On The Records: Girls on Gigs

Siapa bilang perempuan hanya bisa menjadi sekadar pemanis belaka di konser-konser musik? Empat perempuan berikut ini bercerita tentang serunya bekerja di gigs. 

Ade Putri

Road manager

Road manager adalah penghubung antara band dengan panitia; kami yang mengatur jadwal keberangkatan serta kepulangan rombongan sesuai request dan availability player mau pun tim produksi. Kami juga memastikan panitia membaca rider dengan baik dan memberikan counter rider – intinya memastikan kebutuhan band & produksi bisa terpenuhi.” Ungkap Ade Putri tentang job description seorang road manager. Bila masalah standar road manager pada umumnya adalah panitia yang kurang kordinasi atau liaison officer yang tidak komunikatif, sebagai seorang road manager yang mengurusi band-band cadas seperti Seringai, Superman Is Dead dan Suicidal Sinatra, ia harus berhadapan dengan tantangan ekstra, yaitu crowd dan medan yang tak terduga. “Waktu SID perform di USU, Medan tahun 2003 lalu, ada provokator dan konser jadi rusuh. Panitia nggak bisa berbuat banyak karena mereka nggak nyangka kejadiannya akan seperti itu,” kenangnya, “SID tetap menuntaskan set list, biar pun udah gue suruh turun karena suasananya nggak kondusif. Turun panggung, SID dan manajer langsung naik mobil kembali ke hotel. Saat gue bersama tim produksi lagi beresin alat di panggung, eeh…banyak banget barang melayang ke atas panggung. Jadilah gue dan stage crews berlindung di bawah ridging stage. Menegangkan, kayak perang, hahaha.” Tandasnya santai. Gadis kelahiran Surabaya yang juga berprofesi sebagai freelance publicist dan social media strategist di sebuah digital agency ini mengaku lebih menyukai terjun langsung ke lapangan dibanding bekerja di balik meja, karena itu di antara semua kesibukannya, ia tetap menikmati menjadi freelance road manager untuk band yang sudah disebutkan di atas dan beberapa nama lainnya seperti Vicky Shu, The Flowers dan Armada. “Let me tell you something, handling bunch of rockin’ boys is much much much easier than handling one unpredictable selfish and spoiled princess!” Tutupnya dengan senyum jahil.

Isha Hening

Visual Jockey

Apakah kamu sempat menonton penampilan Röyksopp di Love Garage beberapa bulan lalu? Kalau iya, pasti kamu ingat visual mapping keren yang melengkapi live performance mereka. Well, guess what? Visual mapping tersebut dibuat oleh perempuan manis bernama Isha Hening yang kian dikenal sebagai seorang Visual Jockey andal. Semua bermula saat ia masih berkuliah di ITB jurusan DKV – Multimedia, gadis berumur 25 tahun ini sering menghabiskan waktu di Common Room, sebuah ruang kreatif di Bandung, yang juga tempat sebuah komunitas bernama Openlabs yang mengulik soal electronic music, visual dan new media art. Dari situ ia belajar soal VJ dan live visual sampai akhirnya pertama kali menjadi VJ untuk Bottlesmoker di sebuah gig elektronik Bandung, sebuah pengalaman yang membuatnya jatuh cinta, ketagihan dan akhirnya menjadi profesi. Isha lalu dipercaya menjadi VJ untuk event-event besar seperti Godskitchen, Beatfest, Djakarta Warehouse Project, Dance Republic, Playground dan Love Garage. “Hampir semua event berkesan sebetulnya, karena pasti ada yang uniknya, seperti kemarin senang banget bisa VJ-ing untuk Bag Raiders dan Röyksopp karena saya kebetulan memang ngefans atau yang paling capek saat main sampai pukul 6 pagi untuk Armin Van Buuren. Tapi tetap sih, saya paling menikmati kalau main di gigs drum ‘n bass seperti Phunktion, hehe.”  Jawab Isha saat ditanya event yang menurutnya paling berkesan. Selepas Love Garage, kini gadis yang memiliki daily job sebagai motion graphic artist di Fear FX Studio di daerah Bangka, Jakarta Selatan ini sedang bersiap mengerjakan video klip untuk Rock N Roll Mafia bersama temannya Guntech dan sebuah group exhibition di Dia.lo.gue Artspace, Kemang. Bekerja di field yang didominasi pria, apakah sebagai VJ ia pernah diremehkan hanya karena ia perempuan? “Haha, ya pasti pernah, seringnya sih masalah teknis, tapi seharusnya isu seperti itu sudah basi ya, sudah tidak penting gendernya apa, pada akhirnya karya dan profesionalisme yang berbicara.” Jawabnya optimis.

Niken Prista

Gig photographer

Admit it, DSLR is just like fashion accessory nowadays. Kita dengan mudah melihat cewek-cewek menenteng kamera di gig musik, tapi berapa banyak diantara mereka yang memang seorang gig photographer dan rela berdesak-desakan di media pit yang disesaki pria-pria yang terkadang, literally push each other untuk mendapatkan foto yang keren? Mungkin masih bisa dihitung dengan jari dan Nikensari Pristandari adalah salah satunya. Gadis berperawakan mungil ini dapat dengan mudah kamu lihat di berbagai gig sedang membidikkan kamera kesayangannya, Canon Kiss X2, untuk situs musik Geeksbible.com atau beberapa media lainnya. “Keinginan buat motret penampilan band/musisi buat gue pribadi adalah untuk mendukung band lokal yang masih belum dikenal banyak orang dan sebagai media berbagi keriaan buat mereka yang nggak bisa nonton konser tertentu. Jadi ketika liat jepretan gue, mereka juga bisa merasakan euforia yang sama saat gue motret penampilan band/musisi itu,“ ungkap Niken tentang alasannya menjadi gig photographer, “Basically, gue sendiri cinta musik, dan menjadi salah satu bagian dari hal tersebut adalah menyenangkan.” Imbuhnya. Melihat sosok mungil dan pembawaannya yang kalem, mungkin kamu akan kaget mengetahui jika ternyata ia paling antusias memotret untuk gig-gig metal dan salah satu keinginan terbesarnya adalah memotret di Hellfest. Gadis berumur 21 tahun ini mengaku dirinya memang pendiam, namun jika melihat foto-foto bidikannya di akun flickr-nya (flickr.com/photos/nikenprista), kamu bisa merasakan emosi dan semangat dari objek fotonya. Apa tipsnya? “Baiknya sih survey dulu venue-nya di mana jadi kira-kira sudah siap angle photo yang mau diambil dan mau bawa lensa apa aja. Terus peka juga sama hal-hal yang berpengaruh pada hasil foto, misalnya lighting. Biasanya kalau venue cukup gelap, gue ngitungin waktu kapan lighting ini bisa pas nembak ke objek yang mau gue foto, atau pada lighting warna tertentu.”

Nastasha Abigail

Announcer/band manager

Berbincang dengan Nastasha Abigail sama menyenangkannya dengan mendengarkan siarannya di Trax FM. Ia ramah, approachable dan senantiasa menyelipkan joke segar dalam omongannya. Sebagai seorang announcer merangkap reporter untuk salah satu stasiun radio anak muda paling dikenal tersebut, Abigail memang kerap kali dijumpai di berbagai acara musik, baik yang berskala besar maupun gig-gig yang lebih kecil. Kini, selain siaran dan mendesain cincin buatan sendiri dengan nama Hullo, lulusan Jurnalistik UPH ini menambah resume dengan menjadi manajer untuk Zeke Khaseli, suatu tawaran yang secara spontan ia terima dengan antusias, walau ia mengaku masih dalam tahap belajar. Saya pun bertanya di umurnya yang ke-25 tahun ini, sampai kapan kira-kira ia ingin berkarier di bidang yang berhubungan dengan musik. “Gue sedang berada di comfort zone sebetulnya. Apalagi sebagai anak muda yang notabene budak konser, gue bersyukur dapet tiket-tiket gratisan, ketemu banyak teman baru, lokal dan internasional. Jadwal siaran pun membuat gue bisa melakukan banyak kegiatan lainnya. Kalau ditanya mau sampai kapan, itu gue agak bingung. Pernah sih kepikiran kerja kantoran dan menciptakan kestabilan hidup, tapi kayaknya gue nggak terlalu banyak punya baju rapi,” jawabnya sebelum menambahkan dengan tersenyum lebar “Menjamin mapan bukan berarti menjamin senang kan?”

As published in NYLON Indonesia April 2012

Fotografi oleh Muhammad Asranur

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s