Writers Club: Interview With Theodora Sarah Abigail

Lahir di Jakarta, 3 April 1998, sejak kecil penulis yang akrab dipanggil Ebi ini sudah gemar menulis apa saja yang bisa ia pikirkan dan rasakan dari sekitarnya—mulai dari Pokemon, pepohonan, hingga cerita tentang putri-putri dari kerajaan asing. Melihat minatnya, sang ibu pun memberikan sebuah buku jurnal yang harus diisi olehnya setidaknya dua halaman per hari. Sempat kesal karena merasa diharuskan menulis, perlahan ia pun terbiasa dan justru menikmatinya. Kini, di tengah kesibukannya sebagai stay at home mom dan manajer untuk sebuah komunitas pendiri startup di Asia Tenggara, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis. Tulisannya bisa kamu nikmati dalam antologi puisi Warchild (2016) serta kumpulan esai personal In the Hands of a Mischievous God (2017) yang diterbitkan oleh The Comma Books.

 ebibooks

Apa yang membuatmu ingin menulis?

Selain waktu kecil diharuskan menulis dua halaman per hari, ibu juga sering mengajakku mengunjungi perpustakaan lokal dan meminjam 20 sampai 30 buku untuk aku baca. Kombinasi dari kepercayaan yang ibu berikan dan keinginan untuk mengikuti jejak para penulis yang telah menginspirasi menjadi alasan bagiku untuk menulis juga.

cantik

Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

Sebenarnya, buku pertama yang aku baca adalah Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan. Tapi bukan edisi Bahasa Indonesianya—I read the translation. Setelah membaca terjemahannya, aku sangat tersentuh dengan caranya bercerita lalu aku pun membaca versi aslinya dalam Bahasa Indonesia, karena aku yakin it must have been a hundred times more beautiful.

 

Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu?

Leila Chudori dan putrinya, Raka Ibrahim, Eka Kurniawan, Madina Malahayati, dan Goenawan Mohamad untuk alasan masing-masing. Dan kalau boleh menyebut musisi lokal, karena aku merasa banyak band punya lirik yang indah, aku akan menyebut Payung Teduh, NAIF, dan The Panturas sebagai favoritku juga.

 laut

Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

Ya ampun… Pertanyaan yang sangat, sangat sulit untuk dijawab. Bukan salah satu penulis tapi salah satu buku ya? Hmm aku akan merekomendasikan Laut Bercerita oleh Leila Chudori karena aku merasa buku ini adalah salah satu contoh terbaik dari literatur Indonesia modern yang kita punya saat ini.

 

Bagaimana kamu melihat dunia literatur di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

Dunia sastra Indonesia masih terus berkembang. Comma Books misalnya dibentuk sebagai anak Kepustakaan Populer Gramedia dengan fokus pada karya literary, dan aku berharap semakin banyak penulis muda yang terinspirasi untuk membagikan cerita mereka. Aku percaya dunia sastra Indonesia tidak akan maju kalau tidak didukung oleh sekolah. Aku berharap sekolah bisa mendorong siswanya untuk mempelajari karya-karya klasik di dunia sastra Indonesia sehingga mereka terekspos pada keindahan kata dalam karya penulis lokal. Aku pun berharap nantinya orang tidak harus selalu memburu karya sastra dari luar negeri karena mereka sudah jatuh cinta dengan karya para penulis lokal.

 

Bagaimana caramu membagi waktu antara menulis, keluarga, dan kesibukan lainnya?

Untungnya aku dapat banyak bantuan dari suami. Dia rela turun tangan dan membantu urus anak—siapin makanan, doing the laundry, and other things that others might say are supposed to be “the women’s job.” Because of this understanding and willingness to help from his end, I’m very grateful to get the time I need to work. I do my best to make the time with my family count as well. Seperti yang dibilang orang, it’s not always the amount of time that counts, but being fully engaged in the time you do have.

Di samping itu, aku juga punya jam kerja yang terbilang aneh, so I may be up until 1-2AM untuk menulis. Sebenarnya 1-2 jam per hari saja sih cukup kalau kita niatin. Lama-lama tulisannya terkumpul. I think the most important point to be made here is that we have to be able to ask for help when we need it, and to share the responsibilities, and to be fully engaged in each endeavor instead of multitasking too much.

 

Apakah sekarang kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

To tell you the truth—I’ve tried to. Tapi karena sudah sangat terbiasa membaca buku fisik, membaca buku digital terasa asing bagiku. The experience doesn’t feel the same. Tapi aku merasa keberadaan buku-buku digital juga penting karena masih sedikit sekali perpustakaan yang layak di Indonesia, jadi seharusnya kita bisa melawan masalah tersebut dan meningkatkan minat membaca dengan membuat buku digital lebih mudah diakses.

APPLE-AND-KNIFE-by-Intan-Paramaditha---cover-(drop-shadow)

 Apa buku yang baru atau sedang kamu nikmati?

Seperti banyak orang lain di Indonesia, aku baru membaca cuplikan-cuplikan dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck (Mark Manson). Aku juga menikmati Her Body and Other Parties (Carmen Maria Machado), Apple and Knife (Intan Paramaditha), dan satu lagi (last one!) adalah Commodore oleh Jacqueline Waters, buku puisi yang aku beli di Post Santa.

 

Apa rencanamu selanjutnya?

Doain ya, aku ingin menerbitkan buku baru sekitar tahun depan. Kalau mimpi jangka panjangnya, aku ingin membangun beberapa perpustakaan di Indonesia agar orang punya kesempatan untuk membaca buku dan punya mimpi yang sama seperti yang aku punya waktu kecil dulu.

Foto: Instagram @theodorasabigail

Advertisements

Writers Club: Interview With Lala Bohang

Bagi perempuan kelahiran Makassar, 9 Maret 1985 ini, menulis dan menggambar bisa dibilang berperan sebagai personal cope mechanism. “Sejak kecil saya dekat dengan dua aktivitas tersebut, basically saya tidak berubah sejak anak-anak. I am such a boring person,” akunya. Memadukan pemikiran dan perasaan personalnya ke dalam bahasa visual dan kata, Lala yang lebih dulu dikenal sebagai ilustrator telah merilis seri buku berjudul The Book of Forbidden Feelings (2016), The Book of Invisible Questions (2017), dan The Book of Questions (2018) yang menggabungkan dua hal favoritnya: syair dan ilustrasi. Mengidolakan Umar Kayam dan Marianne Katoppo, saat ini ia tengah merawat metabolisme tubuh dan berusaha menikmati hidup sambil menyemangati diri untuk melakukan eksplorasi atas teks dan gambar.

forbidden

Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

Entah kenapa Opa saya selalu membelikan buku-buku karangan penulis luar waktu kecil, seperti dongeng-dongeng klasik dan Enid Blyton. Saya ingat pertama kali baca buku penulis lokal adalah di perpustakaan sekolah saya di SD Karuna Dipa di Palu, Sulawesi Tengah judulnya Memungut Telur Itik Sambil Menyanyi karya Siti Halimah berkisah tentang satu keluarga yang memelihara itik dan ayam karena mereka yakin itik-itik yang mereka ternakkan itu akan menghasilkan uang dan memberi vitamin dan protein untuk mereka. Entah kenapa saya terkesima sekali dengan buku itu, baik dari sisi cerita dan ilustrasi yang menemani. Bahkan saya mengambilnya diam-diam dari perpustakaan (jangan dicontoh!) karena buku itu tidak dijual bebas dan saya masih menyimpannya hingga sekarang.

Bumi Manusia

Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer.

Entahlah tulisan Pram itu rasanya bukan sekadar tulisan tapi vitamin, kayak bangun gitu. Pram memiliki cara yang unik menyuntikkan sejarah dan nasionalisme ke pikiran pembacanya tidak dengan cara yang memaksakan atau metode aktivisme tapi melalui karakter. Nyai Ontosoroh, Minke, Darsam, Annelies, dan semua karakternya seakan nyata dekat dan bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Saya terlambat membaca buku ini yaitu di usia dewasa, itu mengesalkan sekali. Hal itu membuat saya berandai kalau saja kurikulum pendidikan di Indonesia membuat daftar buku yang wajib dibaca di setiap jenjang pendidikan maka Bumi Manusia (dan otomatis Tetralogi Buru) akan ada di urutan pertama karena ceritanya sangat relevan hingga sekarang dan kapan pun, baik itu kelebihan atau kekurangan orang Indonesia, nasionalisme, feodal berbalut kapitalisme, kepemimpinan, dan hal sederhana seperti membedakan baik dan benar atau mendengarkan hati nurani. The realness level of bumi manusia Indonesia dengan segala polemiknya terlalu tinggi untuk disanggah.

Bagaimana kamu melihat dunia sastra di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

Saya lebih senang menyebutnya dunia literasi, karena terasa inklusif. Literasi hari ini di Indonesia semakin beragam warnanya dan melihat hal itu menyenangkan. Cara hidup dan metode bertahan manusia terus tumbuh dan sudah sewajarnya semua lini kultur juga tumbuh. Harapannya semua akan semakin cair, antar penulis, antar pembaca dan penulis, antar genre, antar penerbit dan penulis, antar penikmat dan penghasil karya, antar manusia. Hehe.

Marie Kondo

Bicara tentang kemajuan zaman, apakah kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

Saya sempat struggling dengan kepemilikan atas benda gara-gara virus Marie Kondo. Saya sepakat dengan prinsip “benda adalah beban” tapi memang hidup ini tidak bisa berhenti membeli barang. Jadinya sekarang saya lebih menimbang dalam membeli benda termasuk buku. Tapi memang sulit. Saya membaca buku digital untuk buku-buku yang memang tidak dijual di Indonesia tapi untuk buku yang bisa didapatkan di Indonesia saya lebih memilih membeli versi cetak terutama karya penulis Indonesia.

What’s next from you?
Try to unlearning everything.

Foto: Adhytia Putra via Instagram @lalabohang

Book Club: Interview with Dea Anugrah

Menyoal masa kecil, Dea Anugrah mengaku memiliki banyak cita-cita. Mulai dari pemain sepakbola, musisi rock, anggota sirkus keliling, hingga Pokemon master. Namun, berawal dari obrolan bersama guru Bahasa Indonesia saat SMA serta melahap koleksi perpustakaan sekolah yang meliputi The Old Man and the Sea, Huck Finn, dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, pria 25 tahun asal Pangkal Pinang tersebut terpancing untuk menulis puisi, esai, dan cerpen yang berlanjut sampai hari ini. Karyanya telah tersebar di berbagai media baik cetak maupun online dan ia pun berkesempatan tampil di festival sastra sekelas Ubud Writers & Readers Festival 2013 di Bali bahkan sebelum merilis buku puisi pertamanya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya di tahun 2015 lalu. Tahun ini, setelah menuntaskan studinya di jurusan Filsafat UGM dengan tugas akhir tentang pemikiran Arthur Schopenhauer, ia pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai wartawan dan merilis Bakat Menggonggong, sebuah kumpulan 14 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 2012-2016 di mana setiap cerita menunjukkan eksplorasi gamblangnya dalam teknik bercerita yang beragam.

img_20160308_025129

Hai Dea, apa kabar? Bagaimana biasanya kamu memperkenalkan dirimu dan profesimu?

Halo, Alex. Kabarku baik. Untuk keperluan publikasi, biasanya aku mencantumkan keterangan bahwa aku menulis puisi, cerpen, dan esai dalam bahasa Indonesia dan sedikit informasi tentang buku-bukuku (Misa Arwah dan Bakat Menggonggong).

Bagaimana biasanya kamu memulai hari dan apa yang menjadi kegiatan keseharianmu belakangan ini?

Sekarang aku bekerja sebagai wartawan. Jadi, kegiatan utamaku sehari-hari, setelah bangun tidur sekitar jam 12 siang (hehe), ialah mengetik berita.

Di titik apa kamu serius menulis secara profesional?

Kalau profesional yang kamu maksud adalah sekadar mendapatkan uang dari menulis, kukira itu bukan hal yang serius, bukan hasil menimbang-nimbang sampai sesak napas selama empat harmal atau semacamnya. Aku mengirimkan tulisan-tulisan ke koran dan majalah, mereka memuatnya, lalu membayarku. Tapi kalau profesional berarti menjadikan menulis sebagai mata pencarian utama, aku belum, dan mungkin tidak bakal, menjerumuskan diriku sendiri ke dalamnya.

Seorang teman pernah bercerita bahwa bukunya cuma terjual 59 eksemplar di bulan pertama setelah diterbitkan. Sila bayangkan situasi bulan-bulan berikutnya, ketika orang yang membicarakan buku itu makin sedikit. Dan pengalaman temanku itu bukan kasus langka di Indonesia.

Boleh cerita soal Bakat Menggonggong? Berapa lama proses pembuatannya sampai selesai dan apa yang menjadi tema utama/benang merah dari kumpulan cerpen ini?

Karena berbentuk kumpulan, pembuatan Bakat Menggonggong santai sekali. Tidak seperti orang mengerjakan novel atau traktat, misalnya, yang mesti menulis secara rutin setiap hari selama berbulan-bulan atau lebih. Belasan cerita pendek dalam buku itu kutulis dalam rentang 2012-2016 dan hampir seluruhnya sudah terbit secara terpisah di pelbagai media.

Sebagaimana tertulis di sampul belakang, yang “mengikat” cerita-cerita yang bermacam-macam dalam buku itu adalah suara naratornya. Dalam hampir setiap cerita, si narator cerewet dan sinis dan mulutnya agak tercela. Selain itu ada kesamaan “semangat”, yakni penjelajahan bentuk dan teknik penyampaian cerita.

 

Siapa sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk dirimu yang sekarang?

Teman-teman dekat, para penulis yang bukunya kubaca, pacar dan bekas pacar, keluarga. Aku tidak tahu siapa yang memberikan pengaruh paling banyak.

 

Tanpa berpikir terlalu lama, tolong sebutkan satu nama penulis favoritmu yang terlintas beserta alasannya.

Ernest Hemingway. Dia penulis besar yang karyanya kubaca paling awal. Dan sampai sekarang, setiap kali membaca buku-bukunya aku merasa mendapat pelajaran baru tentang menulis dan hidup dan apa saja.

Sejauh ini apa hal yang paling disukai selama menjadi penulis?

Ketika menemukan hal-hal yang bisa kusadap dari buku-buku bagus dan ketika bertemu dan berkumpul dengan teman-teman yang pintar dan menyenangkan. Kupikir dua jenis pengalaman itulah yang paling kusukai. Kalau tidak menulis, mungkin aku tidak akan mengalami keduanya.

Percaya dengan yang namanya writer’s block? Kalau iya, bagaimana caramu mengatasinya?

Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.

Bagaimana kondisi yang ideal bagi Dea untuk menulis?

Aku mudah terganggu oleh bunyi-bunyian, terutama suara orang, wabil khusus suara anak kecil, dan bau tidak enak. Di luar itu kurasa tidak ada masalah, keadaan apa pun cocok-cocok saja buat menulis. Masalahnya, sekalipun kondisi di sekitarku ideal, menulis tidak pernah terasa mudah.

 

Apa pengaruh sosial media/internet untuk dirimu, baik secara personal maupun profesional?

Internet jelas sangat penting untuk orang-orang di negara dunia ketiga, termasuk para penulisnya. Tanpa situs-situs file sharing, misalnya, aku pasti kekurangan bahan bacaan dan tontonan. Internet membuat persebaran pengetahuan jadi berkali-kali lipat lebih murah, cepat, dan luas.

Perkara media sosial agak ruwet. Pada satu sisi ia memudahkan kita bergaul dan berjualan, tapi di sisi lain ia menimpuk kita dengan banyak sekali urusan yang kita tidak perlukan. Media sosial bisa menggiring seorang penulis untuk menulis seperti keinginan khalayak alias menjadi penyambung lidah netizen. Apakah perbedaan netizen dan gerombolan biri-biri? Kadang, suara biri-biri enak didengar dan perlu.

Menurutmu, di zaman media sosial seperti sekarang, masih perlukah seorang penulis bergantung pada toko buku/penerbit untuk menjual karyanya?

Perlu. Sejauh yang kualami, berjualan sendiri itu melelahkan sekali, terutama urusan mengirimkan buku kepada para pemesan.

Seberapa sering kamu menilai buku dari sampulnya?

Cuma sesekali dan patokan yang kupakai tidak terlalu tinggi. Selama tidak keterlaluan buruknya, aku bisa maklum. Aku lebih sering menilai buku dari nama penulis yang tertera di sampulnya, sebab yang fana adalah waktu, penulis jelek abadi. Hehe.

Banyak yang mengira dirimu perempuan based on your name. Seandainya kamu jadi perempuan untuk satu hari, apa hal pertama yang ingin kamu lakukan?

Memeriksa apakah aku tetap menyukai hal-hal yang kusukai dan tetap tidak menyukai hal-hal yang tidak kusukai. Seandainya aku jadi mengagumi SBY dan senang mendengarkan lagu “Tubuhku Otoritasku” dan membenci rokok, misalnya, kupikir aku tidak bakal tahan.

 

Selain menulis, apa lagi hal yang suka kamu lakukan?

Membaca, menonton, main videogame, dan tidur. Khusus soal tidur: tentu semua orang terbiasa tidur, tapi aku tidur seperti kacung tenis mengejar bola dan seperti rohaniwan memikirkan hari kiamat dan seperti wartawan membaca tulisannya sendiri. Dalam kata-kata lain, aku tidur seolah-olah di dunia ini tidak ada urusan yang lebih penting daripada tidur.

Jika bisa memilih satu ceritamu untuk difilmkan, cerita apa yang kamu pilih dan siapa yang akan kamu pilih untuk menyutradarainya?

Tamasya Pencegah Bunuh Diri, Alejandro Jodorowsky atau Hitoshi Matsumoto.

 

Apa satu hal yang ingin kamu pelajari/kuasai lebih dalam?

Kupikir yang paling mendesak adalah belajar bahasa asing selain Inggris, supaya aku bisa mengakses lebih banyak bacaan.

Apa rencana selanjutnya untuk saat ini?

Menulis novel.

 

Terakhir, boleh berikan rekomendasi lima buku favoritmu beserta alasan singkat untuk masing-masing buku?

orang2

Orang-Orang Bloomington

Budi Darma

Satu dari sedikit sekali buku yang akan bertahan andai suatu saat kesusastraan Indonesia memutuskan untuk bertaubat dan mensucikan diri dari karya-karya buruk.

 snows

The Snows of Kilimanjaro and Other Stories

Ernest Hemingway

Beberapa cerita pendek penting Hemingway terhimpun di dalam buku ini (“A Clean, Well-lighted Place”, “The Short Happy Life of Francis Macomber”, dan “Fifty Grand”).

pedro 

Pedro Paramo

Juan Rulfo

Gabriel Garcia Marquez mengaku sanggup menuturkan ulang novel ini, baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan. Tidak mengherankan, sebab, dilihat dari sisi mana pun, novel ini bagus sekali.

 bartleby

Bartleby & Co.

Enrique Vila-Matas

Novel ensiklopedik tentang para penulis yang memutuskan untuk tidak atau berhenti menulis. Salah satu buku paling menarik yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir.

 maps

Map: Collected and Last Poems

Wislawa Szymborska

“Saat kuucapkan hari depan, suku katanya yang pertama telah jadi milik masa silam,” tulis Szymborska dalam “The Three Oddest Words”. Buku ini memuat sekitar 250 puisi Szymborska dalam bahasa Inggris, mulai dari yang termahsyur seperti “Love at the First Sight”, “On Death, Without Exaggeration”, dan “Nothing Twice” hingga puisi-puisi yang ditulisnya menjelang kematian.

Foto oleh: Saila Rezcan.

http://www.dea-anugrah.com

 

Sweeter Than Fiction, An Interview With Maradilla Syachridar

Selalu menyenangkan untuk mengulik sosok seorang novelis, dan dalam kasus Maradilla Syachridar, the excitement times two.

Sekarang ini bila kita datang ke toko buku, melihat rak khusus yang ditujukan untuk karya para penulis muda Indonesia tentu bukan hal yang aneh lagi. Kita tentu masih ingat ada semacam gairah menulis dan membaca di kalangan anak muda, di mana setiap harinya bermunculan buku-buku baru dari berbagai genre, walau yang menjadi mayoritas adalah teen-lit dan humor. Dari sekian banyak penulis itu, satu nama yang menarik untuk diangkat adalah Maradilla Syachridar yang pertama kali dikenal sebagai penulis saat menerbitkan buku pertamanya, Ketika Daun Bercerita, tahun 2008 lalu. Menyebut nama Seno Gumira, Stephen Chbosky, Haruki Murakami, Ugoran Prasad, Budi Darma, Steve Toltz, dan Paolo Coelho sebagai penulis favoritnya, nama Maradilla kian dikenal publik sejak merilis novel kedua berjudul Turiya yang diterbitkan oleh Else-Press bulan April kemarin.

Turiya sendiri bercerita tentang tiga orang sahabat bernama Dwayne, Millo dan King. Mengangkat tema cinta dan arti kebahagiaan dengan elemen pendukung seperti lucid dream, wine, dan filsafat, dipermanis dengan ilustrasi buatan Ykha Amelz yang mempertajam ambient yang ingin disampaikan, Turiya mungkin terkesan rumit tapi jangan bayangkan sosok penulisnya sebagai orang yang serius dan kaku karena Maradilla adalah pribadi yang menarik dengan paras cantik khas mojang Bandung. Selain sibuk menulis dan menyelesaikan skripsinya di Fakultas Hukum UNPAD, hari-hari gadis manis kelahiran 22 Maret 1987 ini juga diisi dengan menjadi announcer Rase FM Bandung dan tampil bersama Homogenic sebagai additional vocal dan synth player. Ketika tempo hari saya mengunjungi Bandung, tentu saja saya tak melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya dan mencoba mengenal dirinya sebagai penulis dengan lebih jauh, so here it is:

How do you reflect yourself in your writing?

Seorang Maradilla Syachridar dari sisi yang berbeda. Ketika dalam kehidupan sehari-hari saya menjadi pribadi yang terkesan cuek dan playful, setiap karya yang saya buat adalah sebuah cara untuk memperlihatkan the diary of my inner emotions, thoughts, and philosophical stuffs, karena saya tidak mau menyimpan semuanya sendirian.

Apa perbedaan paling signifikan dari Turiya bila dibandingkan novel pertamamu, Ketika Daun Bercerita?

Walaupun dalam setiap karya saya selalu ada karakter khas yang menjadi benang merah, tapi kalau dilihat ada satu perbedaan besar antara Turiya dan Ketika Daun Bercerita. Saya merasa novel Ketika Daun Bercerita masih sangat memperlihatkan sisi naif saya dalam membuat suatu cerita (which is good for my learning progress), dan Turiya adalah satu karya yang ditulis pada fase dimana saya mulai ingin memperkuat karakter penulisan saya.

Bagian paling sulit dalam menulis sebuah cerita menurutmu?

Menjahit bagian-bagian atau cerita-cerita yang berdiri sendiri, karena saya jarang membuat kerangka cerita, maka yang ada di otak ya tulis aja dulu. Lalu tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya menjembatani ide-ide yang ditulis secara acak menjadi satu keseluruhan cerita.

Do you ever feel creatively blocked?

Bukan pernah lagi, tapi sering, apalagi sebenarnya saya adalah orang yang cukup moody dalam hal menulis. Akhirnya ketika saya mulai menerima tawaran-tawaran untuk menulis di luar novel, saya mulai berlatih untuk berdamai dengan deadline. Jadi ya itu, ketika stuck, saya tidak lagi menuruti ego saya, tapi berusaha untuk mencari referensi dan hal-hal yang bersifat refreshing.

Buku paling berkesan yang pernah kamu baca?

Terlalu banyak. Tapi salah satu buku paling berkesan yang saya baca akhir-akhir ini adalah buku lama, A Fraction of The Whole oleh Steve Toltz. Ibaratnya kitab suci, kalau saya buka acak, semua kata-katanya quotable. Banyak kata-katanya yang “Berteriak”, dan memunculkan rasa panas di hati karena penciptaan karakter utamanya yang sangat kuat dan brilian.

Ketika menulis, bagaimana caramu meriset detail atau mengumpulkan bahan cerita dalam tulisanmu? Apakah kamu membaca/mendengarkan musik/menonton film tertentu ketika sedang menulis Turiya?

Ya. Saya banyak belajar dari buku-buku dari Budi Darma, buku-buku tentang wine, History of Art (karena banyak menyinggung aliran-aliran lukisan) banyak menonton film-film yang bertemakan mimpi (Film-filmnya Akira Kurosawa atau Michel Gondry misalnya), dan musik-musik yang cenderung dreamy.

Selain dari literatur yang kamu baca, dari mana lagi biasanya kamu mendapat inspirasi atau stimulasi kreatif?

Random googling, blogwalking, sampai-sampai saya merasa tersesat dan penuh dengan inspirasi karena beberapa kali terdampar di blog orang-orang yang saya sendiri tidak menyangka bisa menemukannya.

Since Turiya talks a lot about wine, do you enjoy drinking the wine too? Kalau iya, jenis wine favoritmu apa?

Just being the social drinker. Saya lebih tertarik pada filosofi dan sejarah pembuatannya daripada meminumnya. Tapi, untuk wine favorit, pilihan saya akan jatuh pada wine yang cenderung feminin, seperti Moscato dan sparkling Chardonnay.

Komentar paling menyebalkan yang pernah kamu terima terkait dengan tulisanmu?

Sebenarnya dibilang menyebalkan enggak juga sih. Menyentil mungkin. Saya pernah dikritik bahwa tema yang diambil pada tulisan Turiya cukup umum dan sederhana, tapi saya terkesan terlalu berambisi untuk membuatnya menjadi berat. Padahal memang sengaja dibuat demikian, karena dulu saya menulisnya memang sedang dalam fase seperti itu. Saya pikir menarik juga untuk mengabadikan momen dimana saya sedang mengalami (yang kritikus sastra biasa bilang) fase sastra kamus.

Project selanjutnya? Sudah ada rencana untuk menulis lagi?

Sudah mulai jalan. Untuk proyek selanjutnya saya bersama 6 penulis lainnya sedang membuat buku kumpulan cerpen, dan juga mulai menyicil novel ketiga dan keempat secara bersamaan.

As published in NYLON Indonesia October 2011

Photo by Deni Dani

http://www.maradilla.com/

Something Poetic, An Interview With Rain Chudori

Selayaknya hujan, setiap cerita yang ditulis Rain Chudori menyimpan banyak emosi tersembunyi. 

Tanpa disadari, tiga profil yang saya tulis untuk Radar NYLON Indonesia edisi Januari 2012 lalu semuanya merupakan storyteller dengan cara mereka sendiri. Pikiran itu melintas saat saya bengong di dalam taksi menuju lokasi interview, yang apa daya harus terjebak macet dan diperparah hujan deras yang turun. Coincidentally, orang yang akan saya temui sebentar lagi juga bernama Rain. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, dengan mudah saya bisa menemukan sosok gadis berperawakan mungil yang sedang asik membaca majalah di salah satu meja. Saya bergegas menghampirinya dan meminta maaf atas keterlambatan saya. Dressed in black with deadpan expression, sepintas dia terlihat intimidatif, tapi begitu ia membuka mulut, yang keluar adalah sapaan yang ramah.

Yang sedang duduk di depan saya adalah Rain Chudori-Soerjoatmodjo, seorang penulis muda yang namanya tengah bersinar berkat cerita-cerita pendek berbahasa Inggris karyanya yang sudah dimuat di berbagai media seperti Jakarta Post, Tempo dan Jakarta Globe. Dunia tulis-menulis sama sekali bukan hal yang asing bagi gadis kelahiran 1994 ini. Kakeknya adalah seorang wartawan Kantor Berita ANTARA, sementara ibunya, Leila S. Chudori, adalah nama besar di dunia sastra Indonesia dan ayahnya, Yudhi Soerjoatmodjo, adalah fotografer jurnalistik yang kerap membuat esai foto. Ia bercerita bila semuanya bermula saat salah satu cerpennya berjudul Blue, yang sebenarnya adalah tugas sekolah, dikirim ke Jakarta Post oleh ibunya tanpa sepengetahuan dirinya. Cerpen itu dimuat dan mendapat respons positif. Sejak itu karyanya semakin sering dimuat dan tawaran menulis berdatangan, termasuk menulis novel dwi-bahasa, Serdadu Kumbang, yang berdasarkan dari film berjudul sama. Hal yang sebetulnya tidak mengherankan, karena bila kamu membaca salah satu karyanya, kamu pun akan mengerti. Emosi yang selalu tertangkap dari tulisan penggemar Haruki Murakami ini adalah beautifully sad, real, and poignant. “My mom says I was writing in realism, I write about real life, what’s there, I think my writing is more observation of life.” Ucapnya.

Sejak kecil, ia ingat setiap bangun tidur yang dia cari adalah buku, dia banyak membaca cerita klasik Charles Dicken dan Jane Austen, sebelum kemudian menyukai novel klasik Rusia seperti Anna Karenina dan karya Anton Chekhov. Sounds deep right? Tapi bagaimana sih keseharian seorang Rain? “I like tweeting, watching film, being with my friends and boyfriend, going to concerts. I’m pretty regular teenager actually.” Jawabnya sambil tersenyum. Saya pun bertanya iseng apakah ia juga sering membaca cheesy story? “No, but I watch bad TV show, like Jersey Shore, it’s so bad you wanna watch it, just for laugh, haha.” Rain yang saat artikel ini ditulis masih duduk di kelas 3 SMA dan sedang menyiapkan diri mendaftar kuliah jurusan English atau Film Writing memproklamirkan dirinya sebagai movie buff. “Saya selalu ingin menjadi penulis, but with film I think I can explore even broader art form.” Cetusnya. Sebelumnya ia juga pernah menulis resensi (500) Days of Summer untuk Jakarta Post, berdasarkan kebiasaannya menganalisa film yang ia tonton. “I love both. But at some level, film always reach more audiences, nggak semua orang suka baca buku, tapi mayoritas orang suka nonton.” Ungkap Rain yang menyebut American Beauty sebagai film favoritnya.

Punya ibu yang juga seorang penulis terkenal membuat tulisan mereka kerap dibandingkan, untuk itu Rain punya tanggapannya sendiri, ”They’re kinda similar with themes like juxtaposing personal life experience and political condition as background, I just recently realized how much she influence my works.” Dari sekian banyak cerita yang pernah ia tulis, mana yang menurutnya paling personal? “Smoking with God. It contain one of my deepest anger, it’s basically about my parents relationship and the peak point of their broken marriage.” Jawabnya dengan gamblang. Saat ini ia tengah menyiapkan antologi kumpulan cerpen yang pernah ia buat. “Konsepnya adalah kumpulan cerita dari satu kompleks perumahan di mana setiap rumah punya cerita masing-masing.”

Sampai di penghujung interview ini, saya melontarkan pertanyaan yang sudah saya simpan dari tadi, which is perihal namanya yang unik. “I keep asking my parents and they keep changing their answers, I mean sometimes they says it’s from the weather but sometimes they say I was named after Rain Phoenix, sibling of River and Joaquin Phoenix,” jawabnya ringan. Dia sendiri mengaku kalau dia tidak begitu menyukai namanya dan lebih memilih nama Marigold atau Luna sebagai alter-ego dirinya. Well, apapun nama yang ia pilih, bagi saya she’s still one of the most interesting girl out there.

 As published in NYLON Indonesia January 2012

Photo by Luca Knegtering.

Click the links to read her short stories:

Blue

Something Poetic

Smoking With God (part 1)

Smoking With God (part 2)