This Charming Man, Morrissey Live in Jakarta (10 May 2012)


Coret lagi satu nama paling penting dari daftar Bands/Musician You Must See Before You Die, Morrissey is finally here.

Who is Morrissey?” Demikian bunyi tulisan yang tertera di backdrop panggung konser perdana Morrissey yang dipromotori oleh Indika Production tanggal 10 Mei kemarin. Mayoritas orang mengenalnya sebatas vokalis band Inggris, The Smiths, sementara sebagian yang lain mungkin hanya sering mendengar namanya tapi tak pernah benar-benar mendengarkan musiknya, namun crowd yang memenuhi venue Tennis Indoor Senayan dari sore hari, membawa spanduk, bunga dan terus tersenyum ceria adalah golongan yang berbeda. Mereka adalah diehard fans yang menganggap Steven Patrick Morrissey tak hanya penyanyi idola, namun lebih sebagai personal hero yang datang bukan sekadar menonton konser, tapi juga “naik haji” menunaikan impian seumur hidup mereka menyaksikan Morrissey di depan mata.

Selain area depan ticket box yang dipenuhi para penjual kaus Morrissey yang sering typo (entah kurang “r” atau “s”), yang terasa berbeda adalah untuk hari itu Tennis Indoor bebas dari makanan yang mengandung daging atas permintaan Moz (panggilan akrab Morrissey) yang seorang vegetarian dan pendukung PETA. Tak hanya stand F&B dalam area konser saja yang bebas daging, kabarnya panitia harus membayar para pedagang sate di Senayan untuk menghilang sebentar. Sebuah upaya cukup maksimal untuk menghargai Moz yang terkenal sangat strict (ia pernah walk out dari panggung Coachella 2009 karena mencium bau daging dimasak) dan memerhatikan detil apa pun, termasuk pilihan hotelnya, Shangri-La, hanya karena ia penggemar band The Shangri-Las. Romantisme personal tersebut juga terasa saat penonton menunggu dimulainya konser sambil menyaksikan beberapa video musik retro yang tampaknya dipilih sendiri oleh Moz, mulai dari Brigitte Bardot sampai New York Dolls, yang ditembak dari proyektor ke kain yang menutupi panggung. Sekitar jam 9 malam, akhirnya video playlist selesai dan kain penutup tersebut diturunkan dan menampilkan semua instrumen yang siap dimainkan, termasuk satu gong besar di belakang drum set. Para pemain band yang hanya memakai jeans, kecuali gitaris Boz Boorer yang memakai dress perak, naik ke panggung disusul oleh sosok flamboyan yang ditunggu.

Dibuka dengan “How Soon Is Now?” eforia penonton meledak memenuhi udara Tennis Indoor yang bebas dari asap rokok. Moz yang sudah berusia 52 tahun memang tidak bisa menutupi fisiknya yang merenta, namun karismanya sangat kuat dan vokalnya pun masih prima. Hits-hits seperti “You’re The One For Me, Fatty”, “Alma Matters” dan “Everyday Is Like Sunday” memancing koor penonton yang begitu keras dan bunga-bunga terus dilempar ke atas panggung oleh penonton baris depan. Berbeda dari citra snob dan racist yang kerap dituduhkan media asing, Moz malam itu begitu humble menyapa penonton dan menunjukkan gratitude menyaksikan antusiasme penonton Indonesia, sehingga sempat berkata takjub, “Jakarta… I’m not expect this…” Beberapa penonton juga ditarik naik ke atas panggung untuk berpelukan dengan Moz yang sempat beberapa kali berganti kemeja (salah satunya dilempar ke penonton). Di lagu “Meat Is Murder”, Morrissey menampilkan video berisi cuplikan dokumenter animal abuse yang quite disturbing sebelum meneruskan set dengan lagu “Let Me Kiss You, “I’m Throwing My Arms Around Paris” dan “Speedway” dan berkata “Indonesia…”Saya cinta kamu. With all my heart, I wish we’ll never be apart,” sebelum memberikan encore satu lagu “Still Ill” yang merupakan lagu The Smiths.

Dengan tampil satu setengah jam membawakan 19 lagu, tentu banyak yang merasa belum puas dan berharap mendengar hits beliau lainnya yang tidak dimainkan seperti “The More You Ignore Me, The Closer I Get”, “Suedehead” dan hits lawas The Smiths. Setiap orang tentu memiliki daftar lagu Morrissey/The Smiths favorit mereka, jadi memang rasanya tidak mungkin juga berharap semua bisa dimainkan malam itu. Kembali ke pertanyaan awal tadi, siapa sih Morrissey? Semua orang punya jawaban sendiri, bagi saya pribadi yang kesehariannya tak pernah sepi dari lagu Morrissey, untuk akhirnya bisa menyaksikan beliau secara langsung di depan mata dan bernyanyi bersama sudah menjadi salah satu pengalaman hidup yang menggetarkan. It’s still feels surreal, even now.

As published in NYLON Indonesia June 2012

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s