#30DaysofArt 7/30: Ines Katamso

Let say I hold my pinky finger up while drinking a teh tawar on the floor,” tutur gadis berdarah Indonesia-Prancis yang merupakan visual artist sekaligus surface & interior designer yang berdomisili di Bali ini. Berasal dari keluarga artistik (dad’s musician & leather tailor, mom’s painter & tattoo artist), Ines yang lahir di Jogja, 14 Mei 1990 memang bercita-cita menjadi designer atau artist sejak kecil dan berbekal passion itu, ia pun pergi ke Prancis untuk belajar art & design lalu pulang ke Indonesia, tepatnya ke Bali di mana ia sempat menjadi stylist dan designer product sembari mengerjakan personal work yang lebih ke arah ilustrasi sebelum minatnya berlabuh di seni mural dan mendirikan studionya sendiri yang bernama Atelier Ines.K. Identik dengan permainan warna vibrant dan siluet feminin, karya muralnya telah menghiasi banyak establishment di Bali, Jakarta, hingga Kuala Lumpur. “Bagi saya, it’s always a matter of composition. Sesuatu yang sangat personal, saya baru akan merasa puas pada karya saya jika pikiran, raga, dan indra saya merasakan hasilnya well-balanced secara proporsi, shades, dan garis.”

ines-katamso

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

My parents no doubts. My father was a musician and leather tailor and my mum is a great painter and tattoo artist. Since I was a kid I wanted to be a designer/artist so it was easy for me to choose my schools.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

To always evolved and to be sure that I can do better.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

I think it was 10 years ago during design school, it was a group exhibition but to be honest it wasn’t really exciting.

box-of-horizon

Apa idealismemu dalam berkarya?

Regarding my personal artworks: painting and drawings, they are a way to bring a form to the informal. Giving a line for this type of fair, a texture for this kind of sensation is my way to desecrate a feeling in order to release it.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

I am not sure if I want to find it, saya tidak ingin stuck di satu hal karena takut bosan. Tapi sebetulnya saya banyak memakai enamel, pastel oil, dan pensil warna untuk karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

I have many inspirations: Malevitch, Kandinsky, Sonia Delaunay, Rothko, Bacon, Klein, Calder, Christo, Soulage.

le-petit-prince

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

It’s my actual project, mengerjakan semua interior design untuk sebuah restoran mulai dari pattern piring, lamp shape, sampai mural. It’s a great opportunity to create a unique space where each line, colours, texture are related to my concept and aesthetics values.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai desainer/artist, merupakan hal yang sulit untuk percaya diri di era social media karena selain fakta jika internet adalah a great cultural tool, the access to this amount of pictures, information, and inspiration can bring many doubts on someone’s personality.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

There are few exhibitions here in Bali but I am not a social person, I know its selfish to say that but I prefer to paint in my atelier than going out.

Tell me about your secret skill or current obsession beside art!

Sorry beside art and design I have no other obsession or skills. Haha I feel I’m so boring right now.

kedai-kopi 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

At my office or atelier.

Project saat ini?

Coming soon one group exhibition, one design showcase, interior design for 2 restaurant, hotel and malls projects and commissioned works… And holidays soon in Japan! 

Target sebelum usia 30?

Going to Japan!

casa

Advertisements

#30DaysofArt 4/30: Ariel Victor

“Menurut saya, bukan hanya visual yang berperan penting dalam menghasikan sebuah karya. Cerita justru menjadi esensi dalam karya-karya saya, baik itu animasi ataupun ilustrasi,” ujar animator dan ilustrator lulusan Animation & Interactive Media RMIT University, Melbourne ini. Punya ibu seorang guru TK, sejak kecil pria yang lahir di Semarang, 10 Januari 1992 ini telah disodori film-film Disney, buku cerita anak-anak, dan berbagai ensiklopedia yang menimbulkan hasrat untuk menggambar hal-hal favoritnya, mulai dari karakter film sampai binatang dan dinosaurus. Penuh warna pastel yang vibrant dengan cerita yang memikat, final project animasi 2D karyanya yang berjudul Me & Them sukses meraih penghargaan Best Australian Student Film di Melbourne International Animation Festival (MIAF) dan membuahkan proyek seru lainnya, mulai dari kompilasi animasi indie dalam rangka mempromosikan breast cancer awareness hingga animasi pendek sebagai salah satu Christmas E-card untuk Hallmark.

arielvictor-profile

Bagaimana masa kecilmu mempengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahirnya di Semarang, terus sempat pindah ke Salatiga, Tomohon, sebelum akhirnya menetap di Jakarta pas umur 10 tahun. Dari kecil sih orang tua selalu mendukung saya dalam berkreativitas, especially my mom who’s a kindergarten teacher.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Kebanyakan nonton film Disney, lama-lama jadi obsesi untuk bikin film animasi sendiri.

 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan style favoritmu?

Tentunya banyak trial and error dilewati. Dari mencoba dan “mencuri” berbagai gaya dari seniman, ilustrator, dan animator favorit saya, eventually and naturally I get to the point where I am comfortable with the way I draw.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Henri Mattise. Warna-warni cut-outs beliau selalu memberikan kesan tersendiri untuk saya. Di dunia animasi, hands down to Hayao Miyazaki dan segala imajinasinya! Selain itu saya juga sangat suka karya dari seniman independen yang saya follow di media sosial seperti Lisk Feng, Dadu Shin, Alex Grigg, dan Charles Huettner.

finding-snakes

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya orangnya tergolong perfeksionis, jadi sering banget terobsesi dengan warna, komposisi, bentuk, dan keteraturan obyek-obyek dalam gambar saya.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Graduation Show dari RMIT University, Melbourne. Waktu itu final project 2D Animasi saya yang berjudul Me & Them ditayangkan ke publik pertama kali. It felt really good to finally finish and share my hardwork, it took 6 months to make! Acaranya juga spesial banget karena kita sendiri yang organize semuanya, it was a blast!

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Di satu sisi, terkadang disodorin karya-karya keren dari berbagai artist setiap harinya bisa jadi stress tersendiri yang nggak jarang membuat saya minder. Di sisi lain, media sosial sangat membantu mendapatkan koneksi dan juga menjadi wadah untuk membagikan karya saya. But it’s all good. It’s about finding balance between the two.

Bakat rahasia di luar seni?

I can probably mouth along to every episodes of Friends, is that a skill? Hahaha. I am usually easily obsessed with TV series, which can be super distracting. I also like to binge watch a lot of cartoons, still.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Coffee shops di sekitar Jakarta aja, kalau memang lagi nggak banyak deadline.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya melihat banyak sekali event dan pameran yang didedikasikansebagai wadah bagi seniman lokal di Jakarta. Senang sekali tentunya melihat semuanya ini dalam sebuah profesi yang kadang bisa dibilang “lonely”. Belum lagi di kota besar yang selalu sibuk seperti Jakarta ini, nggak gampang untuk connect atau bahkan hangout aja, jadi banyaknya kesempatan untuk bisa mengapresiasi karya satu sama lain tentunya positif banget!

 

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Kampanye Crowdfunding bareng Kopi Keliling lewat wujudkan.com untuk membuat pilot episode dari Traveling Richie (that will hopefully become a webseries in the future) baru selesai bulan lalu. Jadi sekarang sedang dalam tahap produksi. Selain itu saya sedang brainstorming untuk membuat film pendek yang selanjutnya juga.

Target sebelum usia 30?

Wah banyak banget, mau buat film animasi pendek lebih banyak lagi pastinya. Film animasi panjang juga, fingers crossed! I really want to make picture books too! Also getting to experience making works on different countries as well!

the-chosen-generation

#30DaysofArt 2/30: Antonio S. Sinaga

Sebagai anak campuran Batak dan Jawa yang besar di Jawa Timur, visual artist kelahiran 24 September 1988 yang akrab dipanggil Nino ini merasa bahwa dibesarkan dalam agama minoritas yang dikelilingi oleh agama mayoritas mampu memberi banyak sudut pandang lain tentang hubungan agama & sosial yang hampir selalu menjadi tema dalam karyanya. “Kebanyakan dari karya saya sih muncul dari masalah sosial & religi yang saya rasakan dan amati sendiri dan nggak tau mau dilampiasin ke mana, jadi aja bikin karya. Kalau saya jago ngomong mungkin saya jadi motivational speaker, haha!” tukas sang alumni ITB yang kini bermukim di Bandung tersebut. Walaupun mendapat gelar sarjananya dari jurusan seni keramik, Nino lebih sering memakai teknik fotografi dan cetak dalam pembuatan karyanya yang menampilkan ikon-ikon religi yang dibenturkan dengan hal duniawi sebagai kritik sosial yang surreal.

 

antonio-s-sinaga-pp
Antonio S. Sinaga

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Kebetulan dari kecil di rumah memang banyak pajangan (dulu taunya itu pajangan doang), dari tapestry, lukisan tradisional, sampai pajangan dengan unsur agama. Jadi bisa dibilang saya tumbuh di rumah yang cukup banyak ‘benda seni’ -nya. Tapi kalau yang bikin tertarik urusan gambar menggambar sih sepertinya ya komik.

 

Apa idealismemu dalam berkarya?

Haha, nggak tau. Kata idealisme di sini rada berat, euy. Kalau buat saya, berkarya itu harus menyenangkan dan memuaskan diri sendiri. Kalau bisa sekalian menyenangkan dan memuaskan orang lain ya bagus, kalau nggak ya nggak apa-apa, toh diri sendiri udah senang kan.

allegory-of-the-tower1
Allegory of the Tower (2016)

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Wah, sejujurnya sampai sekarang saya malah belum bisa bilang mana medium & style favorit saya, soalnya medium & style yang saya pakai dalam berkarya masih berubah-ubah, tergantung dari kecocokan visual dengan konsep dari karya yang sedang saya buat.

 

Masih ingat ekshibisi pertamamu? Kalau iya, tolong ceritakan.

Pameran pertama saya itu pameran akademis, isinya cuma tugas-tugas akademis (yang pasti saya udah lupa), kalau pameran yang saya rasa merupakan langkah pertama saya di dunia seni sih Soemardja Award kayanya. Itu pameran hasil karya Tugas Akhir mahasiswa seni ITB yang dipilih oleh dosen-dosen di kampus, lalu menghadirkan tim juri yang merupakan profesional di dunia seni rupa.

indulgence-iv-cat
Indulgence IV (2014), Chromogenic print mounted on alumunium composite panel.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Andres Serrano, Maurizo Cattelan, David LaChapelle, Hieronymus Bosch.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Menurut saya, ciri khas dalam karya itu orang lain yang bisa menentukan. Jadi jawabannya nggak tau.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Melihat foto bahwa karya saya dipajang di rumah orang di negara yang saya belum pernah kunjungi. Saya aja belum pernah ke sana, tapi karyanya udah. Sama beli kulkas baru sendiri.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Berhubung saya nggak aktif sebagai seniman di media sosial, jadi saya kurang tau rasanya. Tapi suka ngerasa lucu aja waktu lihat ada foto karya di social media orang lain. Mungkin saya harus cobain aktif kali ya?

archetype-judged
Archetype; Judged (2014)

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Nggak terlalu merhatiin euy, saya kuper sih.

Punya secret skill atau obsesi di luar seni?

Annoying other people masuk secret skill nggak? Lifetime obsession sih dapet gelar Sir.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Studio, soalnya di luar macet dan ramai kalau weekend.

Target sebelum usia 30?

Solo exhibition di luar negeri kali ya? Kalau sekarang lagi pengen bikin art book, terus pameran tunggal keliling. Moga-moga jadi ya tahun ini.

the-infidel-ms-l-cat
The Infidel Ms. L I Altered (2015), Photolithograph on uncoated paper.

#30DaysofArt 1/30: Ahdiyat Nur Hartarta

 Preambule: 

Pada edisi November 2016 NYLON Indonesia yang mengangkat tema art, saya menulis profil 30 orang seniman lokal yang berumur di bawah 30 tahun sebagai artikel feature utamanya. Sebuah keputusan yang sebenarnya ada nilai personal bagi saya. Bulan sebelumnya saya menginjak usia 30 tahun, dan walaupun yang namanya mid-life crisis sebenarnya sudah saya rasakan dari 25 tahun, tetap saja ketika angka 3 resmi menempel, ada semacam kecemasan tentang hidup dan apa saja hal yang telah saya jalani. Berangkat dari situ saya pun tergelitik mengangkat angka 30 sebagai tema artikel ini sekaligus berupaya menelisik sedikit bagaimana para seniman ini memandang usia 30 tahun tersebut. Di hari pertama 2017, saya pun memutuskan untuk menaikkan satu profil seniman setiap hari selama 30 hari yang dirangkum dalam tagar #30DaysofArt ini. 

adit

Ahdiyat Nur Hartarta

Biasa dipanggil Adit, visual artist & art director kelahiran Sleman, 2 Maret 1990 ini tumbuh di keluarga seniman. Kakek dan neneknya adalah perupa, sementara sang ibu adalah fashion designer sehingga berkecimpung di dunia seni adalah cita-citanya sejak dini. “Ibu selalu ‘memaksa’ saya untuk selalu menggambar, setiap hari, di mana saja, sejak saya berumur 3 tahun. Namun, ayah lah yang senantiasa mengajari saya menggambar sejak kecil,” ungkap pria lulusan FSRD ITB ini. Dikenal dengan lukisan realis hitam-putih bermedium charcoal di atas kanvas, karya-karya pria yang kini juga berkarier di dunia periklanan di Jakarta ini sarat akan isu cultural, sosial, dan ideologi yang tak jarang disisipi dengan catatan kaki dari riset yang ia lakukan saat berkarya.

echo-from-purdah-3echo-from-purdah-2echo-from-purdah-1

Apa yang mendorongmu berkarya?

Keinginan untuk didengar, mencurahkan kegelisahan, dan keluar dari zona nyaman. Dengan berkarya seni, apapun bentuknya, kita bisa mengekspresikan diri kita seegois dan sebebas mungkin.

Masih ingat karya pertamamu?

Dulu saya ingat ketika SD, karya saya pernah dipamerkan di lorong sekolah bersama karya anak-anak lainnya. Kalau tidak salah karya itu berupa gambar T-rex. Ketika kecil saya pernah sempat tergila-gila dengan Jurassic Park, sehingga hampir seluruh gambar saya bercerita tentang kehidupan dinosaurus.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika kuliah dulu, salah seorang dosen saya (Tisna Sanjaya) yang juga seorang seniman grafis dan art performer terkesan melihat aliran gambar saya yang ekspresionis. Beliau lalu menghadiahkan saya sebuah charcoal dan sejak saat itu saya banyak berlatih menggunakan medium tersebut hingga akhirnya jatuh hati pada teknik drawing realis yang sulit dan menantang untuk dikerjakan.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Saya sangat suka karya-karya Mella Jarsma, Jompet Kuswidananto, dan Shirin Neshat. Mereka adalah seniman yang konsisten mengeksplorasi identitas manusia terutama tubuh yang bersinggungan dengan gender, budaya, politik, hingga agama. Gagasan-gagasan mereka sedikit banyak telah mempengaruhi karya saya.

 welcome-to-2

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya selalu hitam putih dan realis, yang bertujuan membuat audiens lebih spesifik dalam melihat bentuk, merasakan emosi, dan fokus pada gagasan di balik karya yang saya buat.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pencapaian tertinggi saya adalah ketika karya yang saya buat banyak memunculkan interpretasi yang berbeda-beda dan diskusi setelahnya. Jadi tidak hanya berhenti pada apresiasi visual dan teknis, tapi juga pada gagasan di baliknya.

Bagimu, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Social media is the new digital gallery. Social media merupakan platform yang memudahkan saya terhubung dengan audiens, penikmat seni, sesama seniman, hingga kolektor.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Sudah kurang lebih hampir 2 tahun saya tinggal di Jakarta. Namun hanya sedikit pameran seni yang saya kunjungi dalam kurun waktu tersebut. Entah mengapa saya lebih suka atsmosfer berkesenian di Yogya ataupun Bandung yang lebih hangat. Suasana pamerannya pun lebih membumi, bersahabat, dan semua orang saling kenal saling sapa. Tak sedikit yang melanjutkan dengan diskusi ringan setelah pembukaan sebuah pameran. Art scene di Jakarta terlalu dingin menurut saya, cuma buat kolektor dan sosialita.

welcome-to-3

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya tukang tidur yang sangat andal, bisa curi-curi tidur kapan saja dan di mana saja, skill yang cocok bagi pekerja kreatif yang selalu diburu waktu dan deadline.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bioskop atau tempat makan, atau bioskop saja, karena saya suka makan sambil nonton.

Project yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Saat ini saya sedang rehat dari dunia seni rupa dulu, karena sedang asyik menjajal dunia periklanan. Namun untuk proyek jangka panjang saya sedang merancang pameran yang saya dedikasikan untuk kakek dan nenek saya. Semoga dalam waktu 1 hingga 2 tahun lagi keinginan saya tersebut dapat terwujud.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal!

welcome-to-1

Art Talk: The Psychic Trip of Kendra Ahimsa

kendra

Jika kamu termasuk orang yang dengan jeli memperhatikan poster di gigs Jakarta, khususnya yang digelar oleh Studiorama, besar kemungkinan kamu telah terbiasa melihat karya Kendra Ahimsa, seorang ilustrator/desainer grafis yang sentuhan ajaibnya bisa kamu nikmati dalam bentuk poster art maupun visual art bagi band-band seperti Polka Wars dan Marsh Kids untuk menyebut segelintir proyeknya. Sejak kecil, pria kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1989ini mengaku memiliki imajinasi aktif serta ide-ide random yang menjadi trigger baginya untuk menggambar, namun baru ketika pertengahan SMA ia mulai serius menekuni dunia art, salah satunya dengan aktif di MySpace dan DeviantArt dengan nickname Ardneks yang menjadi turning point tersendiri baginya. Dengan influens penuh detail dari karya-karya Hieronymus Bosch, Mati Klarwein, dan Henry Darger, psychedelic dan retrofuturisme mungkin menjadi hal yang pertama terlintas saat kamu melihat karya visual Kendra, namun tak bisa dipungkiri jika musik turut menjadi bagian integral dalam proses kreasi gitaris Crayola Eyes tersebut.

Studiorama

Hi Kendra, apa kabar? Boleh perkenalkan diri sedikit?

 Halo, saya Kendra Ahimsa, kabar baik. Saya hanya salah satu ilustrator/desainer grafis yang mencoba peruntungan di dunia nyata. Kegiatan sehari-hari sekarang banyak menggambar, menonton film, dan memasak.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada art? Dan siapa saja yang menginfluens?

Kalau ada yang bisa saya ingat sejak kecil itu saya selalu curious dan selalu mikirin hal-hal random. Random misalnya kaya gimana menurut saya besar ukuran setiap binatang itu sudah sebagai mestinya diciptakan, kebayang nggak sih kalau gajah itu seukuran semut dan mereka baris di meja makan ngerubungin kue, atau nyamuk sebesar kucing terbang berkeliaran, bukan hanya aneh, itu bakal mengerikan. Nah itu gimana saya mulai menggambar, semacam outlet buat memvisualisasikan pikiran-pikiran random saya. Tapi baru mid-SMA saya mulai terekspos dengan kultur art, itu sekitar tahun 2006-2007-an, di mana saya mulai suka fotografi, pergi ke pameran seni, museum, digging buku-buku visual arts, ekstensif nonton film, jatuh cinta sama cover art dari album-album vinyl, perangko vintage, poster art, graphic design, tahun-tahun di mana saya mulai aktif di Myspace dan Deviantart. Di sana saya ketemu orang-orang ajaib yang nggak hanya jadi teman dunia nyata sampai sekarang, tapi juga berperan sangat penting untuk kancah saya sebagai individu kreatif. Kita berdiskusi, bertukar influens, bikin proyek bareng. Di tahun-tahun itu juga turning point saya, di tengah itu semua saya menemukan kenyamanan tersendiri. Alhasil, saya ikutin passion saya dan ambil jalur kreatif.

Wah kalau soal influens banyak sekali, belakangan ini saya sangat terinfluens dengan south beach art deco, memphis design style, retrofuturism dan cover-cover LP rilisan Jepang. Saya sangat suka komposisi yang mendetail dan bercerita seperti karya-karya Hieronymus Bosch, Mati Klarwein, dan Henry Darger.

Ada cerita khusus di balik nickname ardneks?

Waktu itu saya lagi membuat akun Deviantart, namanya juga anak bocah mau gampangnya, ya nama saya aja dibalik. Kebetulan nickname ardnek sudah ada yang pakai jadi saya tambahkan “s” aja di belakang, eh stuck sampai sekarang.

Kamla

Masih ingat artwork pertama yang kamu buat?

Lupa, soalnya banyak artwork iseng-iseng. Kalau artwork serius mungkin proyek Kamala, itu proyek ilustrasi saya dari tahun 2010-2012. Saya ingat awalnya cuma iseng pingin gambar gara-gara habis baca buku Be Here Now-nya Ram Dass, tapi belum tahu mau gambar apa. Saya turun ke ruang keluarga ternyata lagi pada nonton American Idol di TV. Saya nggak terlalu peduli sih sama American Idol, tapi saat itu kebetulan yang sedang tampil seorang kontestan perempuan dengan paras unik sedang main gitar akustik vintage sambil menyanyikan “Lullaby of Birdland” versi Ella Fitzgerald yang merupakan salah satu lagu favorit saya. Terinspirasi deh, akhirnya saya buat ilustrasi yang berjudul “Feathers”. Saya kirim ke dia lewat Facebook dan akhirnya ngobrol panjang, ternyata dia punya band indie bernama Varlet dan ilustrasi saya akhirnya jadi cover EP mereka yang bertitel I Win!.

Banyak yang bilang karyamu sangat psikedelik dan trippy, tapi bagaimana kamu mendeskripsikan estetikamu sendiri?

Mungkin referensial, semacam self-portrait yang agak kompleks. Psychedelic is all about experiencing things atau istilahnya trip, dan itu bukan berarti harus dikoneksikan ke drugs, trigger-nya bisa muncul dari mana saja, musik, film, apapun. Saya senang ilustrasi yang bercerita, jadi ilustrasi-ilustrasi saya itu antara hal-hal random yang saya pikirkan atau hal-hal yang pernah saya alami. Saya pernah lagi menyeduh secangkir kopi hitam, saat saya aduk muncul buih-buih di tengah hitamnya kopi, dan hal itu secara random mengingatkan saya akan galaksi milky way, yang akhirnya saya malah jadi memikirkan arti kehidupan. Sangat nonsensikal. Tapi beberapa tahun kemudian saya menonton film berjudul 2 ou 3 choses que je sais d’elle karya Jean-Luc Godard dan di film itu ada scene yang hampir persis sama dengan yang pernah saya alami, di mana sang laki-laki mempertanyakan arti kehidupan dalam secangkir kopi. Cerita ini menjadi inspirasi ilustrasi saya yang berjudul “Moonage Oddity”, di mana ada seorang gadis fanatik David Bowie yang menemukan arti kehidupan di semangkuk sereal.

Skala besarnya sih seperti ingin menciptakan semacam dunia saya sendiri. Dunia yang tidak terbatas perbedaan-perbedaan, malah membaurkan. Seorang bandit thuggee dari India dan seekor godzilla mendengarkan The Beach Boys di pinggir pantai sambil minum sangria, kenapa tidak? Itulah kelebihan dari ilustrasi, imajinasi yang tak terbatas.

Kalau soal estetika, itu rangkuman dari referensi-referensi visual yang saya sukai.

Kalau kamu sendiri sebetulnya memang belajar art secara akademis atau otodidak?

Partially. Kuliah ambil desain grafis saya belajar banyak tentang penggunaan software, color theory, typografi, percetakan. Di sana saya belajar disiplin yang dibutuhkan dalam melakukan seni secara profesional. Tapi kalau gambar saya belajar sendiri, dari sebelum kuliah sih juga udah suka gambar. Apalagi jaman sekarang, mau belajar apa saja tinggal cari di internet. Tutorial bikin apapun ada pasti kalau dicari, mau belajar sejarah seni juga perpustakaan internet jauh lebih lengkap. Jadi kalau dulu ‘edukasi itu sangat penting, tapi kok mahal?’, sekarang ya itu sudah bukan alasan lagi, cukup rutin ke warnet atau berlangganan internet lalu research sendiri saja.

Polka Wars

Sebagai seorang visual artist yang juga musisi, bagaimana kamu melihat korelasi antara musik dan seni?

Keduanya  berinteraktif, bisa berupa stimulan seperti kasus saya, atau kalau yang lebih konkret misalnya identitas visual dari sebuah band (cover album, video klip, etc). Sebuah band sebaiknya memiliki identitas visual yang khas, nah di situlah peran seorang seniman visual untuk menyampaikan maksud dari musik band tersebut ke pendengar, semacam mengantar setting suasana lah.  Sama juga kalau kebalikan kaya misalnya scoring film. Tapi di balik keinteraktifan itu, keduanya harus bisa dinikmati masing-masing secara tunggal. Saya pernah memberikan contoh kasus “Dark Side of Oz”, di mana kita memainkan film Wizard of Oz yang di-mute dan album Dark Side of the Moon dari Pink Floyd secara bersamaan. Itu hal yang sangat fenomenal, padahal kedua dari karya tersebut sudah sempurna dinikmati masing-masing.

Medium favorit untuk berkarya sejauh ini? Ada nggak medium lain yang sedang ingin dieksplor?

Pensil dan kertas. Sudah lama sih ingin serius ngelukis, tapi mungkin belom terpanggil.

Sejauh ini project apa yang paling memorable?

Semua proyek bagi saya memorable, karena setiap proyek men-trigger memori masing-masing yang spesifik.

Apa yang menjadi obsesimu saat ini?

Memphis design style, foto-foto dari katalog tahun 1970-an, dan penghapus merek Pentel yang berwarna pink dengan dua burung flamingo pink di packaging-nya, saya suka sekali desain produknya.

Apa proyek selanjutnya?

Fokus menyelesaikan proyek-proyek personal yang tertunda. Saya gampang sekali terdistraksi, jadi banyak gambar-gambar yang setengah jadi.

Peregrine

Kendra’s Top 5 Favorite Cover Art:

Bitches_brew

Bitches Brew – Miles Davis

Dua kata: Mati Klarwein. Salah satu cover yang membuat saya jatuh cinta dengan cover album.

Rolling_Stones_-_Their_Satanic_Majesties_Request_-_1967_Decca_Album_cover

Their Satanic Majesties Request – The Rolling Stones

Jawaban dari album The Beatles, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club. Band yang menurut saya lebih bagus. Foto lentikular tiga dimensi yang kalau dilihat dari angle tertentu menghadap satu sama lain kecuali Mick Jagger yang di posisi tengah, lalu dikelilingi frame biru-putih.

Pink_Floyd-Animals-Frontal

Animals – Pink Floyd

Landscape gedung power station di mana ada detail seekor babi yang sedang terbang, dan istimewanya didesain oleh Roger Waters sendiri. Sarat akan kritik sosial, tapi sangat subtle.

The-Jacks-Vacant-World-478572

Vacant World – Jacks

Album dari band Jepang yang dirilis tahun 1968. Saya suka foto band yang berkonsep, dan di cover album ini komposisinya pas sekali.

hollow me

Hollow Me/Beautiful – Yura Yura Teikoku

Shintaro Sakamoto selalu mendesain sendiri visual untuk semua proyek musiknya, dan pada album ini dia sukses dengan desain simpel namun sangat mengena. Dari konsep, warna, komposisi. Padahal cuma ilustrasi pipa-pipa biru di atas warna pink, jenius.

studiorama-4tee1_800

www.cargocollective.com/ardneks

 instagram.com/ardneks

   soundcloud.com/ardneks

Through The Lens: Amanda Kusai

Amanda Kusai

Among of countless Instagram feeds laden with VSCO Cam and the over-stylized pictures, there’s always some users with their own distinct charms that makes us instantly hit the follow button, endlessly scrolling, and spending a nice few minutes to like every single photos in our screen. Surabaya born and Jakarta based Amanda Kusai is one of them. This young visual artist’s Instagram feeds is nothing but visual feast for the eyes with her signature sense of clean simplicity, subtle twist, irony, and a touch of plants here and there. Recently, she was participating on special project with hashtag #GeographyofYouth where she interviewing and taking photos of the millennial kids.

Works1

 Hi Amanda, how are you? Where are you right now and what were you doing before answering this email?

Hello! I am better than ever, thank you! Right now I’m sitting in my new empty room that’s been mistakenly painted purple and pink instead of white. Before this color tragedy I was underwater swimming like a human dolphin with all the other exotic fishes and saw the most wonderful array of colors reflected and refracted from the corals and sunlight, but then I woke up.

Could you tell me a bit of yourself and your occupation?

In short, people know me by Amanda Kusai instead of Amanda Sutiono. Kusai was a name of a pink swirly poo looking toy I liked and was given, not long after, I retrieved the name thanks to a lovely bunch of people I call my best friends. Well at least it’s a pretty catchy name (I once burst out laughing when a company I applied work for, addressed me as Kusai when I clearly wrote my formal name on my CV and cover letter). I moved quite a lot in the 20 or so years that I’ve lived it’s always exciting but I dream to settle down one day. I am self employed with my best buddy Axel Oswith, we partnered up to run a creative culture hub called The Taable, specializing in art direction + photography, we’ve only just started less than a year ago so wish us luck!

Amanda_Kusai_Instagram_15
What attracted you to photography?

To be completely honest I don’t really classify myself as being too serious, I believe it’s important to be flexible but stubborn in what you believe in. I grew up getting used to photography as a medium to express, explore and to document like a visual diary, and photography has been one of the tool to realize these ideas into actual visual forms that I can share with others to enjoy. Throughout high school I took business and art as my majors and now I already graduated.

What kind of camera you usually use? 

I like going light so I just use my iPhone it does the job simply and seamlessly, unless of course it’s for work I use a full-frame DSLR so that I can have more control over post-production. Leisurely, I use my film cameras, the canon ae1 and rolleiflex.

Amanda_Kusai_Instagram_09
Could you tell me about this #geographyofyouth project?

Geography of youth is an art project (founded by Alan and Morrigan) exploring the millennial generation and how we can relate to each other as youths around the world. I actually have no idea why they pick me but one day I got an email request to be one of the contributors for this project, I’m just grateful for this chance to contribute along with other photographers from Kenya, England, South Korea and Turkey (I have not personally met them). I am also especially grateful that my friend Axel Oswith is supporting me with this project.

Is there any certain quality you looking for from the subject of your photos?

Quirkiness and personality.

Works2

What does its mean for yourself to be the part of the millennial?

I believe being a part of the millennial generation is a step of transition from old customs to new; we are the generation that believes in no limitation to our dreams in search for the best.

What else you’re doing beside photography?

Surviving life in general and helping my mother with her floral business.

Next or other projects?

Planning to formally launch our company: The Taable by the end of this year, and perhaps a visual project that has something to do with moving images.

Amanda_Kusai_Instagram_21Follow her on Instagram: @amandakusai