What’s Up, Doc? Six Documentary You Should Watch in 2016

 

There’s certain air of realness di film dokumenter yang seringkali tidak bisa kamu temukan di sebuah film feature, tak peduli se-trivial apapun topik atau tema yang diangkat. Candid, thought-provoking, dan apa adanya, film dokumenter selalu memiliki kejutan menarik, and sometimes, reality check. Berikut adalah enam judul film dokumenter yang akan datang dan harus masuk ke watch list kamu di tahun 2016.

WAITING FOR B

Apakah kamu termasuk orang yang rela mengantre semalaman demi membeli tiket konser idolamu? Jika iya, kamu pasti bisa relate terhadap para fans Beyoncé di Brasil yang menjadi subjek utama dalam film dokumenter garapan Paulo Cesar Toledo dan Abigail Spindel ini. Waiting For B mengajak kita ke garda terdepan dari para Beyhive di Brasil yang rela mengantre dan bertenda selama dua bulan demi mendapat posisi strategis di konser Beyoncé di Sao Paolo. Dalam penantiannya, antrean tersebut menjadi tempat berkumpul para anak muda LGBT dari berbagai latar belakang, some are in full drag, yang mayoritas telah mengalami diskriminasi dan prejudice dari lingkungan sekitar mereka, Waiting For B tidak hanya menyorot soal fan culture di dunia pop dan bagaimana megastar seperti Beyoncé adalah sosok kultus, namun juga menyibak peran pop sebagai aksi politis dan twerk sebagai jari tengah bagi pandangan sempit masyarakat pada LGBT.

SPEED SISTERS

Melaju kencang dengan mobil balap masing-masing, empat pembalap wanita Palestina berusaha menabrak batasan dominasi pria dalam dunia balap mobil, demikian premis dari karya debut sutradara Amber Fares ini. Sebagai tim balap perempuan pertama di Timur Tengah, Marah, Noor, Monda, dan Betty tidak hanya berhadapan dengan masalah klasik di dunia balapan seperti dana, strategi, kompetisi, dan drama ricuh di sirkuit yang panas, mereka juga berhadapan dengan peran gender, politik, sosial, agama, dan intervensi militer tanpa akhir di daerah West Bank yang diduduki tentara Israel. Tak hanya memaparkan konflik Israel-Palestina dengan sudut pandang yang berbeda, Speed Sisters juga menampilkan emansipasi wanita di sirkuit balap yang penuh adrenaline rush, di mana balapan membuka dunia baru bagi keempat wanita tersebut tanpa kehilangan feminitas mereka.

ALL THINGS MUST PASS: THE RISE AND FALL OF TOWER RECORDS

Dokumenter karya Colin Hanks (aktor dan putra dari Tom Hanks) ini bercerita tentang sejarah Tower Records, sebuah destinasi wajib bagi para pencinta musik dari tahun 1960 sampai akhirnya gulung tikar di tahun 2006. Dengan motto “No Music. No Life”, di masa kejayaannya, Tower Records tidak sekadar record store, tapi juga tempat hangout para musisi terkenal seperti Elton John dan Bruce Springstein yang asik menyusuri rak-rak album di dalamnya, antrean fans untuk mendapatkan album terbaru musisi favorit mereka, dan para karyawan yang berpesta sampai larut malam dengan iringan musik-musik paling keren. Tidak hanya bercerita soal sejarah Tower Records, dokumenter ini juga mengungkap sejarah musik dalam 50 tahun terakhir ini lewat interview dan anekdot dari sang pendiri Russ Solomon dan jajaran karyawannya, termasuk mantan karyawan seperti Dave Grohl yang pernah menjadi penjaga tokonya.

DO I SOUND GAY?

Setelah hubungan asmara yang kandas, David Thorpe sebagai seorang pria gay berumur 40-an mengalami krisis identitas dan kehilangan percaya diri. Bagaimana ia mengatasinya? Dengan melakukan riset untuk mengungkap misteri “gay voice” yang merujuk pada stereotipe jika seorang pria bisa dianggap gay berdasarkan cara berbicara dan vokal mereka yang terdengar “feminin”. Perpaduan otobiografi dan dokumenter, film ini menyoal vokal gay dalam konteks sosial, psikologis, dan linguistik dengan cara yang menghibur dan informatif lewat riset ekstensif David dengan ahli sejarah (ada sebuah artikel dari koran abad ke-18 yang mengolok para pria yang memiliki vokal feminin), pelatih vokal, ahli linguistik, obrolan dengan narasumber seperti komedian Margaret Cho, penulis David Sedaris, Tim Gunn, Dan Savage, George Takei, hingga cerita para remaja yang di-bully di sekolah hanya karena terdengar “gay”, yang tidak selalu benar, karena di dokumenter ini kita akan melihat pria bersuara feminin yang ternyata straight dan pria gay dengan pembawaan maskulin. Afterall, it’s just an effing stereotype.

WOMEN HE’S UNDRESSED

Dokumenter tentang perancang busana mungkin sudah tidak asing, namun bagaimana dengan para costume designer di balik film-film ikonik? Film garapan Gillian Armstrong ini adalah salah satunya. Bercerita soal karier Orry Kelly yang dijuluki sebagai salah satu perancang kostum terbaik sepanjang masa, pria asal Australia tersebut telah terlibat dalam 285 judul di era keemasan Hollywood dan mengantungi tiga Piala Oscar berkat kepiawaiannya di bidang kostum. Beberapa portofolionya yang paling terkenal adalah Marilyn Monroe di Some Like It Hot, Nina Foch di An American in Paris, dan Ingrid Bergman di Casablanca. Tak hanya interview bersama para perancang kostum kontemporer seperti Catehrine Martin, Annd Roth, dan Kym Barrett, film ini juga menampilkan interview bersama Jane Fonda, Angela Lansbury, dan para Hollywood insiders dengan salah satu topik menyoal hubungan asmara rahasia antara Orry Kelly dengan salah satu bintang pria Hollywood terkenal di era di mana topik itu masih sangat kontroversial.

BREAKING A MONSTER

Rockumentary berdurasi 92 menit karya Luke Meyer ini mengungkap perjalanan karier band Unlocking The Truth, sebuah trio anak kulit hitam asal Brooklyn berumur 13 tahun yang terdiri dari bassist Alec Atkins, gitaris Malcolm Brickhouse, dan drummer Jarad Dawkins yang popularitasnya bermula dari video-video viral berisi aksi mereka membawakan heavy metal di jalanan New York City yang lantas menarik perhatian produser musik Alan Sacks. Dengan kontrak rekaman bersama Sony Music, tur US ke festival-festival bergengsi tanpa rilisan resmi apapun, cerita mereka memang seperti dream come true. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jalan menuju ketenaran yang telah mereka idamkan sejak kecil juga dipenuhi dengan rapat bisnis bersama para eksekutif industri rekaman, ego clash, dan sisi rebel khas ABG dalam perjalanan penuh ambisi, realita, dan rock and roll.

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s