#30DaysofArt 28/30: Theo Frids Hutabarat

Melewati masa kecil di Bekasi yang menurutnya jauh dari paparan dunia seni, satu-satunya akses bagi seniman kelahiran Jakarta, 6 Februari 1987 ini pada dunia seni rupa adalah melihat gambar di buku. “Waktu SMP saya pertama kali melihat buku tentang Vincent van Gogh di sebuah toko buku. Karena saya tidak sanggup beli buku itu, jadi saya pelototi isi buku tersebut agar semua terekam di dalam kepala. Dari buku itu juga saya tahu saudara laki-laki Vincent namanya sama dengan saya, Theo. Sejak saat itu saya berpikir mungkin ini pertanda, haha,” kenang peraih magister FSRD ITB yang saat ini juga berprofesi sebagai guru seni rupa di sebuah sekolah swasta di Bandung. Selama masa studinya, ia menemukan minat pada persoalan di sekitar proses penciptaan karya lukis yang kemudian diwujudkan dalam karya-karya lukisan yang menampilkan seorang pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi, sebuah insepsi menarik yang menyoal referensi dan originalitas dalam dunia yang ia geluti

theo-frids-hutabarat

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya suka menggambar, tapi gambar saya saat itu banyak dipengaruhi komik-komik Jepang, khususnya Dragon Ball dan Offside. Orang tua selalu mendukung saya, tapi secara khusus saya ingat momen di mana almarhumah Nenek memarahi ibu saya karena sempat melarang saya kotor-kotoran saat membuat karya. Berkat kejadian itu saya seperti mendapat license untuk berkreasi sebebas-bebasnya, haha. Saya juga ingat guru seni rupa saya di SMP, Pak Aji Sumakno, yang mengenalkan saya pada cat air dan memamerkan hasil karya saya di sekolah. Waktu itu rasanya bangga sekali bisa memamerkan karya ke teman-teman di sekolah.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya, karya seni mestinya bisa menyediakan jeda dalam hidup yang makin cepat dan sibuk ini, untuk menyadari hal-hal yang terlewat dan tidak sempat terpikirkan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Francis Bacon, Egon Schiele, Paul Cezanne, dan tentu saja Vincent van Gogh.

the-labor-oil-on-canvas-200x150-cm-2014

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sejak masuk Studio Seni Lukis FSRD-ITB, saya menghabiskan banyak waktu di dalam studio dan melakukan eksperimentasi dalam melukis. Menjelang tugas akhir, saya menyadari potensi dari proyektor dalam membantu membuat lukisan, misalnya untuk memperbesar gambar agar bisa di-trace ke atas kanvas. Dari situ saya mulai menggunakan proyeksi dalam karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya tertarik pada persoalan di sekitar penciptaan seni lukis. Kanvas, sketsa, ide, referensi, dan originalitas adalah beberapa kata kunci dalam kekaryaan saya. Lukisan-lukisan saya sering menggambarkan pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi. Karena karya saya seperti ini, sampai-sampai seorang teman mengatakan kalau saya tidak pernah punya lukisan dengan trademark saya sendiri, haha.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran karya cat air saya waktu SMP. Sampai hari ini karya tersebut masih dipajang di rumah. Kalau pameran ‘serius’ pertama, tidak lama setelah sidang tugas akhir kuliah saya, sekitar tahun 2009. Seusai sidang, dosen pembimbing saya (yang kebetulan kurator) meminta karya tugas akhir saya untuk dipamerkan di sebuah galeri di Jakarta.

 tracing-insulinde-video-projection-on-painting-dimension-variable-2015

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karya dalam solo project di ArtStage Singapore 2015 dan berpartisipasi dalam pameran 125.660 Specimens of Natural History di Galeri Salihara pada tahun yang sama. Pameran yang membaca warisan Alfred Russell Wallace ini sangat berkesan buat saya, karena secara kritis memperlihatkan pengaruh pengetahuan manusia terhadap alam. Dua curator pameran ini, Etienne Turpin dan Anna-Sophie Springer, berhasil membangun sebuah narasi pameran yang menyadarkan saya akan risiko dari perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya bukan pengguna social media. Sehari-hari hanya menggunakan email, WhatsApp, dan Line. Tapi teman-teman saya sering menyarankan saya membuat Instagram. Katanya bagus untuk memperkenalkan karya kita ke khalayak luas. Mungkin benar, ya?

 

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Art scene di Bandung mulai memperlihatkan pergeseran dari ruang-ruang pusat seni ke arah ruang-ruang alternatif, di mana seni rupa bisa cair berbaur dengan musik, fashion, dan gaya hidup. Ruang-ruang seperti Spasial dan Pabrik Tekstil Cicaheum menawarkan pengalaman pameran yang lebih santai dan egaliter karena mayoritas diisi oleh anak-anak muda. Semoga saja keadaan ini terus berkembang, sehingga dunia seni rupa Bandung tidak lagi terasing di ruang yang itu-itu saja.

the-chair-oil-on-canvas-200x150-cm-2015

Punya talenta rahasia di luar seni?

I’m good at organizing things. Sepertinya turunan dari bapak-ibu saya. Kalau obsesi, saat ini saya sedang maraton nonton film-film dari Lee Yoon-ki, Hong Sang-soo, dan Hirokazu Koreeda.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Having a me time di daerah Dalem Kaum dekat Alun-alun Bandung, khususnya di Toko Simanalagi yang menjual pisang goreng terbaik in town. Atau tenggelam dalam buku-buku di Kineruku. Tapi stay di rumah, kumpul bersama teman-teman, dan nonton bioskop dadakan pakai proyektor juga selalu menjadi pilihan. Bandung selalu macet saat weekend, jadi kalau tidak terpaksa pergi, stay di rumah adalah pilihan terbaik.

 im-art

Project saat ini?

Saya sedang mempersiapkan pameran tunggal pertama saya. Project ini akan menyoal ‘kekosongan’ di tengah praktek seni lukis sekarang, khususnya di Indonesia.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal! Rencana pameran ini sudah lama tertunda, jadi tidak sabar ingin segera jadi.

viva-la-capital

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s