Filmstrips: The Essential Works of Abbas Kiarostami

abbas-kiyarustemi-1

Ketika Abbas Kiarostami wafat tanggal 4 Juli 2016 lalu di umur 76 tahun, bukan hanya warga Iran yang berduka atas kepergian sutradara terbaik di negeri mereka, tapi juga para cinephile di seluruh dunia. Telah mulai berkarya sejak tahun 70-an dan menghasilkan lebih dari 40 film, Kiarostami disebut sebagai salah satu filmmaker terbaik yang pernah ada berkat tangan dinginnya yang telah melahirkan style tersendiri dan teknik-teknik revolusioner baik secara narasi maupun produksi dalam dunia perfilman sekaligus menjadi inspirasi dari ribuan filmmaker lain setelahnya, mensejajarkannya dengan para legendary auteurs seperti Akira Kurosawa dan Alfred Hitchcock. To pay a tribute to the late cinema poet,  di bawah ini adalah beberapa karya Kurostami paling esensial yang harus ditonton siapapun yang mengaku pecinta sinema.

KHANE-YE DOUST KODJAST? / WHERE IS THE FRIEND'S HOME
Where Is the Friend’s Home?

 Koker trilogy 

Disebut sebagai karya terbaik Kiarostami, Koker trilogy mengacu pada tiga film yang terdiri dari Where Is the Friend’s Home? (1987), Life, and Nothing More… (1992), dan Through the Olive Trees (1994) yang berhasil melebur batasan antara realitas dan fiksi dalam perfilman secara groundbreaking. Where Is the Friend’s Home? adalah cerita sederhana tentang Ahmed, seorang anak laki-laki di sebuah desa bernama Koker di utara Iran yang tanpa sengaja membawa pulang buku tugas milik temannya. Sadar jika temannya akan dikeluarkan dari sekolah jika tidak mengumpulkan tugas, Ahmed pun menempuh perjalanan jauh ke desa temannya untuk mengembalikan buku tersebut dan melihat banyak hal dalam perjalanannya, mulai dari betapa ignorant dan culasnya dunia orang dewasa hingga nilai-nilai tradisional warga pedesaan Iran. Lewat film ini Kiarostami mengangkat cerita tentang loyalty dan kepahlawanan sehari-hari dalam kombinasi narasi fiksi dan dokumenter (docu-fiction) yang kemudian menjadi ciri khas terbesarnya.

lifeandnothing-1600x900-c-default
Life, and Nothing More…

Film kedua Life, and Nothing More…mengikuti jejak seorang sutradara (versi fiksional dari Kiarostami sendiri) dan anak lelakinya yang berkendara dari Tehran ke Koker untuk mencari jejak dua anak kecil yang membintangi film Where Is the Friend’s Home? karena cemas keduanya termasuk dalam daftar korban gempa Iran di tahun 1990 yang memakan korban 50 ribu orang di utara Iran. Menelusuri puing-puing sisa gempa, ayah dan anak tersebut berinteraksi dengan para warga lokal dan mendengar kesaksian tentang bencana tersebut, termasuk dari sepasang pengantin muda yang memutuskan tetap melangsungkan pernikahan walaupun desa mereka porak-poranda dan banyak anggota keluarga mereka yang tewas, sampai akhirnya mereka berhasil menjumpai salah satu aktor cilik di film sebelumnya di sebuah tenda pengungsian. Dokufiksi kedua ini secara poetic menunjukkan kekaguman Kiarostami terhadap semangat orang-orang yang tak menyerah pada keadaan dan melanjutkan hidup mereka pasca bencana.

through-the-olive-trees
Through the Olive Trees

Bagian terakhir dari Koker trilogy adalah Through the Olive Trees yang menggambarkan proses seorang sutradara saat ia merampungkan syuting film Life, and Nothing More… dan cerita asmara di antara kedua aktor dan aktris yang terlibat dalam sebuah sequence di film tersebut. Hossein, seorang tukang batu yang beralih menjadi aktor jatuh cinta dan melamar lawan mainnya, seorang gadis terpelajar bernama Tahere yang menjadi yatim-piatu setelah orangtuanya wafat dalam gempa besar. Perbedaan status keduanya membuat Tahere menolak lamaran itu, namun dengan intervensi sang sutradara yang menyarankan Hossein apa saja yang harus ia lakukan untuk meyakinkan sang gadis sambil dengan sengaja menyiapkan adegan dan dialog keduanya di film yang ia garap. Hingga di satu adegan ia meyakinkan Hossein untuk mengikuti Tahere yang berjalan di antara pepohonan zaitun dan sekali lagi mengungkapkan perasaannya dengan open ending yang membuat para penonton bebas menginterpretasikan sendiri apakah lamaran tersebut diterima atau tidak.

Film romance dengan balutan humor dan sense of humanity ini dinominasikan dalam kategori Palme d’Or di Cannes 1994 dan melontarkan popularitas Kiarostami ke dunia. Walaupun secara naratif tidak bisa dibilang sekuel karena ketiga film tersebut masing-masing berdiri sendiri, namun Koker trilogy disebut sebagai rangkaian film yang menggambarkan kekuatan dunia sinema dengan metode penceritaan yang bermain pada konsep “higher reality” dan “life imitates art (and vice versa)” dengan cara yang belum pernah digunakan oleh sutradara lain sebelumnya.

MoC_CLOSE_UP_04.jpg
Close-Up

Close-Up (1990)

Berdasarkan cerita nyata yang terjadi di Tehran di akhir 80-an, Close-Up yang judulnya diambil dari teknik penyutradaraan bermula saat Kiarostami membaca berita tentang seorang pria bernama Hossain Sabzian yang ditangkap polisi setelah mengaku-ngaku sebagai sutradara Iran terkenal, Mohsen Makhmalbaf. Kiarostami mendatangi Sabzian di penjara dan membuat dokumenter tentang sang terdakwa kasus penipuan tersebut yang lantas mengungkapkan fakta jika sang impersonator melakukan perbuatannya bukan dengan niat jahat, melainkan karena rasa cintanya pada sinema dan kekaguman pada sang sutradara yang membuatnya ingin merasakan menjadi sang sutradara. Sekali lagi berada di tengah realitas dan fiksi, Kiarostami menyajikan dokufiksi tentang the power of cinema dan pada akhirnya berhasil mencari jalan damai bagi Sabzian dan bahkan mempertemukannya dengan sang sutradara idolanya.

taste-of-cherry-di-01

Taste of Cherry (1997)

Memenangkan Palme d’Or di Cannes tahun 1997, film ini adalah sebuah film minimalis tentang seorang pria paruh baya bernama Badii (Homayoun Ershadi) yang berkendara di seputar Tehran untuk mencari seseorang yang bersedia mengubur dirinya setelah dia bunuh diri. Perjalanannya mempertemukannya dengan beberapa kandidat, dari mulai seorang tentara Kurdish muda yang menolak melakukan hal itu dan kabur dari mobil Badii, seorang guru agama asal Afghanistan yang menolak karena bunuh diri adalah hal yang dilarang agama, hingga yang terakhir adalah seorang ahli taksidermi asal Azerbaijan yang bersedia melakukannya namun tetap berusaha meyakinkan Badii untuk mengurungkan niatnya dan mengaku jika ia pun pernah hampir nekat bunuh diri namun memilih hidup setelah mencicipi rasa buah ceri. Didominasi teknik long takes dengan jeda sunyi tanpa musik latar dan dialog tentang arti hidup dan kematian, film ini terasa depressing dan comical di saat yang sama dengan filosofi jika hidup ibarat jalan panjang tanpa ujung dengan pepohonan ceri di sampingnya, whether you want to enjoy it along the way, it’s your own choice.

the-wind-will-carry-us-feature-1600x900-c-default

The Wind Will Carry Us (1999)

Sama seperti film sebelumnya, dalam film yang judulnya yang diambil dari puisi karya penyair perempuan ikonik asal Iran, Forough Farrokhzad ini Kiarostami kembali mengangkat ide tentang hidup dan kematian. Bercerita tentang empat orang jurnalis yang tiba di sebuah desa Kurdish dan menyamar sebagai insinyur untuk mendokumentasikan ritual kematian setempat dan mengantisipasi kematian seorang nenek berumur 100 tahun yang diharapkan menjadi obyek utama dalam proyek mereka, namun sang nenek tak kunjung wafat dan mereka pun terpaksa beradaptasi dengan gaya hidup di desa tersebut yang lambat dan kontras dari latar belakang urban mereka, Dirilis tepat sebelum pergantian abad, film ini adalah interpretasi poetic seorang Kiarostami akan isu-isu seperti kehidupan dan kematian, modern dan tradisional, dan local versus global, sekaligus mempertanyakan etika menangkap suatu kenyataan ke dalam film tanpa mencemari esensinya.

certified-copy

Certified Copy (2010)

Dibintangi oleh Juliette Binoche dan William Shimell, film ini adalah film pertama Kiarostami yang dibuat di luar Iran seutuhnya. Seorang penulis Inggris bernama James Miller (Shimell) sedang berada di Tuscany, Italia untuk berbicara soal buku terbarunya, Certified Copy, yang mengangkat tema originalitas dalam karya seni di mana menurutnya tidak ada karya yang benar-benar original karena semua karya sebetulnya adalah kopi dari suatu hal yang telah ada. Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan seorang ahli barang antik asal Prancis (Binoche) yang datang bersama anak lelakinya. Dalam pertemuan selanjutnya, keduanya berkendara tanpa arah ke daerah pedesaan setempat dan berbincang tentang seni dan isi buku tersebut hingga akhirnya dalam perhentian di sebuah kafe, prasangka orang lain jika keduanya adalah suami-istri mengubah arah diskusi mereka menjadi sangat personal, seakan keduanya memang pasangan yang telah lama menikah dan Kiarostami sengaja membiarkan penonton bertanya-tanya apakah keduanya sebetulnya memang suami-istri atau keduanya hanya terjebak dalam ilusi yang mereka bangun sendiri.

like-someone-in-love-main-review

Like Someone in Love (2012)

Sebagai film terakhir yang ditulis dan disutradarai oleh Kiarostami, film yang diproduksi di Jepang ini menceritakan seorang mahasiswi Tokyo bernama Akiko (Rin Takanashi) yang bekerja sambilan sebagai pelacur kelas atas. Suatu malam, ia mendapat klien bernama Takashi Watanabe (Tadashi Okuno), seorang duda tua mantan dosen sosiologi yang lebih tertarik menyiapkan makan malam dan berbincang bersama Akiko dibanding tidur dengannya. Saat esok harinya mengantar Akiko ke kampusnya, ia bertemu dengan Noriaki (Ryo Kase) pacar Akiko yang mengira jika ia adalah kakek Akiko dan meminta izin untuk menikahi Akiko. Semua menjadi kacau saat Noriaki yang abusif mengetahui hal sebenarnya dan mengonfrontasi keduanya. Walaupun jauh dari Iran, di film ini Kiarostami tetap berhasil mengangkat kisah cinta tak biasa di mana para karakter yang terlibat adalah orang-orang kesepian yang mencari seseorang untuk dicintai dalam pertemuan takdir yang terasa sangat random dan konsekuensi yang menunggu mereka.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s