Tricky Two, An Interview With Röyksopp

Bagaimana mengatasi kejenuhan tampil di panggung? Röyksopp tahu salah satu triknya.

Berbincang dengan Svein Berge dan Torbjørn Brundtland dari Röyksopp ternyata adalah pengalaman yang menyenangkan. Sebelumnya saya selalu membayangkan duo asal Tromsø, Norwegia, ini sebagai tipikal orang Skandinavia yang dingin dan irit bicara, tapi anggapan itu langsung lenyap saat mereka memasuki ruangan interview dengan tersenyum lebar dan menyalami semua orang dengan antusias. Walaupun secara fisik mereka terlihat bertolak belakang, Svein memakai tee bergambar Ralph Wiggum dari The Simpsons, leather jacket dan kulit berwarna tan hasil liburan tiga minggu di Aussie, sementara Torbjørn yang berkulit lebih pucat terlihat preppy, namun mereka berdua sangat santai dan kompak saat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan, sama kompaknya ketika sedang membuat album-album keren seperti Melody A.M., Junior dan Senior atau saat tampil di festival-festival musik berkelas di seluruh dunia.

Pertanyaan pertama yang tercetus adalah soal album baru mereka yang menurut kabar akan dirilis September tahun ini. “Fingers crossed, yes, tapi belum pasti di bulan September. Yang jelas tahun ini kami akan merilis album baru, entah dalam bentuk fisik atau digital.” Jawab Svein sambil mematikan iPhone-nya yang tiba-tiba berdering. Disinggung tentang kolaborasi yang kira-kira akan muncul di album baru, Torbjørn menjawab, “Kami selalu ingin bekerjasama dengan bakat-bakat baru di luar sana, Tapi kurasa yang paling penting saat ini adalah originality, karena itu kami selalu bekerjasama dengan sosok-sosok menarik seperti Robyn, Lykke Li atau Fever Ray.” Uhm bagaimana dengan Britney Spears? tanya saya, karena sebelumnya ada rumor yang mengatakan pihak Britney pernah meminta mereka me-remix lagunya namun mereka menolak. “Saat itu kami menolak karena kami tidak punya waktu dan sibuk dengan pekerjaan lain, dan kami rasa saat itu juga bukan waktu yang tepat,” ungkap Svein, sebelum diteruskan oleh Torbjørn, “Sebetulnya lebih karena tidak ada waktu, namun orang menganggapnya sebagai sebuah statement dari kami. Untuk me-remix sebuah lagu kami tidak pernah menargetkan apapun, hal itu sangat random. Jika kamu mendengar lagu yang tepat di saat yang tepat pula, then you got this fire.”

Sebagai ujung tombak dari Bergen Wave, scene musik Norwegia yang meraih popularitas dunia, Röyksopp memulainya dari techno scene di kota asal mereka. “Hal itu bermula saat transisi antara tahun 80 dan 90-an, banyak orang yang berpergian ke luar negeri pulang kembali dengan membawa koleksi vinyl lalu mulai memasangnya di program radio lokal dan membuat pesta-pesta seru, di mana kami harus menyelinap masuk karena masih di bawah umur, haha.” kenang Torbjørn. Dari situ juga akhirnya muncul ketertarikan mereka akan visual aesthetic sebagai bagian dari musik yang mereka usung, yang terlihat dari kostum, video dan press photo mereka yang selalu memiliki konsep khusus. “Kami banyak menghabiskan waktu untuk mencari orang-orang kreatif yang sama gilanya dengan kami. Untuk kostum, kami sering bekerjasama dengan desainer Norwegia seperti Camilla Bruerberg. Bersama-sama kami berdiskusi tentang konsep yang ingin ditampilkan di atas stage. Sisi artistik itu yang membuat kami bersemangat tampil sampai saat ini.” tutup Svein sambil tersenyum.

As published in NYLON Guys Indonesia April 2012

Foto oleh Rizhky Rezahdy

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s