Seeing Sounds, An Interview With Sparkle Afternoon

Sparkle Afternoon melukis dunia mereka sendiri lewat nada-nada eksperimental yang lembut dan keras di saat yang sama, so are you in? 

Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata dream pop? Kemungkinan besar yang terpikir adalah musik beraransemen meruang dengan soundscape yang seakan bercerita tanpa harus dihiasi vokal dan lirik sekali pun. Saya juga percaya jika lagu dream pop yang baik adalah yang bisa membuatmu melamun dan membayangkan suatu scenery tertentu. Well, hal seperti itulah yang membuat saya langsung suka saat pertama kali mendengarkan single “Gorgeous” milik Sparkle Afternoon. Dibuka dengan dentingan piano yang menjadi pengantar vokal lirih seorang gadis sebelum lengkingan gitar mulai masuk dan semakin intens saat menuju menit ketiga lagu berdurasi sekitar 4 menit tersebut, saya terhanyut dalam ruang yang dibangun lagu yang sedikit mengingatkan saya akan masa-masa awal Homogenic dalam versi less-electronic ini.

Terdiri dari vokalis Ratih Kemala Dewi, gitaris Diki Setiadi, gitaris Yogie Riyanto, bassist Warna Kurnia, drummer Tedy Wijaya dan keyboardist Rizka Rahmawaty, unit musik dari Bandung ini memang meramu musik yang kerap didefinisikan sebagai dream pop dengan nuansa post-rock dan shoegaze yang kental. “Sebenarnya dari dulu kami nggak pernah nentuin mau main musik seperti apa, dulu sempat ke arah indie pop, tapi karena sekarang influensnya juga semakin bertambah akhirnya musik yang kami rilis sekarang seperti ini, ada post-rock, dream pop, shoegaze minimalis dan ada eksperimentalnya juga.” Jawab Yogie saat saya bertanya tentang konsep musik mereka yang mengaku mendapat influens dari band-band seperti God Is an Astronaut dan Maybeshewill.

Dream pop dan post-rock sendiri sama sekali bukan hal yang asing di scene musik Indonesia saat ini sehingga mau tak mau mereka harus memiliki suatu ciri khas yang bisa membuat mereka standout di antara puluhan band segenre di negeri ini, untungnya mereka punya hal itu. Selain memiliki vokalis perempuan yang juga pemain glockenspiel, hal menarik lainnya dari band ini adalah komposisi musik yang kerap mengawinkan dentingan keyboard Rizka dengan kocokan gitar Diki yang powerful (sebelumnya ia tergabung di band metal). Terdengar kontras memang, but opposites attract dan justru itulah yang membuat musik mereka menyenangkan untuk disimak. Bisa dibilang, keyboard adalah salah satu pilar utama band ini, karena itu saya bertanya kepada Rizka tentang influens dari permainan keyboardnya yang kadang terdengar psychedelic itu, “Dulu saya sempat suka banget sama Ray Manzarek (keyboardist The Doors), cuma kalau menyebutnya sebagai influens, kayanya juga nggak sampai segitunya, jadi ya sudah ngalir aja, saya bukan pemain yang baik tapi tetap berusaha untuk punya style sendiri.” Jawab gadis mungil ini dengan merendah.

Dalam band profile-nya, mereka menulis jika saat yang tepat untuk mendengarkan lagu-lagu mereka adalah di sebuah padang rumput terbuka dengan langit yang sedikit mendung. “Katanya sih musik kami lebih ‘kena’ ke pendengar cewek, kaya lagu ‘Gorgeous’ itu yang nyeritain tentang perempuan.” Ungkap Diki yang disetujui personel lainnya, tentang beberapa lagu mereka yang telah dirilis dalam format split album bersama band post-rock Bandung bernama Under The Bright Big Yellow Sun dengan judul We Sit Under The Bright Big Yellow Sun in Sparkle Afternoon yang dirilis Loud For Goodness Records bulan Oktober 2010 lalu. Sebelum itu, dua lagu mereka yaitu “Gorgeous” dan “Fade Away” juga sempat dirilis oleh BFW Recordings, sebuah netlabel asal Manchester, Inggris yang memang spesialis genre ambient, shoegaze, experimental dan semacamnya. “Untuk suasana yang pas mungkin lebih ke nature seperti film Heima, haha,” ucap Yogie sebelum meneruskan, “Harapan kami untuk gig Sparkle Afternoon sendiri lebih yang outdoor atau mungkin di galeri, dan kurang cocok juga kalau siang hari.” Ujar sosok yang termasuk aktif di scene musik Bandung sebagai Head Chief dari Glasslike ent. yang rutin menggelar event bernama Hearing Goodness ini.

Bicara tentang langkah Sparkle Afternoon selanjutnya, mereka mengaku tidak terdesak oleh target, karena saat ini mayoritas personel baru saja meniti karier masing-masing, kecuali Rizka yang masih kuliah, sementara Mala dan Tedy pun kini berdomisili di Jakarta sehingga mereka merasa sedikit kerepotan untuk mengatur jadwal latihan. “Kalau latihan kita live streaming! Haha,” canda Yogie, “Kalau ada materi atau ide-ide baru kita bisa lewat Skype dan kalau mau manggung kita pasti latihan, kadang di Bandung atau nyamperin yang di Jakarta, yang penting tetap komunikasi.” tambah Diki. Masalah perbedaan geografis memang terdengar seperti hal yang telah usang, jangankan Jakarta – Bandung, jarak antar benua pun tak menghalangi mereka menyiapkan sebuah split album bersama band shoegaze asal US, The Sunshine Factory, di samping menggarap materi untuk full album mereka yang diharapkan rilis tahun ini. That’s definitely some sparks to watch out.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s