menjadi latar menarik bagi sebuah film horror, tak terkecuali dalam film garapan Kim Jee-woon ini. Terinspirasi dari cerita rakyat zaman Dinasti Joseon, plot film ini berkisar pada seorang gadis bernama Su-mi (Im Soo-jung) yang baru keluar dari institusi mental dan pulang ke rumah ayahnya (Kim Kap-soo) yang juga dihuni oleh adik perempuannya Su-yeon (Moon Geun-young) dan ibu tiri mereka, Eun-joo (Yum Jung-ah). Konflik antara saudara perempuan dan ibu tiri mereka kemudian diperparah dengan sosok penampakan hantu anak perempuan dan twist yang tidak disangka but so satisfying. Selain termasuk film horror paling laris di Korea, film ini juga menjadi film horror Korea pertama yang ditayangkan di bioskop Amerika dan telah di-remake versi Hollywood dengan judul The Uninvited.

Bunshinsaba (2004)

Memiliki judul bahasa Inggris Witch Board, film karya sutradara Ahn Byeong-ki ini memang berfokus pada sejenis permainan ouija board khas Korea yang disebut Bunshinsaba. Dan seperti yang bisa kamu duga, permainan apapun yang mengundang arwah penasaran untuk membalas dendam tidak akan berakhir baik-baik saja. Ceritanya sendiri cukup sederhana, dengan tokoh utama seorang siswi pindahan yang di-bully oleh teman sekelas barunya. Tidak tahan dengan perlakuan tersebut, ia dan dua orang temannya memutuskan mencoba kutukan Bunshinsaba untuk membalas para bully. Kutukan tersebut terbukti manjur dan satu per satu bully ditemukan tewas dengan muka terbakar. Namun, apakah hal itu sepadan dengan harga yang harus dibayar oleh para pemanggil?

Bloody Reunion (2006)

Berjudul asli Seuseungui Eunhye, karya debut sutradara Im Dae-Woong ini memiliki judul bahasa Inggris meliputi To Sir with Love, My Teacher, Teacher’s Mercy, dan Bloody Reunion. Kisah dibuka dengan seorang detektif yang menyelidiki kejadian pembunuhan massal di rumah Nyonya Park, seorang pensiunan guru yang kini duduk di kursi roda. 5 orang ditemukan tewas di rumah tersebut dan yang selamat adalah Nyonya Park dan pengasuhnya, Mi-Ja. Kepada sang detektif, Mi-Ja menceritakan bagaimana kejadian tersebut dimulai dari reuni para bekas murid Nyonya Park. Terlihat begitu dicintai oleh para mantan muridnya, namun ternyata mereka semua menyimpan dendam masing-masing bagi sang guru dan hal itu dengan brutal terungkap seiring munculnya sosok pembunuh bertopeng kelinci yang juga menyimpan dendam.

The Host (2006)

Bagi yang menyukai film horror yang menampilkan sosok monster, film karya Bong Joon-ho yang dibintangi oleh banyak bintang terkenal seperti Song Kang-ho dan Bae Doona ini tidak boleh dilewatkan. Kisah bermula ketika cairan kimia dari sebuah lab militer Amerika di Korea dibuang secara sembarangan dan mengalir ke Sungai Han yang kemudian menimbulkan efek negatif bagi ekosistem sungai. Beberapa tahun kemudian, seorang pria pandir bernama Park Gang-du memiliki warung kecil di taman dekat sungai yang dijalankan bersama ayah dan putrinya. Suatu hari ketika ia sedang mengantarkan makanan, monster berukuran besar muncul dari Sungai Han dan menyerang orang dengan buas. Gang-du melihat putrinya di antara kerumunan orang yang panik dan berusaha menolongnya. Namun, monster itu berhasil menangkap putrinya dan kembali menyelam ke air. Setelah pemakaman massal bagi para korban, pemerintah Korea dan armada militer Amerika tiba dan mengkarantina semua orang yang berada di lokasi, termasuk Gang-du dan keluarganya karena ternyata makhluk buas tersebut juga mampu menyebarkan virus mematikan. Menampilkan special effect yang bagus dan jalan cerita yang menegangkan, film ini terinspirasi dari kejadian nyata di tahun 2000 ketika cairan formaldehyde dalam jumlah besar dibuang oleh peneliti yang bekerja untuk militer Amerika ke sungai dan sempat menimbulkan antipati masyarakat Korea Selatan pada Amerika. Karena tema tersebut, film ini juga dianggap sebagai kritik Korea Selatan terhadap Amerika Serikat dan mendapat pujian bahkan dari Korea Utara, sesuatu yang jarang terjadi untuk film Korea Selatan.

Hansel and Gretel (2007)

Terinspirasi dari cerita dongeng klasik, film ini menceritakan seorang salesmanbernama Eun-soo yang mengalami kecelakaan di sebuah jalan tol dan terbangun di hutan gelap, di mana ia bertemu seorang gadis cilik yang membawa lentera dan mengajaknya pulang ke rumahnya. Bernama “House of Happy Children”, rumah di tengah hutan itu dihuni oleh sang gadis misterius, kakak lelaki, adik perempuan, serta dua orang dewasa yang sepintas terlihat seperti orangtua mereka, well at least sampai akhirnya Eun-soo menyadari semua keganjilan dan harus berhadapan dengan berbagai misteri yang menyelimuti rumah tersebut. Menghadirkan atmosfer hangat khas Natal yang silih berganti dengan nuansa disturbing, sutradara Yim Pil-Sung berhasil mengemas seramnya horror bergenre haunted house dengan sentuhan fantasy/fairy tale yang mengingatkan pada karya Guillermo del Toro.

Death Bell (2008)

Kita semua tahu masa ujian sekolah terkadang terasa seperti urusan hidup dan mati bagi seorang pelajar, namun bagaimana bila kamu benar-benar bisa kehilangan nyawa (dengan cara yang sadis) bila salah menjawab pertanyaan? Hal itulah yang dialami oleh 20 murid SMA di kelas elite yang sedang menyiapkan ujian masuk universitas. Satu per satu mereka menghilang dan mati secara mengenaskan sementara yang masih selamat harus berjuang mengungkap jawaban dari semua kegilaan tersebut. Memadukan elemen torture-horror seperti film Saw, drama sekolah, dan peristiwa supranatural, Death Bell menjadi film debut yang cukup sukses dari sutradara Chang yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara video musik.

Thirst (2009)

Sebagai salah satu sutradara terkenal yang berhasil mengangkat derajat film-film Korea di ranah internasional, Park Chan-wook memiliki ciri khas framing yang dipikirkan matang, humor gelap, dan topik-topik yang seringkali brutal dalam filmnya, tak terkecuali di film horror ini. Terinspirasi oleh novel Therese Raquin karya Emile Zola, film ini bercerita tentang seorang pendeta Katolik yang jatuh cinta dengan istri temannya sendiri. Seakan itu tak cukup, sang pendeta pun berubah menjadi vampire setelah mengalami eksperimen medis yang gagal. Judul Thirst di sini tak hanya tentang haus darah sang pendeta yang berubah jadi vampire, tapi juga merujuk pada nafsu dan cinta segi tiga yang terjadi. Film ini berhasil memenangkan Jury Prize di Cannes 2009 dan menjadi film mainstream Korea pertama yang menampilkan adegan full frontal male nudity. 

White: The Melody of the Curse (2011)

Di balik semua keglamorannya, dunia K-pop adalah dunia yang keras di mana hanya sedikit dari para idol yang bisa survive dan mendapat popularitas. Girl group fiksional dalam film ini, Pink Dolls yang terdiri dari 4 member termasuk grup yang belum berhasil terkenal, sampai seorang anggotanya menemukan sebuah rekaman video lama berisi latihan lagu dan dance tanpa keterangan apapun. Pink Dolls pun mempelajari lagu tersebut dan mengklaimnya sebagai karya mereka. Tanpa mereka duga, di balik ketenaran tiba-tiba yang datang, mereka juga akan disambut oleh ambisi, rasa rakus, dan sosok wanita berambut putih yang menghantui mereka. Film karya sutradara Kim Gok dan Kim Sun ini termasuk menarik karena berlatar dunia K-pop dan segala keriuhannya yang ternyata menyimpan banyak emosi negatif bagi mereka yang tidak beruntung.

The Silenced (2015)

Dibintangi oleh Park Bo-young dan Uhm Ji-won, film mystery thriller garapan sutradara Lee Hae-young ini berlatar Gyeongseong di tahun 1938 ketika Jepang masih menduduki Korea. Seorang gadis rapuh bernama Ju-ran pindah ke sebuah sekolah asrama putri yang merangkap sanatorium untuk memulihkan kesehatannya. Awalnya kehidupan Ju-ran berjalan menyenangkan dengan sahabat barunya, Yeon-deok, dan program kesehatan yang diberikan sang kepala sekolah. Namun, perlahan ia menyadari beberapa murid menghilang satu per satu dan ia merasakan ada perubahan ganjil dalam tubuhnya. Bertekad untuk mencari jawaban, ia pun mulai menginvestigasi misteri di sekolah tersebut yang ternyata berkaitan dengan sebuah program rahasia dari militer Jepang.

The Wailing (2016)

Besutan tangan dingin sutradara Na Hong-jin yang karyanya sudah diakui internasional, The Wailing bercerita tentang seorang polisi yang menginvestigasi rentetan kematian dan penyakit misterius di sebuah pedesaan yang terletak di gunung. Penyelidikan tersebut melibatkan beberapa petunjuk seperti seorang pria Jepang misterius, wanita tanpa nama yang tak kalah misterius, serta sosok iblis bermata merah yang menghantui desa tersebut. Masalah semakin runyam ketika putri sang detektif ikut tertular penyakit aneh tersebut dan ia pun harus berpacu dengan waktu sebelum semua terlambat. Jalan cerita yang intens dan sinematografi yang menarik, film ini berhasil sukses secara komersial maupun kritik dan membuahkan banyak penghargaan bagi sang sutradara.

Train to Busan (2016)

Kalau kamu penggemar film Korea, besar kemungkinan kamu memang sudah menonton film yang dibintangi oleh aktor beken Gong Yoo ini. Ditayangkan perdana di festival film Cannes tahun 2016, film ini mendapat respons positif berkat alur ceritanya yang menegangkan dan membuat penonton ikut berdebar-debar. Genrenya sendiri adalah zombie outbreak, di mana seorang ayah workaholic bernama Seok-woo (Gong Yoo) dan putri kecilnya Su-an (Kim Su-an) sedang berada di kereta menuju Busan saat infeksi virus menyebar dan membuat orang menjadi zombie. Bahu-membahu dengan para penumpang kereta lain yang meliputi seorang wanita hamil dan suaminya, tim baseball remaja, dua saudara perempuan tua, pengusaha kaya yang egois, dan seorang tunawisma yang tidak stabil, ayah dan anak tersebut harus berjuang bertahan hidup dan tiba dengan selamat ke Busan.

Gonjiam: Haunted Asylum (2018)

Termasuk film horror terbaru yang keluar tahun ini, besutan Jung Bum-shik ini mengangkat genre found footage horror yang sebetulnya bukan hal yang asing, namun tetap saja terasa menakutkan, terutama karena latarnya di sebuah rumah sakit jiwa yang angker. Menyusul berita menghilangnya dua remaja secara misterius di bekas rumah sakit jiwa Gonjiam, seorang YouTuber kanal horror bernama Ha-joon justru mengajak teman-temannya untuk melakukan live broadcast di tempat tersebut dengan harapan mendapat 1 juta penonton. Seperti yang bisa kita duga, mereka pun harus berhadapan dengan arwah-arwah ganas di tempat tersebut. Walaupun cerita atau akhirnya mudah ditebak, namun tetap saja film ini seru ditonton beramai-ramai.

Advertisements

Filmstrips: Merayakan Keragaman Genre di Korea Indonesia Film Festival 2018

Perhelatan tahunan Korea Indonesia Film Festival akan digelar kembali dengan memboyong film-film beragam genre dari Korea Selatan. 

Seperti yang telah saya ceritakan di sejarah singkat film Korea, dunia perfilman Korea telah mengalami pasang-surut akibat gejolak politik, kultur, dan ekonomi dalam sejarah Negeri Ginseng tersebut. Kini, seiring dengan kepopuleran Korean Wave yang tetap belum terbendung, kehadiran film-film Korea Selatan di seluruh dunia lewat berbagai festival film maupun penayangan publik sama sekali bukan hal asing.

Di Indonesia, film-film kontemporer Korea Selatan telah memiliki pangsa pasarnya sendiri, khususnya lewat jaringan bioskop CGV Cinemas (sebelumnya dikenal dengan blitzmegaplex dan CGV blitz) yang dari awal muncul memang berusaha menawarkan pilihan yang lebih beragam di luar film Hollywood. Thanks to them, kita pun bisa turut menyaksikan film-film laris Korea Selatan seperti Train to Busan (2016) secara legal di layar lebar. Komitmen mereka untuk memperkenalkan film Korsel ke Indonesia pun dipertegas dengan menggelar Korea Indonesia Film Festival (KIFF), acara tahunan yang dibesut bersama Korean Cultural Center Indonesia (KCCI).

Untuk tahun ini, KIFF akan digelar tanggal 18 sampai 21 Oktober di empat kota, yaitu: CGV Cinemas Grand Indonesia Jakarta, Social Market Palembang, J-Walk Jogjakarta, dan Daya Grand Square Makassar. Total 20 film akan ditayangkan di festival kali ini, empat di antaranya adalah film Indonesia yang meliputi Dilan 1990, Pengabdi Setan, Si Doel the Movie, dan Susah Sinyal. Dengan harga tiket yang dibanderol hanya Rp15.000 per film, rasanya sayang untuk melewatkan festival ini begitu saja. Film Korea Selatan apa saja yang menjadi highlight di KIFF 2018 ini? Let’s see one by one.

The Negotiation (2018)

Ditunjuk menjadi film pembuka, film besutan sutradara Lee Jong-seok ini adalah crime thriller yang berfokus pada Ha Chae-yoon (Son Ye-jin), seorang negosiator Kepolisian Seoul yang harus adu kepala dengan Min Tae-koo (Hyun Bin), penyelundup senjata yang melakukan penyanderaan di mana Ha Chae-yoon hanya punya waktu 12 jam untuk menyelamatkan nyawa para sandera. Film ini sendiri baru tayang di Korea Selatan pada tanggal 19 September lalu dan mendapat respons positif baik dari Korsel maupun internasional.  As opening movie, film ini hanya akan ditayangkan tanggal 18 Oktober di CGV Grand Indonesia dan khusus untuk undangan. Tapi kabarnya, setelah KIFF, film ini akan ditayangkan untuk publik mulai tanggal 24 Oktober nanti.

Forgotten (2017)

Korea Selatan punya reputasi bagus dalam genre mystery thriller dan film garapan Jang Hang-jun ini berhasil menjadi bagian yang tak mengecewakan. Jin-seok (Kang Ha-neul) baru saja pindah rumah bersama kedua orangtua dan kakak lelakinya, Yoo-seok (Kim Mu-yeol).  Pada suatu malam, Jin-seok melihat kakaknya diculik masuk ke dalam sebuah mobil van dan setelah 19 hari tanpa kabar, kakaknya pulang ke rumah tanpa memori apapun tentang penculikan yang ia alami. Namun, Jin-seok yang mengidap hipersensitivitas merasakan ada perubahan dalam sikap kakaknya ditambah suara misterius dari ruangan yang dikunci oleh pemilik rumah sebelumnya. Sang sutradara menggarap cerita ini setelah mendengar cerita temannya yang memiliki sepupu yang menghilang dari rumah selama sebulan dan kembali dengan sikap seperti orang yang benar-benar lain. Selain itu, ia pun mengambil inspirasi dari dongeng asal Prancis, Bluebeard, tentang seorang pria kaya yang gemar membunuh istri-istrinya dalam sebuah ruang rahasia.

1987: When the Days Comes (2017)

Mengambil latar tahun 1987 dan berdasarkan peristiwa nyata yang berujung pada Gerakan Demokrasi Juni yang mengakhiri rezim militer Presiden Chun Doo-hwan di Korea Selatan. Protes mahasiswa besar-besaran yang mengubah sejarah Korsel ini dipicu oleh terungkapnya kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul setelah ditangkap dalam sebuah demonstrasi pro-demokrasi dan disiksa dalam interogasi yang kejam. Kasus yang hendak ditutupi aparat ini pun terkuak ketika sekelompok orang dengan sekuat tenaga membawanya ke permukaan. Disutradarai oleh Jang Joon-hwan, film  political thriller ini berhasil mendapat penghargaan Best Director di Cinema Asia Film Festival dan Baeksang Arts Awards (Grand Prize Film) di Asian Film Awards 2018.

The Spy Gone North (2018)

Di tahun 1993, berembus kabar Korea Utara tengah mengembangkan senjata nuklir yang menjadi momok hingga hari ini. Mantan perwira militer Korea Selatan, Park Suk-young (Hwang Jung-min) direkrut oleh National Intelligence Service (NIS) untuk menyusup ke militer Korea Utara dengan nama sandi “Black Venus”. Dalam penyelidikannya, ia menemukan kesepakatan rahasia antara pejabat tinggi Korea Utara dan Korea Selatan yang membuatnya terjebak di posisi serba salah. Terinspirasi dari kisah nyata Park Chae-seo, mata-mata Korsel yang menyusup ke fasilitas nuklir Korut, film besutan Yoon Jong-bin ini ditayangkan perdana di Cannes Film Festival 2018.

Along with the Gods (2017 & 2018)

Diangkat dari webtoon karya Joo Ho-min, film bergenre action fantasy yang disutradarai oleh Kim Yong-hwa ini terbagi menjadi dua film. Film pertama memiliki sub judul The Two Worlds yang dirilis 20 September 2017 lalu dan di bulan Februari 2018 menjadi film yang paling banyak ditonton nomor dua dalam sejarah film Korea Selatan. Sekuelnya yang dirilis Agustus 2018 lalu memiliki sub judul The Last 49 Days dan dua sekuel berikutnya direncanakan syuting tahun depan. Premis kedua film ini sendiri berpusat pada seorang pemadam kebakaran bernama Kim Ja-hong (Chae Tae-hyun) yang setelah meninggal dibawa ke alam baka oleh tiga grim reapers, Gang-lim (Ha Jung-woo), Haewonmak (Ju Ji-hoon), dan Lee Deok-choon (Kim Hyang-gi). Ketiganya menemani Kim Ja-hong yang punya waktu 49 hari di alam baka untuk menyiapkan diri menghadapi pengadilan untuk menentukan nasibnya di afterlife.

The Battleship Island (2017)

Meneruskan tradisi panjang film bertema sejarah dan patriotisme di masa pendudukan Jepang, film karya Ryoo Seung-wan ini bercerita tentang pulau kecil bernama Hashima di dekat pesisir Nagasaki, di mana 400 orang Korea menjadi tahanan kerja paksa. Seorang musisi yang ingin menyelamatkan putrinya, petarung jalanan, tentara pemberontak, dan seorang comfort woman menemukan diri mereka berada di pusaran konflik yang berujung pada usaha untuk meloloskan diri dari pulau tersebut. Dengan set yang digarap serius dan memakan biaya produksi lima kali lebih besar dari film domestik Korsel pada umumnya, film ini mendapat penghargaan Best Art Design di Blue Dragon Film Awards 2017.

Gonjiam: Haunted Asylum (2018)

Pecinta film horor tidak boleh melewatkan film besutan Jung Bum-shik yang mengusung genre found footage horror ini. Sekelompok kru kanal YouTube horor berencana melakukan live broadcast di sebuah gedung tua bekas rumah sakit jiwa demi mengejar target mendapatkan satu juta penonton. Mereka melakukan ritual pemanggilan arwah dan tentu saja kejadian-kejadian mengerikan pun siap menyambut mereka di gedung angker tersebut. Gonjiam sendiri merupakan gedung angker yang benar-benar ada di daerah Gwangju dan disebut sebagai salah satu tempat paling berhantu di Korea dan di tahun 2012 CNN Travel memasukkannya ke daftar 7 tempat paling mengerikan di dunia. Film ini pun tak lepas dari rumor ganjil yang menyelimuti proses produksinya. Hanya beberapa hari setelah film ini dirilis, salah satu aktor yaitu Lee Seung-wook yang melakukan debutnya di film ini mengumumkan ia pensiun dari dunia film dan tidak pernah hadir dalam agenda promosi film ini. Ia menyebutkan alasan personal sebagai keputusannya, namun kita sebagai pecinta film horor mungkin setengah berharap ada alasan yang lebih misterius di balik keputusan tiba-tiba tersebut. Oh ya, khusus di pemutaran CGV Grand Indonesia, film ini akan ditayangkan di layar Screen X untuk sensasi kengerian yang maksimal.

Selain 7 judul di atas, KIFF 2018 juga akan menayangkan Golden Slumber (2018) karya Noh Dong-seok yang bergenre action thriller, The Princess and The Matchmaker (2018) yang merupakan romance comedy masa kerajaan,serta The Accidental Detective 1 & 2 yang memadukan crime comedy dan thriller.

Di samping film-film komersial, kita juga bisa menyaksikan special art screening film teater dan opera A Bird Story, Dallae Story, dan Magic Flute yang ditayangkan secara gratis. Melengkapi keragaman tersebut, Korean ASEAN Animation Omnibus yang merupakan kumpulan film animasi dari Korea dan negara-negara ASEAN akan ditayangkan khusus di CGV Pacific Place Jakarta hari Jumat 19 Oktober jam 7 malam dengan gratis.

Filmstrips: Brief History of Korean Cinema

Bermula dari film-film propaganda perang hingga gemilang di festival film berkelas dunia, dunia perfilman Korea telah melewati banyak jatuh bangun yang terikat erat dan sama melelahkannya dengan sejarah bangsa itu sendiri—mulai dari pendudukan Jepang antara 1903-1945, Perang Dunia II, Perang Korea 1950-1953, dan tahun-tahun represif oleh pemerintahan militer.

Konon, catatan pertama tentang film di Korea muncul di koran Inggris The Times edisi 19 Oktober 1897 yang melaporkan: “Gambar bergerak (film) akhirnya diperkenalkan ke Joseon, sebuah negeri yang terletak di Timur Jauh. Di awal Oktober 1897, gambar bergerak ditayangkan untuk publik di Jingogae, Bukchon, di sebuah barak kecil yang dipinjam dari orang Cina pemiliknya selama tiga hari. Karya yang ditayangkan meliputi film-film pendek dan dokumenter yang diproduksi oleh Pathe Pictures dari Prancis.” Meskipun keabsahan berita tersebut akhirnya dibantah oleh peneliti Brian Yecies yang bersikeras ia tak dapat menemukannya di The Times edisi tersebut dan kini dianggap mitos, tahun-tahun berikutnya menjadi tonggak dari sejarah sinema di Korea.

Penayangan film untuk publik tercatat pada surat kabar Hwangseong sinmun tahun 1903. Di tahun yang sama, bioskop pertama Korea dengan nama Dongdaemun Motion Picture Studio pun dibuka dan disusul oleh bioskop The Dansung-sa Theatre di Seoul, empat tahun kemudian. Bioskop-bioskop pionir ini menayangkan film-film impor dari Amerika Serikat dan Eropa yang meliputi karya-karya dari Douglas Fairbanks, Fritz Lang, dan D. W. Griffith.

Adalah Uirijeok Gutu (Loyal Revenge) yang tercatat sebagai film produksi Korea pertama di tahun 1919, meskipun bentuknya adalah kino drama alias produksi teater hidup di mana para aktornya berakting di depan film yang diproyeksikan ke backdrop panggung. Evolusi berikutnya adalah film bisu di tahun 1923 (The Story of Janghwa and Hongreyon) dan film bersuara pertama pada tahun 1935 (Chunhyang-jeon).  Di antara rentang tahun tersebut, Korea mengalami apa yang disebut dengan The Golden Era of Silent Movies yang sayangnya juga menjadi bab yang hilang dalam sejarah sinema Korea karena setiap film yang diproduksi sebelum 1934 tidak satu pun yang berhasil diselamatkan dengan kondisi utuh.

dr-huyung
Hae Yeong alias Hinatsu Eitaro alias Dr. Huyung. Sutradara Korea yang aktif menggarap film-film yang disponsori Jepang sebelum akhirnya menetap di Indonesia.

Memasuki masa Perang Dunia II, Korea yang berada di bawah pendudukan Jepang didominasi oleh film-film propaganda perang yang kerap mengangkat tema asimilasi antara Jepang dan Korea. Salah satunya adalah film produksi 1941 berjudul You and I yang menggambarkan bagaimana pemuda Korea secara sukarela bergabung ke pasukan Jepang dan berisi subplot cerita pernikahan antara seorang wanita Jepang dengan pria Korea. Film tersebut digarap oleh sutradara Korea Hae Yeong yang punya hubungan erat dengan industri film Jepang dan memiliki nama Jepang “Hinatsu Eitaro”. Yang menarik, setelah merampungkan film itu, Hae pergi ke Jawa untuk membuat film-film dokumenter bagi Jepang dan setelah perang berakhir, ia mengganti namanya menjadi Dr. Huyung, menikahi wanita Indonesia, memiliki dua anak, dan memproduksi film-film Indonesia seperti Antara Bumi dan Langit (film Indonesia pertama yang menampilkan adegan ciuman), Gadis Olahraga, Kenangan Masa, dan Bunga Rumah Makan.

viva freedom
Poster film Viva Freedom! (1946).

Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan Jepang angkat kaki dari Korea, kebebasan menjadi tema yang mendominasi sinema Korea dengan contoh pentingnya adalah Viva Freedom! (1946) yang digarap oleh Choi In-gyu. Masa-masa euforia ini tak bertahan lama karena Korea diguncang oleh perang sipil antara Korea Utara dan Korea Selatan. Dalam peperangan selama tiga tahun tersebut (1950-1953), hanya 14 film yang diproduksi dan semuanya tidak ada yang selamat.

The Coachman.jpg
The Coachman (1961).

Menyusul gencatan senjata di tahun 1953, presiden Korea Selatan Syngman Rhee pun mencoba menghidupkan kembali dunia sinema Korsel dengan menghapuskan pajak dan menyediakan peralatan serta teknologi bagi para filmmakers Korsel untuk memproduksi film. Upaya itu melahirkan masa keemasan sinema Korsel baik secara kuantitas maupun kualitas. Dipermanis dengan censorship yang longgar, di masa ini para sutradara Korsel melahirkan film-film legendaris seperti The Housemaid (1960) karya Kim Ki-young dan Obaltan (1961) karya Yu Hyun-mok yang disebut sebagai dua film Korea Selatan terbaik dalam sejarah, serta The Coachman (1961) karya Kang Dae-jin yang menjadi film Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan di festival film internasional dengan memboyong penghargaan Silver Bear Jury Prize di Berlin International Film Festival tahun 1961.

yeongja.jpg
Yeong-ja’s Heydays (1975).

Sayangnya, gairah sinema Korsel kembali surut ketika Park Chung-hee menggantikan Syngman Rhee sebagai presiden tahun 1962 dan pemerintah mulai menancapkan kontrol yang lebih ketat dalam perfilman Korsel. Sepanjang dekade 1970-an, sinema Korsel berada di cengkeraman sensor Pemerintah. Film-film yang dianggap tidak patriotik, berbau komunis, dan mengandung ide-ide yang dianggap obscene dibabat habis, sampai-sampai menurut International Film Guide edisi 1981: “Tidak ada negara dengan penyensoran film yang lebih ketat dibanding Korea Selatan—kecuali mungkin Korea Utara dan negara-negara blok Komunis lainnya.” Menurunnya kualitas dan diversitas cerita membuat baik para sineas dan penikmat film di masa itu merasa lesu. Yang masih dapat menimbulkan denyut adalah film-film bergenre “hostess films” seperti Yeong-ja’s Heydays (1975) dan Winter Woman (1977) yang keduanya disutradarai oleh Kim Ho-sun. Dua film tersebut bercerita tentang para wanita malam dan terlepas dari konten seksual yang kental, Pemerintah mengizinkan film-film seperti itu dirilis dan menjadi genre populer di antara 1970-1980.

surrogate_woman
Kang Soo-yeon di film The Surrogate Woman (1986).

Masuk dekade 1980, Pemerintah mulai melonggarkan kekang mereka dan gairah membuat film perlahan bangkit. Walaupun jumlah pengunjung bioskop masih terbilang rendah, namun industri film Korsel semakin gencar meraih perhatian internasional. Di tahun 1981, film garapan Im Kwon-taek dengan judul Mandala memenangkan Grand Prix di Hawaii Film Festival dan di tahun 1987, aktris Kang Soo-yeon meraih gelar Aktris Terbaik di Venice Film Festival untuk perannya di film karya Im Kwon-taek berikutnya, The Surrogate Woman (1986). Dua tahun kemudian, ia juga menjadi Aktris Terbaik di Moscow International Film Festival lewat film Come, Come, Come Upward yang juga besutan Im Kwon-taek.

marriage-story
Marriage Story (1992).

Di penghujung 80-an, lanskap industri film Korsel pun semakin berkembang dengan masuknya film-film impor , pembukaan kantor-kantor cabang perusahaan film Amerika, serta investasi para chaebol (konglomerat) yang mendanai produksi dan distribusi film lokal. Yang pertama melakukannya adalah Samsung yang mendanai 25% biaya produksi film Marriage Story (1992) garapan Kim Ui-seok. Setelah Samsung, konglomerat lain seperti Daewoo dan Hyundai turut tergoda untuk menyisihkan uang mereka dengan berinvestasi ke film lokal. Meskipun krisis ekonomi Asia turut menghantam Korsel dan membuat para chaebol kembali fokus ke bisnis utama mereka, namun mereka telah menggemburkan lahan basah bagi masa renaissance industri film Korsel yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penonton, praktik bisnis yang sehat, dan regenerasi para sineas.

shiri
Shiri (1999).

Antusiasme rakyat Korsel, khususnya kaum muda terhadap industri perfilman terus memuncak. Di perhelatan perdana Busan International Film Festival tahun 1996 misalnya, tak hanya semua penayangan laris dibanjiri penonton, para penikmat film bahkan sampai ramai-ramai mengejar Tony Rayns, seorang kritikus film asal Inggris, demi meminta tanda tangan. Excitement tersebut pun berhasil diterjemahkan menjadi penjualan tiket film lokal yang mencetak sejarah lewat Shiri (1999), film blockbuster pertama Korsel yang meraih tiket penjualan lebih dari 2 juta tiket di Seoul saja. Kesuksesan film karya Kang Je-gyu tersebut diikuti oleh film-film lokal blockbuster lainnya seperti Joint Security Area (2000) karya Park Chan-wook, My Sassy Girl (2001) karya Kwak Jae-yong, dan Silmido (2003) karya Kang Woo-suk.

Oldboy
Oldboy (2003).

New Korean Cinema” alias film-film kontemporer Korea Selatan pun semakin terkenal dan terbuka aksesnya seiring kepopuleran Korean Wave di seluruh dunia yang masih terasa hingga saat ini. Sutradara Park Chan-wook dengan filmnya Oldboy (2003) meraih Grand Prix di Cannes 2004 dan dipuji oleh sineas-sineas terkenal dunia seperti Quentin Tarantino dan Spike Lee (yang kemudian me-remake film tersebut di tahun 2013). Tak berhenti di negaranya sendiri, Park Chan-wook kemudian membuat film berbahasa Inggris pertamanya, Stoker, di tahun 2013 yang dibintangi Mia Wasikowska dan Nicole Kidman. Di tahun yang sama, sutradara Korsel lainnya, Bong Joon-ho juga merilis film berbahasa Inggris Snowpiercer yang dibintangi Chris Evans dan Tilda Swinton. Kedua film tersebut mendapat respons positif dan kian menegaskan talenta yang dimiliki industri film Korsel.

burning1
Burning (2018).

Selain Park Chan-wook yang kian menegaskan posisinya sebagai salah satu sutradara kontemporer Korsel terbaik lewat The Handmaiden (2016) yang bersaing memperebutkan Palme d’Or di Cannes 2016 dan diganjar Best Film Not in the English Language di British Academy Film Awards 2018, nama mentereng lain di dunia sinema Korsel saat ini adalah Lee Chang-dong yang karyanya, Burning (2018) juga bersaing di Palme d’Or Cannes 2018 dan menjadi entri Korea Selatan untuk Best Foreign Language Film di Academy Awards mendatang.

On The Records: Glen Check

Hello guys, would you mind to introduce yourselves and what your role in the band?
 
Hello, I’m June One Kim, I sing and play the guitar in the band.
Hi, I’m Hyuk Jun Kang and I play the bass.
 
How do you guys met and what make you want to make music together?
 
HJ: We met in high school, in an after-class band session and we used to talk about music a lot. After graduation, we just thought that it would be fun to record our own music so we started doing it when we had some free time from college and other things.
JO: Yeah, that’s pretty much it, we never had big plans for our works since making pieces of music was always our hobbies from childhood and thought it would be for the rest of our lives.


 
Where’s the name “Glen Check” came from?
 
JO:  At the time we had to come up with a name, I had this textbook at my desk that was read  and studied in my school. I majored fashion design in an art school so all the words contained were fashion related vocabularies. Glen Check was one of them, and we just thought it sounded easy and fresh so we made the decision.
 
Musically, what kind of music/band influences your works?

 JO: All kinds. It also changes every time.
HJ: We do have our favorites, such as Pink Floyd, Michael Jackson,Prince, Led Zeppelin, Joy Division and many others, but that won’t matter much because it’s everyone’s favorites. Not only us. 

What’s the main theme/idea for your debut LP, Haute Couture

JO: Basically, the record was meant to sound like a collection of immature band tracks, since it was a fresh new beginning for us and had no money for the record. We thought it would be better for a band to have this “flowing” history from immature to mature like boy to man. However, like any young boys in the world, they don’t want to look like an immature kid. So we named it “Haute Couture.”
HJ: We recorded everything in “The Basement,” our small underground studio in Seoul, and did our best to make something listenable.  We probably will record most of the things for our next works in here as always, but at the time, we would know more about the skills and gears.

Talk about “Haute Couture”, the title of the album and most of the songs (“French Virgin Party”, “Vogue Boys And Girls”, “Bataille”, “60s Cardin”, etc) feels so French inspired… Do you guys have your own fascination to French in general?

JO: I spent my younger days in France. It was a small town near the eastern border called St.GenisPouilly. I used to speak French quite well back then, but after getting used to English and my own Korean language, everything got mixed up and now I only have bits of memories of short phrases and words, still good enough to name and title tracks. I just like the way they’re read in French and good to keep my memories. Language doesn’t affect drum sounds or guitar tones, it was just to express my memories and the feelings of my younger days, from the words itself.

What do you think about the indie scene in Korea itself? Like the rest of the world, I think its overshadowed with mainstream pop music, but tell me a bit on your personal opinion.

HJ: We feel the same way. It is overshadowed but what could we do?
JO: We don’t really know about it and don’t really care about it. We only know and care about what we do.

Can you recommend us other great indie band/musician from South Korea?

JO: Don’t know well about others.

Where’s your best gig so far?

JO: There are no best gigs you know. Every gig is like smoking a cigarette after forcing myself away from it from a long time. It feels great every time in every different way and we’re fucking excited every second.
HJ: Yeah, but it depends how the audience interacts with us also. If they’re bored somehow, we’re also bored. A gig is all about the atmosphere for us. No direct communications, but we have our sounds flowing around the crowd, along with their physical moves and shouts all around our nerves.

What’s the next plan? What do you hope for?

JO: We’re releasing a new EP with 5 whole new different tracks. We’ll probably play gigs for a while with a new set until the end of this year and probably fly to another place to make another record.

http://www.glencheck.co.kr/


On The Records: Lucite Tokki

Hello there, do you mind introducing yourself?

Hi, We are a singer-songwriter pop duo based in Seoul, Korea. We consist of a vocal, Cho Ye Jin and a guitarist, Kim Sun Young.

 How do you guys met each other? Who’s the first one came up with an idea to form a band together?

Ye Jin: We met each other in college. We both majored in applied music and during our first year we had to pair up with a partner for our exam. It was then when we decided to work together for the first time. Sun Young made a song and played the guitar while I wrote lyrics and sang the song she made. This triggered us to have formed what we are now, naturally.

Where the Lucite Tokki name is came from?

At first, we were just “Tokki” (which means rabbit in Korean) because of our characters. Ye Jin used to draw a rabbit which you can see on our website (www.lucite-tokki.com) as her mascot since high school. And we decided to use the rabbits as our characters and call ourselves “Tokki”. But while presenting our band names to our friends, they said it was too simple. So we put the word “Lucite” in front of  “Tokki”. We just like the nuance of the word; it doesn’t have a special meaning.

 What are the musical influences for Lucite Tokki? What music you guys listen to right now?

These days we love to listen to classical music and jazz of 30s, 40s. Especially Jerome Kern whom I think is the best composer out there. But basically we were influenced by pop, rock and electronic songs. We love many UK bands like Mansun or Franz Ferdinand and electronic musicians like Depeche Mode, Junior Boys, Daft Punk and many more.

Which one is easier? Singing/writing in English or Korean? Are you hoping to make more full English songs in the future?

 We were born and raised in Seoul. Thus, it is a lot easier to write in Korean but we would like to write and sing in English because English is a global language. We are hoping to spread our music all over the world and in order to do that, we have to study English harder haha

Korean Wave already became a global phenomenon, but to be honest we eager to know the other choice of Korean bands, so please tell us a bit about the indie scene in Seoul from your personal opinion. Do you think the indie bands will get some recognition from wider audience too?

Of course! They will and they have to get some more recognition from world wide music fans.

I know Korean Wave at this moment is just confined for idol groups but there are many amazing and well-prepared musicians in the Korean indie scene. I think many indie bands in Korea (including us) are well qualified and are waiting for a chance to expose their music. So we have to come up with fresh and new ideas to meet abroad listeners like you!

You’ve been making music together for quite a long time, was it hard to maintain the good relationship between you two? Do you ever fight or argue, and if yes, what you’re usually doing to settle the problems?

We always argue with each other and I think arguing is the key to maintain our relationship. It might sound like an irony but it really helps to keep us open with each other.

Where’s the best spot to catch a great music while we’re on Seoul? 

Nowadays, many places are emerging as a hot spot for art and music in Seoul. But I think there is no place like Hong-Dae for live music. You can visit here and listen to live music with a wide variety of genres.

What’s your favorite idol/group from the mainstream K-Pop and why?

I’m not sure you would be familiar with ‘Shin-Hwa‘. They are one of the first generations of K-Pop idol. They remind us of our teenager days.

What are you guys doing beside music?

Nothing! We are full time musicians. But we draw cartoons and make short video clips for our music. And sometimes we offer singing/guitar lessons.

What’s next project/hope for Lucite Tokki?

We just released our third full album in July so we are going to have many gigs for a while. And we have a plan for the next season of ‘Suitcase Theather’ which is our live performance on Youtube for international supporters.

 http://www.lucite-tokki.org/

On The Records: Trampauline, Seoul’s Shimmering Synthpop.

Trampauline is synth pop project of Cha Hyosun from Seoul, South Korea. Alongside the catchy name, it is the ethereal mix of twinkling synth and hushed vocal that capture your attention from the early notes and set her apart from any other musical acts in Korea. Definitely not a K-pop.

      Hello Hyosun, how are you? What are you doing before answering this email?

I am doing great. Just got back from Japan tour and still in the house-cleaning process… I was cleaning my desk.

So how was the Japan tour?

 It was great and there was a sort of warm-welcoming air+energy that I felt from audience and Japanese musicians. Great tour really.

      When the first time you realize you want to be a musician, and specifically making music like you make as Trampauline now?

I saw Korean punk bands playing at a place called ‘Drug’ long time ago, thought I wanted to be one of them, I turned out to be a electro pop musician though, I was not a very good screamer after all :). Trampauline was a slow process. I just wanted to make my own music and slowly the music began to take shape.

      Trampauline is such a catchy name, where the name came from?

I actually liked playing on trampolines when I was young, I liked the image of the movement (jumping on it) the word has. And I liked the sound of the word when it’s pronounced. It’s pretty+ ethereal, isn’t it?

      It is! What band/musician influences your music? 

Don’t know.. lots.. but just to be specific, I’ve always liked T-bone Walker and Bo Diddley than Stevie Ray Vaughan and Roy Buchanan (even though I really liked some of their songs). I’ve been more enthusiastic fan for guitarists who are more of rhythm-maker than solo-maker. Although I don’t make guitar-based music, I’ve had certain tastes and influences even on guitars and that influence on my music I guess. Wait… I am listening to Roy Cuchanan’s “Sweet Dreams” and it’s just a beautiful song… haha. Do I make you get confused?

      How’s the creative process for your song, is it the music first or the lyric?

It’s different everytime. Sometimes I start with a single melody or phrase, sometimes beats come first and then I add a lyric or melody on it, sometimes I start with guitar chords and song melody.

      Did you intentionally make an English based lyric for the songs? 

Yeah, it is. It works well with other elements that I make, that’s why.

      Your songs sounds so different, not only among Korean bands, but also even the rest of the bands out there… what things you try to express from your songs? How you describe your sounds?

There are feelings that I eventually deliver through music whether I intend it or not. I guess it’s sort of chill you get from not trying to be too…dramatic or passionate. I believe there are certain kind of feeling and chill in between that music can deliver. Oceanic feeling. Short breath. Certain bright craziness.

      When the best time/condition to hear your songs?

Whenever it suits you.

      From some of your videos I watch on YouTube, you’re playing from underpass to roadside, where’s your best gig so far and why?

Can’t pick one. I have done lots of good shows.

Korean Wave already became a global phenomenon, but to be honest we eager to know the other peculiar choice of Korean bands, do you think the indie bands will get some recognition from wider audience too?

As long as there are people out there wanting to find more about non-mega star but good musicians, we have many to be found out. Keep an eye on us.

      Where’s the best spot to catch a great music while we’re on Seoul? 

Lowrise at Mullae dong, Kkonttang at Etaewon are places you should try when you want to find out indie-fresh new acts. there are lots of gig places at Hongdae where many gigs are hosted.

      What are you doing beside music?

 Living an ordinary life… does that explain?

      What’s next project for you? 

I am participating as a film music director at LIG art hall program. Also working on a new single for a Pastel Music’s 10 year anniversary album.

Thanks for this interview, I love your music so much! x

Thank you and best wishes!

http://trampauline.com/