On The Records: Gentle Bones

Di umur yang baru menginjak 22 tahun, singer-songwriter Joel Tan yang bermusik dengan nama alias Gentle Bones telah meraih banyak pencapaian yang mengundang decak kagum, terutama dari negara asalnya, Singapura. Pertama kali muncul di usia 16 tahun dengan mengunggah lagu cover di kanal YouTube miliknya, Joel dengan cepat menarik perhatian publik dan tampil di berbagai festival musik besar di Singapura, termasuk SEA Games 2014, tahun yang sama ketika ia merilis self-titled debut EP dengan single balada akustik seperti “Until We Die”, “Save Me”, dan “Elusive” yang merajai iTunes chart dan membuatnya menjadi artis lokal pertama yang dikontrak oleh Universal Music Singapura.

Seiring kepopuleran yang terus melambung, tawaran tampil di luar Singapura pun terus berdatangan, termasuk dari Indonesia pada bulan September lalu . Sayangnya, pengalamannya tampil di Indonesia yang menjadi tur luar negeri pertamanya membuahkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Bersama dengan singer-songwriter asal Amerika Kina Grannis, 12 musisi dan kru lainnya, Joel tersangkut masalah dengan pihak Imigrasi Indonesia karena kesalahan pihak promotor yang gagal mendapatkan izin tampil. Paspor mereka ditahan dan mereka tidak boleh meninggalkan Jakarta selama 99 hari, membuatnya terpaksa membatalkan konser regional di Hong Kong, Kuala Lumpur, Manila, dan melewatkan satu semester kuliahnya di sekolah bisnis Nanyang Technological University. “It definitely did not leave a sour note and I’d love to come back again!” akunya tentang pengalaman buruk itu.

            Walaupun kejadian itu bisa dibilang menghambat kariernya yang tengah melaju kencang, namun sekembalinya ke Singapura, he is even stronger than before. Dia merilis album mini kedua dengan judul Geniuses and Thieves yang disusul oleh konser solo perdananya selama dua malam di Esplanade Concert Hall pada tanggal 10 & 11 Juni lalu. Tiket sebanyak 1.500 untuk hari pertama show habis terjual dalam waktu kurang 10 hari. Menambahkan influens musik electronic dan R&B yang lebih kental, album dengan single “Run Tell Daddy” dan “Geniuses and Thieves” tersebut menjadikannya artis Singapura pertama yang memenangkan Super Nova Award di Hong Kong Asian-Pop Music Festival tahun ini dan membuat namanya masuk dalam daftar 30 orang di bawah usia 30 tahun yang paling berpengaruh di bidang entertainment and sport Asia versi majalah Forbes. Stay humble and true to his roots, Joel pun membisikkan perasaannya atas segala hal yang terjadi setahun terakhir ini: “Saya tidak akan mengubah apapun dan bersyukur atas semua kejadian baik maupun buruk yang telah terjadi karena berkat semua pengalaman itu lah saya bisa ada di titik ini sekarang.” Now, that’s the spirit.

gentle-bones-2

How It Started

“Saya berumur 16 tahun ketika pertama kali belajar memainkan gitar akustik dan mengumpulkan keberanian untuk bernyanyi. Ketika saya mulai sering melakukan live performance, saya menyadari jika saya ingin memainkan materi buatan saya sendiri dibanding menyanyikan lagu cover. That’s when my love for song-writing began.”

Behind The Name

“Saat menulis lagu pertama saya, saya langsung ingin mengunggahnya ketika selesai. Karena nama asli saya cukup pasaran di Singapura, saya ingin nama alias yang terdengar stand out. Saya memilih nama Gentle Bones ketika berumur 17 tahun dan menempel sampai sekarang.”

Influences

“Ed Sheeran membuat saya jatuh cinta pada seni menulis lagu dan membangun fondasi awal bagi album pertama saya. Saya selalu menyukai musik R&B dan tumbuh besar mendengarkan Michael Jackson dan Backstreet Boys. Semakin dewasa saya jatuh cinta pada hip-hop dan alternative R&B dan memutuskan untuk mengambil risiko dengan bereksperimen di ranah electronic yang terdengar berbeda dari album debut saya. Akar dari semua ini adalah pikiran saya jika menulis lagu sebetulnya bisa dilakukan tanpa terikat genre walapun banyak yang menganggap genre sebagai identitas. Hal itu yang juga mempengaruhi judul album terbaru saya.”

Record Collection

“Saya mengoleksi banyak album ketika berumur 8-14 tahun. Band seperti Good Charlotte sangat mempengaruhi saya dalam memandang musik dan mengajari saya serunya memadukan banyak genre. Ketika masih kecil, saya adalah penggemar boyband 90-an dan terobsesi pada Michael Jackson.”

Listen This

EP Geniuses and Thieves saya kerjakan selama hampir satu setengah tahun. Saya lebih percaya pada kualitas dibanding kuantitas dan menghabiskan bulan demi bulan menulis dan memilih 5 lagu terbaik yang akan dimasukkan ke album ini. Saya ingin Gentle Bones bisa bebas dari belenggu genre dan klasifikasi dan lebih bebas menulis lagu-lagu menyenangkan untuk dinikmati orang. ‘Run Tell Daddy’ adalah lagu tentang hambatan yang saya hadapi dalam perjalanan musikal saya dan saya ingin EP kedua ini menggambarkan strong return saya ke dunia musik.”

Best Gig

Solo show at Esplanade was incredibly surreal. Konser dua malam itu adalah validasi dari semua usaha yang telah saya curahkan di Gentle Bones dan mendengar penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang awalnya hanya terdengar di kamar tidur saya adalah absolute blessing.”

Favorite Past Time

“Saya terobsesi dengan segala bentuk media dan menghabiskan waktu untuk memikirkan konsep video musik saya, designing collateral for my music and songwriting and directing for others.”

Sweet Dreams

“Saya berharap bisa tampil di banyak show penting di segala penjuru dunia. Di saat yang sama saya ingin melakukan semuanya one step at a time.”

Hometown Glory

“Skena musik di Singapura sangat eklektik dan tumbuh dengan pesat, and it’s up to the rest of the region to catch on! Disco Hue, Sam Rui, Linying, Forests adalah musisi-musisi lokal favorit saya sekarang ini, do check ‘em out!”

Anticipation

“Saya sendiri belum terlalu yakin apa yang akan saya lakukan selanjutnya! Saya sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi dan yang ingin terus saya lakukan adalah berusaha agar musik saya bisa mencapai pendengar sebanyak mungkin.”

gentle-bones-3

http://gentlebones.com/

Advertisements

Triple Threats, An interview With Tim Matindas

Cerita seorang vokalis yang kemudian mencoba berakting di film mungkin terdengar sama klisenya dengan cerita ditawari main film setelah mengantar teman ikutan casting. Well, kedua cerita tersebut memang dialami oleh Timothy Jorma Matindas yang dikenal sebagai vokalis band indie rock Jakarta via Vancouver bernama Roman Foot Soldiers (RFS). Untungnya, tak ada yang klise pada karier barunya sebagai seorang aktor.

            Tim, demikian pria kelahiran Jakarta 27 tahun lalu ini akrab disapa, pertama kali berakting dalam short movie berjudul The Kiosk yang tergabung dalam omnibus Sinema Purnama tahun lalu. Tak disangka, peran pertama tersebut membuahkannya gelar Best Actor dalam kategori omnibus di Piala Maya 2012. Sebuah awal yang manis bagi pria yang mengaku belum pernah akting sama sekali. Di akhir tahun ini, Tim kembali mendapat peran utama dalam film Toilet Blues garapan Dirmawan Hatta. Dalam road movie bergenre arthouse ini, ia berperan sebagai Anggalih, seorang calon pastor muda yang bersama sahabat masa kecil dan cinta platoniknya Anjani (Shirley Anggraini) mengadakan perjalanan dengan kereta dari Jakarta menuju Jawa Tengah. Di jalan, mereka dihadapkan pada banyak perdebatan dan godaan yang akan menentukan arah hidup keduanya. Turut dibintangi oleh Tio Pakusadewo, film ini dipenuhi simbol dan alegori Katolik yang terinspirasi oleh puisi Nyanyian Angsa karya W.S Rendra dan film The Last Temptation of Chris karya Martin Scorsese. Uniknya, baik sutradara maupun Tim sendiri sebetulnya bukan beragama Katolik. “Itu yang susah, Anggalih ini pengen jadi pastor tapi gue sendiri Muslim kan. Jadi pada awalnya gue nggak terlalu ngerti, gue harus research dulu, baca, ngobrol sama beberapa pastor di Jakarta. Gue nggak pernah serelijius itu sih, tapi menarik aja karena adegan simbolisnya memang bagus untuk film ini secara visual supaya message tertentu disampaikannya nggak harus lewat dialog. Seperti adegan membasuh kaki, terus adegan yang ditampar pipi kiri dikasih pipi kanan,” ungkap Tim tentang peran ini.

            Toilet Blues pertama kali diputar di Indonesia pada ajang JiFFest bulan lalu, namun sebelumnya film ini telah lebih dulu berjaya di sirkuit festival film di luar negeri. Menjadi satu-satunya film Indonesia dari 12 film dalam kategori New Currents pada Busan International Film Festival 2013, film ini lantas menarik perhatian festival film di negara-negara lain, mulai dari Mumbai, Goa, Kamboja, hingga Göteborg International Film Festival di Swedia bulan Januari nanti. Tampil di film kelas festival seperti ini, apakah sekarang Tim telah nyaman menyandang titel aktor? “Belum kali ya, gue masih ingin lebih dikenal sebagai vokalis RFS sih dibanding aktor. Sekarang juga lagi belajar banget, aktingnya juga masih otodidak, ke sananya gue pengen lebih dalemin lagi kalau bisa,” tukas Tim yang akan ikut berperan dalam sebuah drama romantis berjudul The Right One garapan Stephen Odang yang akan dirilis pada hari Valentine nanti.

            Bisa jadi, omongan tadi adalah upayanya untuk merendah, karena jelas saat berbicara tentang film matanya membinarkan passion yang kuat pada bidang ini. “Sekarang ini waktu yang bagus untuk kinda revolution sedikit. Karena The Raid kemarin meledaknya kaya gitu, its open a lot of door. Bikin investor lebih berani dan kasih liat ke orang kalau Indonesia capable juga kok bikin film kaya gini. Sekarang mungkin karena ngeliat kaya gitu, filmmaker Indonesia udah mulai mikir ke arah situ kali ya?” ujarnya.

            Tak hanya tampil di depan kamera, saat ini Tim justru lebih serius mengasah bakatnya yang lain sebagai penulis naskah dan produser film. “Gue sekarang lagi partneran sama produser Toilet Blues kemarin, dia abis nge-produce Toilet Blues yang arthouse sekali filmnya, tahun depan kita mau masuk yang lebih komersil. Tapi komersil yang bagus. Kayanya kalau liat film Indonesia masih setengah-setengah sekarang. Kalau nggak yang artsy banget, atau yang jadinya agak norak. Dia punya dua script, gue punya satu script, tahun depan kita mau go around shopping for investors. Sekarang kita lagi bikin proposal film-film ini. Gue pengen ke depannya kerjaan utama gue lebih ke behind the scene. Producing, writing, sambil jalanin RFS at the same time, seru kayanya,” ungkap Tim sebelum mengeluarkan Macbook dan menunjukkan satu trailer dari film karyanya sendiri yang bergenre thriller suspense, which all I could say for now, its looks promising.

            Bagaimana dengan RFS sendiri? Tenang saja, band keren ini memang jarang terdengar belakangan ini, namun itu karena mereka sengaja stop terima tawaran manggung untuk fokus menyelesaikan full album mereka yang diproduseri oleh Dipha Barus. Berisi delapan lagu, saya sempat mendengarkan satu lagu tanpa judul yang akan menjadi single pertama. Terdengar elemen elektronik yang lebih kental dibanding lagu-lagu sebelumnya, membuat album baru ini akan pas diletakkan di tengah-tengah album Random Access Memories milik Daft Punk dan album terbaru Phoenix. Dalam waktu dekat, mereka juga akan membuat video klip pertama untuk album ini dengan disutradarai oleh Shadtoto Prasetio dan akan berupa short film. Baru-baru ini, Roman Foot Soldiers merilis single baru tersebut dengan tajuk “Controversy” dan akan tampil di hari kedua acara LocalFest 2014, hari Sabtu pekan ini.

            “Kalau akting di depan kamera, kalau salah bisa cut! Tapi kalau dia panggung, wah mati aja,” ujar Tim sambil tertawa saat ditanya lebih menakutkan main film atau tampil di stage. “Tapi thrill-nya sendiri lebih kalau perform with the band,” tukasnya. “Perform di depan live audience itu nggak ada yang ngalahin deh, make you feel alive. Akting sendiri gue suka prosesnya, yah kalau bisa jalanin dua-duanya kenapa nggak?” tutupnya dengan retoris.

Foto oleh Sanko Yannarotama

Influences: Kazu Makino (Blonde Redhead)

 nytimes__kazu

Imagine having a crush with Italian guy, asked him to teach you to play guitar, and the next thing you know, you’re on the band with him and his twin brother. That’s what exactly happened with Kazu Makino, 20 years ago when she’s still studying art in school. Formed in New York City, Blonde Redhead that consisted of Kazu (vocal, rhythm guitar), Simone Pace (drums/vocal) and Amedeo Pace (lead guitar), already released 8 albums since 1995 and still counting. With the initial sparks of noise rock and no-wave from their earlier records that progress to more cinematic, dreampop, shoegazy sounds on 2004 release, Misery Is a Butterfly, until today, Kazu Makino and the Pace Twins still staying strong on their first and only band any of them have ever been in. While preparing their 9th album, Kazu makes an appearance here and there with her sensible style and hypnotic vocal, including the latest collaboration with the L.A bass music producer Nosaj Thing on ethereal dance-infected song called “Eclipse/Blue”. Now, Kazu talks about some early influences that shape her music and perspective.

 What first sparked your desire to make music?

     Not exactly a spark… I was just doing it.

  What three records have had the greatest impact on you and why?

Broadcast - Tender Buttons

Broadcast – Tender Buttons, made me realize how much I love Trish’s voice.

Tame Impala - Inner Speaker
   Tame Impala – Inner Speaker, made me realize how much I love guitars.
Colleen - Everyone Alive Wants Answers
 Colleen – Everyone Alive Wants Answers, made me realize that I may love electronic music.
What was your first concert?
       A classical concert  I went to with my father.

 What was the first album you ever owned?

Exile on Main st by The Rolling Stones

 Exile on Main St by The Rolling Stones.

Did you teach yourself how to play guitar? What the first song you played?

       My bandmate tried to teach me but I still can’t play.
1 song I played was one of our early songs called “Symphony of Treble”

 What does it feel like to be onstage?

      It always feels special… it’s hard to describe. a bit like the calm before the storm. I often feel quiet even though you are about to explode.

  What is your favorite music video, movie, or documentary?

        ‘Eclipse/Blue’ by Nosaj Thing
       ‘Le Mepris’ by Jean Luc Godard
       ‘Little Otik’  strangest Czech film

   Who are your style icons?

Jane Mayle

      Jane Mayle
Isabel Marant
      Isabel Marant
Anna Selezneva
      Anna Selezneva
Romy Schneider
      Romy Schneider
 What are your favorite love songs?
    “Alter Ego” by Tame Impala
    “I Went to the Hospital” by Cass McCombs
    “Im Bann” by Pantha du Prince

 What is your favorite book?

Ada or Ardor by Nabokov

   Ada or Ardor by Nabokov

What’s your next project? Do you guys already prepare for the 9th album?

   Yes! We have started our 9th album!

  What’s your advice for girls wanting to start bands?

    Just start and figure it out later. Don’t censor yourself.

The Cool Kip, An Interview With Kip Berman from The Pains of Being Pure At Heart


Kip Berman dari The Pains of Being Pure At Heart adalah contoh anak baik-baik yang tampil keren dengan caranya sendiri.

Kip Berman, vokalis dan gitaris The Pains of Being Pure At Heart, terbiasa hidup dalam dikotomi. Saat masih sekolah dulu, ia mendengarkan Nirvana, The Exploding Hearts, Sonic Youth dan rajin mendatangi acara-acara punk namun selalu menyempatkan diri untuk belajar dan membuat PR. Kini, pemuda kurus yang dulu mengenakan celana khaki di gig punk dan menggambar simbol anarki di meja sekolahnya ada di depan saya sebagai frontman salah satu band indie-pop paling menarik saat ini. Peggy Wang (keyboardist), Alex Naidus (bassist) dan Kurt Feldman (drummer), personel lain dari band asal Brooklyn ini masih melakukan sound check, menyisakan Kip sendirian untuk menghadapi rentetan interview hari itu. Wajahnya terlihat lelah namun senyumnya langsung mengembang saat saya menghampirinya di ruang kecil di dalam Balai Sarbini, tempat yang menjadi venue penampilan pertama mereka di Indonesia. Terlepas dari hujan deras disertai petir hari itu, ia mengaku sudah menikmati segelas kopi dan beberapa donut, jadi “So far so good,” jawabnya sambil tersenyum saat saya menyapanya.

Rutinitas interview dan touring ke berbagai kota di dunia jelas bukan sesuatu yang mereka targetkan saat mulai bermain musik bersama sejak tahun 2007 lalu, Band ini terbentuk dengan spontan saat Alex dan Kip ingin merayakan pesta ulang tahun Peggy dengan tampil di sebuah gudang pabrik di Brooklyn, di mana mereka menyanyikan 5 lagu dalam durasi 10 menit saja. Dari situ mereka mengajak Kurt, teman sekamar Kip untuk mengisi posisi drummer dan mulai tampil di berbagai gig-gig kecil. Nama The Pains of Being Pure At Heart mungkin terdengar seperti nama band emo, namun pada kenyataannya band ini kerap dicap sebagai musik twee dengan referensi dari My Bloody Valentine dan band-band C86. Mereka jelas bukan yang pertama membuat kembali musik-musik bermelodi pop dengan reverb dan noise di sana-sini, namun berkat lagu-lagu seperti “Contender”, “Everything With You” dan “The Tenure Itch” yang terdapat di self-titled debut mereka dan fakta jika keempat anak ini berasal dari Amerika Serikat di mana twee adalah sesuatu yang undetected, membuat mereka mempunyai nilai lebih yang akhirnya membuat Pitchfork menobatkan mereka sebagai The Best New Music. Thanks to the internet, nama mereka kini tak hanya dikenal anak-anak hip di New York saja, tapi juga seluruh dunia.

Band yang awalnya harus menempuh perjalanan jauh ke Tallahassee hanya untuk tampil di depan penonton berjumlah lima orang di sebuah toko sandwich kini menjadi headliner untuk festival musik sekelas Coachella, SXSW, Summer Sonic dan menghabiskan banyak hari di kota-kota asing yang tak pernah didatangi sebelumnya dalam rangka tur album kedua mereka, Belong. “Apa yang saya nikmati dari tur? Hal yang paling dasar tentu saja berpergian itu sendiri,” ujar Kip, “Seperti Jakarta misalnya, ini adalah salah satu tempat di dunia yang mungkin tak bisa saya datangi jika saya mempunyai pekerjaan reguler. Saya memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang menarik di berbagai penjuru dunia yang menyukai hal-hal yang saya sukai juga lewat musik.” Lanjutnya sambil kemudian menyebutkan tiga hal yang paling ia rindukan di rumah, which are laundry, his girlfriend dan masakan ibunya.

“Saya tidak minum alkohol sebelum tampil, beberapa orang merasa lebih nyaman jika mereka minum dulu sebelum show, tapi saya ingin menampilkan sisi terbaik saya yang bisa ditunjukkan dalam setiap show. Biasanya saya hanya mondar-mandir di sekitar venue atau bermain scrabble di ponsel saya bersama personel lainnya.” Ungkapnya saat saya bertanya tentang pre-show ritual. Suatu pernyataan menarik dari vokalis yang menyanyikan banyak lirik patah hati berbau teenage angst seperti “You’re taking toffee with your vicodin, something sweet to forget about him,” di lagu “Young Adult Friction” dan baru-baru ini merilis EP berjudul Acid Reflex yang berisi 4 lagu dari album Belong yang di-remix oleh Saint Etienne, Twin Shadows, Violens dan Washed Out. “Tapi setelah show, biasanya saya pergi minum-minum bersama orang-orang yang datang ke show saya.” Lanjutnya. Well, either its beer or just milkshake, Kip adalah sesosok teman minum yang asik untuk membicarakan musik indie atau anarkisme.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Muhammad Asranur.