Art Talk: The Colorful Everyday Life of Maskrib

Maskrib1

“Saya orang yang suka jalan-jalan random, ke gunung, hutan, pasar, stasiun, ke mana saja, mostly tanpa rencana dan tujuan sih yang penting jalan dulu, hal itu sangat menginspirasi dan menyegarkan otak saya. Saya juga suka mengamati aktivitas orang-orang yang saya temui, orang-orang sedang pulang kantor di hari Jumat, orang yang sedang menunggu bis, dsb. Bagi saya pengalaman itu menarik saja untuk diceritakan kembali dalam bentuk visual,” ungkap Reza Dwi Setyawan, seorang ilustrator dan desainer grafis yang juga akrab disapa Maskrib tentang inspirasinya dalam berkarya. Dari observasinya akan kehidupan jalanan dan segala manusianya yang menyimpan sejuta cerita, pria kelahiran Sukoharjo 26 tahun lalu yang kini berdomisili di Boyolali tersebut menghasilkan ilustrasi pop art yang meskipun terlihat padat dan riuh oleh detail namun memiliki sense of simplicity yang tidak membuat mata kita lelah. Di samping aktif mengerjakan personal project dan commission work dalam berbagai media dan medium, tahun ini artist yang menyebut Jeremy Ville, Andy Rementer, Angela Dalinger, dan Eddie Hara sebagai influens tersebut telah merilis coloring book perdananya yang bertajuk Happy Slow Life. Yup, we know kalau coloring book for adults memang sedang hype belakangan ini sebagai kegiatan past time yang therapeutic, namun mengenal dan mengagumi karya-karya Maskrib selama ini, I’m definitely excited for this one.

Maskrib

Hai Maskrib, apa yang mendorong untuk serius di bidang ilustrasi? Basically dari kecil emang udah seneng gambar sih seperti kebanyakan orang, dan beruntungnya sampai sekarang kesenangan menggambar itu tetap terjaga dan membawa banyak feedback positif, hehe. Kalau menekuni ilustrasi secara lebih serius dimulai pada masa awal kuliah. Ada satu teman saya namanya Ardan Kukuh Prayogo yang kemudian mengajarkan saya bagaimana berilustrasi dan make a living dari ilustrasi. Dari awal mulai serius sampai pada masa sekarang kurang lebih 4 tahun saya mencoba mencari formula yang pas dan nyaman bagi saya sendiri dalam proses menggambar.

Kalau Maskrib sendiri belajar ilustrasi secara otodidak atau memang sempat belajar secara akademis? Saya pernah kuliah jurusan DKV, tapi sejujurnya secara teknis saya belajar ilustrasi secara otodidak. Dari menjalin hubungan pertemanan dengan banyak teman-teman ilustrator, saya banyak mendapat input positif dari mereka.

11899598_1011634055554975_1077766897_n

Bagaimana tercetus proyek membuat coloring book ini? Sudah lama saya ingin membuat artbook saya sendiri. Dan kebetulan beberapa bulan kemarin ada salah satu penerbit yang menawarkan saya untuk membuat sebuah coloring book dengan mengangkat konsep dan tema seperti apa yang sering saya angkat di kebanyakan ilustrasi saya yaitu ”Human Life”. Pihak penerbit memberikan kebebasan berkreasi dalam isi ilustrasinya. Jadi ini semacam coloring book semi artbook saya juga, hehe. Yang pasti coloring book ini akan jauh berbeda dari coloring book yang sudah ada.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.45.12-PM-copy

Maskrib juga pernah bikin ilustrasi di vinyl dan clothing, sejauh ini medium apa yang jadi favorit? Sebenarnya nggak ada yang benar-benar favorit sih bagi saya. Segala macam media, selama saya bisa bersenang-senang, berkreasi, menuangkan ide-ide saya dan menikmati setiap proses pembuatannya. Kalau saat ini saya sedang senang mengeksplor media clay, membuat figure dari ilustrasi saya dalam bentuk 3 dimensi.

Mengingat kentalnya influens street life dalam karyamu, how would you describe the Jakarta street life? Dan apa saja spot favoritmu di Jakarta? Jakarta street life di satu waktu bisa banyak sekali melihat manusia, beberapa saat kemudian bisa menghilang begitu saja. Waktu bisa terlihat sangat cepat kemudian terasa begitu lamban. Spot favorit saya di Jakarta sampai saat ini masih rooftop kantor tempat saya magang dulu di daerah Palmerah.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.48.28-PM-copy

Selain ilustrasi, apa lagi yang menjadi hobi seorang Maskrib? Kalau duduk di pinggir jalan atau di atas jembatan tanpa melakukan apa-apa, hanya mengamati orang-orang beraktivitas bisa disebut hobi, mungkin itu salah satu hobi saya selain menggambar dan jalan-jalan, hahaha.

12317792_431799760355005_303256949_n

Apa kolaborasi impianmu? Sesungguhnya sampai sekarang impian saya adalah bisa bekolaborasi dengan salah satu band/musisi yang saya suka musiknya. Membuat ilustrasi full untuk album musik mereka.

Selain coloring book, apa lagi project untuk tahun ini? Kalau untuk project komersil ilustrasi masih tetap berjalan sampai saat ini. Dan sesungguhnya setelah rilis coloring book nanti saya sudah ada rencana personal project membuat sebuah artbook visual diary saya sendiri, hahaha! Isinya akan penuh dengan curhat sehari-hari saya. Oh iya dan tentu saja semoga saya bisa lebih fokus lagi membangun art merch saya sendiri @slowboystore.

11350860_1461327187493859_109437074_n

 

Advertisements

Through The Lens: Deby Sucha

Deby Sucha

Dalam edisi Oktober 2015 NYLON Indonesia yang mengangkat tema “The It issue”, saya menulis tentang profil empat perempuan muda yang berkarya di dunia fotografi yang masih didominasi kaum pria. Salah satunya adalah Deby Sucha, fotografer kelahiran Jakarta 29 tahun yang lalu yang saat ini sedang bermukim di Jepang. Dengan mata yang jeli menangkap atmosfer raw dari street photography, Deby telah menarik banyak klien besar seperti The Body Shop dan Makarizo serta menjuarai berbagai kompetisi fotografi dari Sony, Capcom, Garuda Indonesia, dan Korea Air. Let’s get to know her better, shall we?

Deby7

Hai Deby, boleh perkenalkan sedikit tentang dirimu?

Hi! My name is Deby Sucha, born in Jakarta, Indonesia. Some called me their personal photographer. Currently based in Tokyo, Japan and working for Airbnb.com

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fotografi dan kapan pertama kalinya kamu mulai bereksperimen dengan kamera?

Simply because I loved travelling, dan kayaknya seru banget kalau apa yang aku lihat selama perjalanan bisa terus dilihat kapan aja. I am a living-in-the-present kind of person, but when I look back to the past, I’d like to immerse myself into the snap shots photographs I took. Awalnya aku suka street snap fotografi dengan kamera pocket waktu aku umur 18 tahun, kemudian aku dapat kesempatan untuk jadi asisten fotografer fashion di Jakarta yang bikin aku mau belajar lebih dalam lagi tentang fotografi.

Deby9Deby3Deby4

Deby5

Apa kamera pertama yang kamu punya?

Analog Nikon FM2.

Siapa fotografer yang paling menginspirasimu?

My all time favs Peter Lindbergh, Gavin Watsons, Philip Lorca Dicorcia.

Kalau kamera yang paling sering digunakan saat ini?

Digital: Canon EOS 6D, Film: Pentax 67 Medium Format.

How about your dream camera?

Kamera sekarang canggih-canggih banget deh udah pasti bikin be’em semua ya… Haha! Apalagi yang mirrorless dengan fitur full frame plus dukungan ISO tinggi. Tapi yang bikin penasaran itu dikit banget, and actually I have owned my dream camera, which is my medium format Pentax 67.

Deby8

What’s your educational background? Apakah kamu otodidak atau memang mempelajari fotografi secara khusus?
Graduated of Visual Communication Design , Bachelor of Art. Untuk fotografi sih belajar sendiri , dan curi-curi ilmu dari kerja sebagai asisten di lapangan. Selain itu juga hobi liatin photobook-photobook buat cari inspirasi.

Apa obyek favoritmu untuk difoto?
Street and people.

Deby2Deby1

How would you describe your own aesthetic?
Raw.

What do you think about being female photographer di dunia yang masih didominasi fotografer laki-laki ini? Do you think gender is important in this field?
Menurut aku sekarang ini udah banyak fotografer-fotografer wanita yang super talented in their field. See that gender doesn’t matter. If the camera itself would choose their own photographer , I bet most of it would say “hand me to the ladies please!” Haha.

Di zaman, semua orang bisa memotret dengan smartphone masing-masing dan aplikasi editing, do you think  conventional” photography masih relevan saat ini?
I appreciate all the photography related technologies we have right now, as I often use that as well and it’s super easy and cool! But if you want to create something big, something powerful, you won’t go with that shortcut things, right? We put at least some effort to it, and someday we get paid for the effort we have made. Kalau untuk sharing di social media , why not?

Deby10

Dari mana biasanya mencari inspirasi?
Go outside , and walk, look around. There you go.

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
The project I’m running with my friends right now.

What’s your next project?
An independent webmagazine for art, culture, street and fashion.

Advice/tips to anyone who wants to become a photographer?
First thing is to go outside, go to the public library and see other people’s artworks, go to exhibitions, and bring your camera all the time, never stop shooting.  And last but the most important thing. Show off your works to your friends, listen to their opinion.

Deby6

All photos by Deby Sucha

Instagram: @debysucha

www.debysucha.com

Through The Lens: Dikka & Vega Afidick

Boleh cerita sedikit tentang diri kalian?

Dikka seorang fotografer dan Vega adalah seorang fashion stylist. Kami berdua pasangan suami-istri yang memiliki visi dan misi sama dalam berkarya di dalam industri fashion photography sejak September 2010 lalu, tepatnya setahun setelah kami menikah.

 Apa yang membuat kalian tertarik dengan fotografi?

Bagi Dikka, fotografi sudah menjadi hidupnya. Sejak berumur 16 tahun, Dikka sudah berteman dengan kamera. Yang membuat Dikka tertarik dengan fotografi adalah dapat menangkap momen atau objek yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Membuka mata orang untuk melihat objek melalui sudut pandang kita. Vega tidak memiliki pengalaman profesional dalam fotografi, namun dalam kehidupan sehari-hari ada saja yang menarik bagi dirinya untuk menjepret satu objek, misal saat berpergian ke luar kota.

Tempat paling menarik yang pernah kalian datangi, so far?

Wah banyak sekali! Tapi salah satu tempat yang paling keren bagi kami adalah tempat di mana kami tinggal sekarang, Los Angeles. Selalu ada hal baru dan unik yang bisa dijumpai di sini, setiap hari! Ditambah dengan cuacanya yang segar.

Tempat favorit kalian di L.A?

Ada satu daerah di Los Angeles yang sering kami kunjungi, Silver Lake. Selain karena berlokasi dekat dari rumah, banyak sekali cafe-cafe seru di situ, sambil minum kopi melihat orang-orang stylish berlalu-lalang.

Apa cerita di balik foto-foto yang kalian kirim?

Banyak sekali pasar loak tempat menjual barang-barang vintage tersebar di kota ini, pilihannya banyak. Tempat favorit kita untuk berbelanja, selain lebih murah harganya dan unik-unik, barang-barang used ini juga original dengan kualitas yang bagus, pintar-pintar saja mengobrak abrik dan memilihnya. Dari furniture, pakaian, sepatu sampai benda-benda random dari berbagai era pun dijual. Biasanya diadakan sebulan sekali atau seminggu sekali.


Hampir setiap corner di L.A bisa kita jumpai street art di tembok-tembok gedung. Jauh dari kesan mengganggu keindahan kota, art on the wall ini justru memberi ciri khas bagi kota ini.

Tidak tahu tepatnya gedung apa, tapi terlihat seperti Theater. Berlokasi di downtown L.A dengan arsitektur tua yang terlihat dari sign “Los Angeles” dan detail di temboknya yang antik. Selain teater ini, banyak sekali gedung-gedung tua cantik lainnya yang dapat dijumpai di daerah ini, disebutnya Historic Buildings District.

Satu lagi salah satu gedung tua yang kita jumpai, kita tidak tahu gedung apa ini tepatnya, berada di downtown L.A juga, gedung ini selalu menarik perhatian setiap kita lewat daerah ini, kenapa? Liat saja warna hijaunya yang membuat orang menengok.

Ini dia salah satu jalan utama di Los Angeles. Setiap menyusuri Sunset Boulevard ini kita selalu merasa seperti berada di scene dalam suatu film. Seru dan menyenangkan melihat kegiatan orang-orang yang berjalan di trotoar dan toko-toko, cafe dan tempat hip lainnya di jalan ini.


Wah untuk menjepret foto yang satu ini kita harus berjuang keras mendaki bukit untuk mendapatkan foto Hollywood sign. Kita diajak oleh teman kita yang sudah lebih lama tinggal di kota ini untuk mendapatkan foto Hollywood sedekat ini. Psst.. Tidak semua orang tahu lho jalan untuk melihat Hollywood sign dari dekat.

Travel on budget? Jangan kuatir disini tersebar motel-motel vintage dengan arsitektur tahun 1950-1960an, tidak kalah dengan hotel-hotel lainnya. Motel-motel seperti ini menjadi daya tarik khusus juga bagi kita. Banyak juga orang-orang film atau orang kreatif lainnya yang shoot di motel-motel seperti ini.


Iseng-iseng saat kami cruising kota, kami menemukan kantor Sheriff, tidak ada hal khusus yang ingin disampaikan dari foto ini, hanya sign Sheriff yang berada next to bendera Amerika yang menarik untuk difoto.

Tidak seperti di New York, underground train di Los Angeles, sering disebut Metrorail, bukan menjadi transportasi utama di kota ini. Jenuh naik kendaraan mobil untuk bepergian, kebetulan kami suka explore dan coba-coba, kami naik Metrorail ini dari stasiun utama L.A, Union Station, menuju ke Hollywood. Cukup seru.


Pantai! California terkenal dengan pantainya, salah satunya Venice beach. Selalu ramai dengan orang beraktifitas, seperti bersepeda, skateboarding, banyak juga yang mencari mata pencaharian di sini, kebanyakan seniman, dari pelukis, pemusik, sampai pembuat art craft ada. Sedikit mengingatkan kita akan Kuta yang banyak menjual barang-barang craft dan lainnya. Namun bedanya, cuaca di pantai ini suka tiba-tiba berubah drastis, dari panas tau-taunya dingin dengan fog yang tebal seperti di foto  ini.

Punya tips untuk yang ingin melakukan road trip di US?

Kalau mendatangi satu kota baru, coba untuk mencari tahu tentang kota itu sebelum berangkat melalui internet. Karena banyak juga tempat-tempat lokal yang bukan tujuan turis yang menarik. Tapi tidak ada salahnya untuk mampir dan mengunjungi salah satu toko souvenir setempat dan mengabadikan momen di situ.

Sebutkan tiga lagu yang harus ada dalam road trip playlist kalian.

“Shooting Stars” dari Bag Raiders, “Penyakit Mental” dari The Secret Prostitutes dan “D’yer Mak’er” dari Led Zeppelin.

Destinasi impian saat ini?

Bali, Indonesia. Karena kangen dengan keindahan negeri sendiri.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Dikka & Vega Afidick

http://dikkavega.4ormat.com/