A Matter of Taste, An Interview With Rinrin Marinka

Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang celebrity chef? Tak hanya kepiawaian mengolah sajian yang menarik secara rasa dan visual belaka, namun juga natural charm dan kepribadian yang membuat orang tak bisa melepaskan pandangan. Beruntung, Rinrin Marinka punya semua itu.

Fotografi: Ifan Hartanto. Creative Director: Anindya Devy. Stylist: Priscilla Nauli. Makeup Artist: Ranggi Pratiwi. Hairdo: Eva Pical.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-1

Jika nama Maria Irene Susanto terdengar asing di telinga Anda, tenang saja, itu bukan sepenuhnya salah Anda. Chef, TV host, dan restaurateur kelahiran Jakarta, 22 Maret 1980 ini memang lebih dikenal di publik dengan nama Rinrin Marinka atau Chef Marinka, demikian ia akrab disapa lewat berbagai cooking show yang telah ia bintangi. Mulai tampil di layar kaca sejak 10 tahun lalu, tak bisa dipungkiri jika kiprahnya sebagai salah satu juri di Masterchef Indonesia yang tayang di tahun 2011 menjadi langkah yang mengantar namanya ke masyarakat yang lebih luas. Kehadirannya sebagai satu-satunya juri perempuan dan juga satu-satunya juri yang terus hadir dari season pertama sampai ketiga salah satu program cooking reality show tersohor tersebut tentu bukan sekadar menjadi pemanis saja, walaupun pada kenyataannya ia memang sosok yang menyenangkan untuk dilihat. Selalu terlihat energik dan santai namun mampu bersikap tegas bila diperlukan, nama Chef Marinka berhasil meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Pasca Masterchef Indonesia, penampilan chef cantik ini masih bisa kita lihat sebagai presenter, model komersial, bintang tamu talk show, red carpet, dan tentu saja, cooking show, termasuk Back to the Streets: Jakarta dan Wonderful Indonesia Flavours yang keduanya ditayangkan di kanal Asian Food Channel. Dalam kedua acara itu, Chef Marinka bersama co-host yang meliputi chef asal Australia, Tobie Puttock dan Darren Robertson, memperkenalkan cita rasa kuliner khas Indonesia ke ranah yang lebih luas dengan cara mengeksplorasi keragaman budaya dan tradisi kuliner di beberapa destinasi Indonesia, mulai dari Jakarta, Makassar, Tomohon, hingga Lombok, sebelum membawa pulang inspirasi yang didapat dalam setiap perjalanan tersebut kembali ke dapur dalam bentuk resep dan interpretasi yang menggugah selera.

Walaupun kedua acara tersebut telah selesai masa tayangnya, tampaknya kita tak perlu menunggu lama untuk melihat Chef Marinka back on action. Saat ini, ia mengaku tengah mempersiapkan syuting cooking show terbaru yang juga akan ditayangkan di Asian Food Channel. “Bedanya dengan sebelumnya, kali ini aku sendirian. Sebelumnya biasanya kan tampil berdua walau pernah beberapa episode juga sendirian, tapi kali ini definitely aku sendiri. Kali ini aku juga masaknya di dapur saja, tidak keliling lagi. Ada bagusnya juga jadi tidak lelah, soalnya kalau yang kemarin kan sempat syutingnya travelling dua bulan, pulang-pulang sempat sakit juga,” ungkapnya.

            Tiba di lokasi pemotretan dalam balutan t-shirt putih, jeans, dan kacamata hitam, wanita yang tergolong bertubuh petite ini terlihat santai dengan wajah bebas riasan apapun. Sembari membiarkan wajahnya mulai dirias di hadapan cermin, ia pun melanjutkan ceritanya. “Di show ini aku tetap masak masakan Indonesia, tapi lebih berdasarkan pengalaman pribadi. Karena acara ini juga lebih ditujukan untuk penonton luar negeri, jadi basically temanya ingin mengajarkan kalau masakan Indonesia itu bisa dibikin di dapur sendiri memakai bahan-bahan yang harusnya bisa didapat di mana-mana. Contohnya kemarin aku bikin ayam betutu, kan biasanya harus dimasak 8 sampai 13 jam, nah aku bisa masaknya dengan teknik aku sendiri jadi cuma dua jam yang rasanya tetap seautentik mungkin,” tandasnya.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-5

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, Chef Marinka mengaku waktu kecil ia sebetulnya memiliki sifat tomboy. “Aku dulu ingin menjadi James Bond karena kagum saat menontonnya, tapi di saat yang sama aku juga ingin menjadi seorang princess, haha. Jadi suka berkelahi tapi suka masak juga. Pokoknya aku orangnya sangat eksperimental dan suka tantangan,” tuturnya. Minat memasak menurutnya datang dari dirinya sendiri karena di masa kecil ia mengingat ibunya justru cenderung lebih menyukai membuat masakan yang instan. “Tidak apa-apa sebetulnya, karena dia wanita karier, Kan aku anak paling kecil dan lahirnya waktu beliau sudah berumur 40-an, kalau soal karier beliau memang sangat ambisius makanya sampai sekarang pun masih kerja padahal umurnya sudah berapa. Tapi dulu dia suka bikin kue kering untuk hari raya, jadi mungkin itu masakan yang mengingatkan aku soal masa kecil,” kenangnya.

Selepas Sekolah Menengah Atas, ia bertolak ke Sydney, Australia untuk berkuliah di jurusan Art & Design serta Fashion Design di KVB Institute College. “Aku punya banyak passions sebetulnya. Pokoknya yang berhubungan dengan seni, aku pasti suka. Aku senang pergi ke museum, membeli lukisan, I appreciate local artists & local fashion, pokoknya segala macam seni aku suka,” cetusnya tentang bidang ilmu yang sempat ia pelajari. Namun, minatnya terhadap dunia kuliner tampaknya memang tak bisa dibendung. “Aku delapan tahun di Sydney dan di sana sukanya masak buat orang. Kalau buat diri sendiri I’m not fussy, lebih baik beli, haha. Tapi kalau masak untuk orang lain, aku merasa enjoy melakukannya. Awalnya beli buku-buku resep, coba eksperimen, lama-lama aku berpikir ‘You know what? This is something that I really like’.” Mendapat restu dari orangtua, ia pun mendaftarkan diri ke sekolah masak terkenal Le Cordon Bleu untuk mempelajari French cuisine dan pastries dengan serius. Ditanya soal pengalaman paling berkesan selama sekolah kuliner, ia sempat berpikir beberapa saat sebelum menjawab, “Aduh susah ya, selama masa sekolah, waktu yang belajar masak itu yang paling menyenangkan ya. Benar-benar tidak ingin melewatkan satu hari pun, sakit pun tetap ingin masuk kelas. Jadi seperti orang haus ilmu. Kalau dibilang yang paling memorable mungkin tidak ada karena everything is so much fun!

Sempat mencicipi kuliah di bidang fashion dan seni, apakah segi visual menjadi pokok perhatian dalam proses kreasi kulinernya? “Aku merasa kuliner juga bentuk seni, dari segi penampilan dan juga rasa. Dari penampilan aku inginnya minimal rapi, kalau terlalu artsy yang sampai tidak terlihat seperti makanan mungkin orang juga segan ya,” jawabnya dengan tenang. Begitu pula saat menyoal fenomena makanan-makanan unik yang “Instagram-able” dan eye-catching seperti makanan yang bertema rainbow dan unicorn, ia memandangnya sebagai sesuatu yang wajar karena kreativitas memang tidak bisa dibatasi. “Yang penting rasanya harus tetap enak. Kalau buat aku lebih baik penampilannya jelek tapi rasanya enak dibanding cantik tapi ternyata tidak enak. Bagi aku itu lebih penting, karena in the end of the day, you’re going to swallow it,” tegasnya.

Lulus dari Le Cordon Bleu dan sempat magang di beberapa restoran di Sydney sebelum akhirnya pulang ke Tanah Air, Rinrin mengawali karier dengan menjadi freelance cooking instructor sambil terus menantang kemampuan dirinya sendiri dalam berkreasi, khususnya dalam membangun sinergi antara kuliner Timur dan Barat dari segi rasa dan artistik. Sempat memiliki restoran pertamanya di bilangan Fatmawati, ia pun pertama kali muncul di layar kaca lewat program Sendok Garpu di Jak TV di tahun 2007. Awalnya, pengagum chef terkenal Inggris Jamie Oliver ini sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan berkiprah sebagai chef di layar kaca. Walaupun merasa dirinya memang termasuk ceriwis dan gemar berbicara di tengah lingkungan dekatnya, namun untuk berbicara di depan kamera, ia mengaku butuh latihan sebelum terbiasa. “Aku bawel kalau sama teman, tapi kalau di depan kamera memang harus dilatih, sampai sekarang aku juga masih suka grogi atau melakukan kesalahan saat syuting. Begitu juga saat menjadi MC, tapi ya practice makes perfect,” ucapnya. Nama Rinrin Marinka sebagai nama panggung sendiri menurutnya muncul secara spontan. “Sebetulnya malu kalau diceritakan, tapi nama Marinka itu asalnya dari harapan aku kalau someday punya anak perempuan, aku mau namanya Marinka. Tapi ada salah satu teman aku menyarankan kalau aku pakai nama itu dulu saja, and you know what? Why not? Haha, awalnya seperti itu,” ungkapnya sambil tersenyum.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-6

Dengan kepribadian yang menarik dan apa adanya, nama Chef Marinka kian akrab di telinga publik hingga akhirnya ia pun termasuk dalam jajaran celebrity chef yang ada di Indonesia. Menyinggung perihal label “celebrity chef”, Rinrin sebetulnya punya mixed feelings soal istilah tersebut. “Itu sempat menjadi konotasi tertentu kalau di Indonesia karena beberapa oknum yang menurut aku seperti berlebihan. I rather be called as professional chef sebetulnya, tapi sekarang sudah terserah sih. It’s okay if people want to call me that, aku juga tidak butuh konfirmasi dari semua orang kok whether I can really cook or not. Lihat dengan mata kepala sendiri saja, seperti itu sih kalau sekarang,” cetusnya sebelum melanjutkan, “Mungkin yang masih mengganggu adalah sebutan ‘sexy chef’ ya? Menurut aku seksi ya seksi saja, chef ya chef saja, haha,” tandasnya.

Well, sulit diingkari jika sosoknya yang atraktif memang banyak menarik perhatian orang, terutama lawan jenis, mulai dari yang bersikap sopan hingga yang sering mengirimkan komentar bernada miring di social media miliknya. “Kalau ditanya risih, ya pasti risih lah. Tapi terkadang sudah terlanjur malas menanggapi atau melihat komen jadi ya didiamkan saja. Paling aku cuma mau bilang ‘You need God!’ Haha.” Untungnya, masih lebih banyak penggemar yang mengapresiasinya dengan cara yang positif, termasuk salah seorang penggemar yang dengan penuh niat membuatkan seri sticker LINE berupa karikatur Chef Marinka, “It’s actually making my day!” seru Rinrin dengan riang.

Soal social media sendiri, sama seperti public figure pada umumnya, Rinrin memanfaatkan Instagram untuk meng-update kabar dirinya dan sekelumit insight dari aktivitas sehari-hari, termasuk personal style dirinya. “Aku sih mencoba menjadi diri sendiri saja in term of character maupun penampilan. Kalau untuk tampil di publik, pertimbangan aku cuma jangan sampai terlalu seksi. You know how to dress lah, tergantung occasion juga, tapi aku juga sebetulnya playful and moody soal fashion. Kalau lihat lemari baju aku isinya bisa sangat random dari satu gaya ke gaya lainnya, but overall I like edgy and rock n roll looks,” ujarnya.

            Selalu terlihat menawan dengan rambut indah terawat yang sering digerai alami begitu saja, wanita yang memiliki hobi karaoke untuk penghilang stress ini secara mengejutkan mengaku dirinya tidak suka pergi ke salon. “Maybe I just simply lazy, aku tidak suka ke salon karena harus menyetir ke sana. Kalau ada waktu luang, aku sangat menikmati diam di rumah saja sendirian. Tapi tempat aku walau kecil juga sering dijadikan basecamp sama teman-teman aku. Sekadar menonton series, bagi aku itu sebuah kemewahan kalau bisa menghabiskan waktu di rumah seorang diri.”

            Menonton series rasanya kurang lengkap kalau tidak ditemani kudapan, begitupun bagi Chef Marinka yang menyebut chips dan es krim vanilla dengan butterscotch sebagai camilan guilty pleasure favoritnya. Sementara untuk urusan late night craving, ia menganjurkan kacang-kacangan dan sedikit protein untuk memuaskan hasrat mengunyah di malam hari. “Banyak orang bilang makan buah saja, tapi sebetulnya itu juga tidak terlalu baik karena kandungan gulanya,” jelasnya. Dengan profesi sebagai chef yang setiap hari berhadapan dengan makanan, Rinrin jelas punya kiatnya sendiri untuk tetap menjaga pola hidup sehat. “Basically just do detox, misal hari ini makan banyak, besok detoks. Harus tahu porsi, karena kita kadang suka tidak tahu diri makannya jadi terlalu banyak. Olahraga juga, aku ikut Bodytec di Kemang sama berenang. Mau coba yang lain tapi belum punya waktu. Aku ingin mencoba bela diri atau olahraga yang pakai senjata seperti panah atau pistol. I know its sounds crazy but I just love it. Jadi aku kebalikannya yoga, I’m not a yoga person at all.”

            Komitmennya dalam menjaga gaya hidup sehat juga diwujudkan dengan membangun Mars Kitchen, café miliknya di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, yang menawarkan menu-menu sehat tanpa MSG, pewarna, atau pengawet namun tentunya dengan cita rasa yang yummy. Sudah berjalan selama dua tahun, café ini masih tetap laris dikunjungi siapa saja yang mencari kebutuhan healthy menu dengan atmosfer yang homey. Saya pun bertanya apakah ia sudah memiliki rencana ekspansi untuk gerai selanjutnya, yang lantas dijawabnya dengan cepat. “Sebetulnya kita kerjasama dengan Bodytec di Kemang, so we have the tiny one there. Cuma kalau ekspansi rasanya belum deh, masalah lokasi juga mungkin ya? Satu dulu cukup untuk sekarang. Aku terpikir untuk bikin sesuatu yang lain justru. Konsepnya ingin yang beda. Kalau di Mars Kitchen kan memang untuk semua orang yang ingin hidup sehat, kalau yang satu lagi aku inginnya lebih hipster. Semacam tempat hangout yang seru, but I don’t know if it’s going to work karena ekonomi dunia juga lagi menurun dan persaingannya juga lagi banyak sekali. Baru cita-cita saja sih dan aku harus cari partner juga, karena di Mars Kitchen kan sendirian. Itu juga lumayan keteteran, jadi mungkin nanti dulu.”

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-3

Di tengah derasnya arus informasi yang membawa perubahan dengan cepat dalam skala global, termasuk dalam hal tren makanan yang dapat dengan instan diadaptasi ke ranah lokal, Chef Marinka mengungkapkan pandangannya terhadap dunia kuliner di Indonesia saat ini. “Sebetulnya memang makin berkembang, terutama di Jakarta, tapi masih bisa dibilang slow. Dari segi tren memang cepat karena kiblat makanan kita ke Amerika dan mereka memang cenderung menjadi yang pertama kalau soal tren makanan, jadi kita cepat mengikuti tren tapi cepat hilangnya juga, seperti cronuts misalnya. Tapi aku juga melihat sekarang semakin banyak orang yang bangga makan masakan Indonesia dan itu bagus. Jangan sampai kita jadi seperti Filipina yang mulai kehilangan cita rasa kuliner autentiknya. Dari industrinya, aku juga ingin membawa masakan Indonesia jadi as famous as Thai or Korean food. Itu butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk dari government. Sekarang pun hal itu sudah mulai berjalan kok seperti kemarin syuting Wonderful Indonesia Flavours, aku mewakili Indonesia memperkenalkan masakan Indonesia ke luar negeri bagi aku itu achievement and I’m proud of it. Kalau soal promosi, mungkin bisa lebih efektif lagi, kita tidak bisa menjagokan kuliner satu daerah saja karena masakan Indonesia benar-benar beragam dari Aceh sampai Papua. You have to do it one by one, fokus di makanan dari satu daerah dulu, baru seterusnya ke daerah lain,” paparnya dengan gamblang.

Memperkenalkan masakan Indonesia ke dunia memang menjadi salah satu fokus utama yang ingin ia jalani sebagai seorang professional chef. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat ia pergi ke Peru untuk urusan pekerjaan. “Di Peru aku sama asisten aku harus masak buat 300 orang di Hotel Delfines dan di sana tidak ada yang bisa bahasa Inggris sampai sempat stress rasanya. Tapi ya we have to work it out, aku bawa satu kopor isinya bahan makanan Indonesia semua, jadinya aku cuma bawa baju-baju tipis dan sampai di sana langsung kedinginan, haha! Hari ketiga di sana aku juga diminta mengajar di Le Cordon Bleu setempat dan rasanya menyenangkan karena aku jadi ingat dulu aku belajar di Le Cordon Bleu, sekarang aku yang mengajar.”

            Dengan semua pencapaian karier yang telah ia raih dalam kiprahnya selama ini, Chef Marinka merasa belum saatnya berpuas diri dan masih memiliki banyak mimpi dalam genggamannya, mulai dari keinginan memiliki talk show sendiri hingga merilis buku masak berikutnya setelah sebelumnya sempat merilis buku resep masakan bertajuk Fantastic Cooking di tahun 2011 yang berisi 30 resep kreasinya. Di samping urusan kuliner, ia ternyata juga punya bucket list lain yang ingin ia rasakan. Yaitu? “Akting, hehe. Karena itu juga art kan? Aku mau coba main film untuk seru-seruan saja. Maunya film yang entah action atau yang drama tapi harus yang very dramatic sampai harus menangis atau berteriak. I like something that extreme, jadi kalau bisa ya jangan yang setengah-setengah,” tutur pengagum aktor Johnny Depp ini. “Aku suka Johnny Depp karena dia idealis, dia kalau main film bukan karena ingin terkenal tapi karena dia memang suka perannya. I like him because he’s good looking but he doesn’t care that he’s good looking. Tapi sekarang aku sudah tidak terlalu suka Johnny Depp lagi karena dia ketahuan selingkuh. I hate that. Pokoknya kalau sudah cheater, aku langsung malas!” serunya sambil tertawa.

            Walaupun sempat mengungkapkan keinginan untuk suatu saat bisa membawa kariernya dan tinggal di luar negeri, untuk saat ini Chef Marinka mengaku jika ia belum bisa meninggalkan kota kelahirannya, Jakarta. “Kalau keinginan untuk pindah pasti ada dan sempat terpikir, tapi dilemma di karier juga karena pekerjaan aku sekarang ada di sini. Semua support system juga ada di sini, support system dalam arti kata aku punya community yang benar-benar kuat memengaruhi kehidupan sehari-hari, Teman-teman yang ada di sini, they’re all my happiness. Jadi, aku merasa belum ada purpose yang lebih kuat untuk pindah dibanding fokus yang ada di sini,” pungkasnya. Jakarta dengan segala sudutnya yang menawarkan sejuta cerita, hate it or not, akan meninggalkan kesan bagi siapa saja yang hidup di lambungnya atau yang sekadar melintas. Untuk menutup artikel ini saya pun bertanya kepada Chef Marinka, sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta kira-kira sajian apa yang bisa mewakili karakteristik Jakarta as a city. Dengan wajah yang sudah terias sempurna dan langkah percaya diri menuju depan kamera, chef cantik ini sambil mengulas senyum pun menjawab, “Jakarta itu menurut aku messy dan chaotic. Kalau dilihat sepintas mungkin terlihat biasa saja tidak menggugah selera, tapi ketika diaduk baru terasa enaknya, persis seperti ketoprak, haha. Well, ketoprak memang bukan makanan cantik sih, but I can make it pretty!”

 

Advertisements

The Magic Hour, An Interview With Kimbra

Kimbra1

Dengan eksplorasi musikal tanpa batas, performance eksplosif, dan segala keunikan yang melekat dalam dirinya,Kimbra membuktikan jika ia bukan sekadar “somebody that you used to know”. She’s here to stay with guts and a whole heap more

Hanya sehari menjelang keberangkatan saya ke Bali untuk Sunny Side Up Festival di awal Agustus lalu, tersiar kabar jika Gunung Raung kembali memuntahkan abu vulkanik and there’s big chance jika jadwal penerbangan ke Denpasar akan sangat kacau. Ada ketakutan jika banyak para performer yang terpaksa membatalkan penampilan mereka dan memilih langsung terbang ke Jakarta untuk We The Fest yang juga diselenggarakan oleh Ismaya Live. Saya sendiri akhirnya memilih stay di Jakarta sekaligus dengan berat hati membatalkan exclusive interview dengan salah satu performer utama di festival itu, Kimbra Lee Johnson, singer-songwriter asal Selandia Baru atau yang lebih dikenal dengan nama depannya saja. It turns out, penyanyi berumur 25 tahun yang terkenal dengan single “Settle Down” dan duetnya bersama Gotye di lagu “Somebody That I Used to Know” ini memiliki nyali serta dedikasi yang lebih besar dari saya. Tak mau mengecewakan penggemarnya, dia tetap terbang dari Australia walaupun harus detour ke Surabaya lebih dahulu untuk mencapai Bali dan berdasarkan reaksi yang saya baca di social media, sukses tampil gemilang di festival yang berlangsung di Potato Head Beach Club tersebut. Lucky for me, Kimbra bersedia untuk menjadwalkan ulang interview dan photoshoot bersama NYLON Indonesia di Jakarta, tepatnya Minggu, tanggal 9 Agustus lalu di hari yang sama dengan digelarnya WTF di Parkir Timur Senayan.

Saat saya dan tim tiba sekitar jam 10 pagi di hotel tempatnya menginap, sang tour manager menginformasikan jika Kimbra masih butuh beberapa saat untuk bersiap dan mengingatkan jika dirinya mungkin masih agak lelah. Well, tiba di Jakarta untuk langsung rehearsal setelah terjebak di bandara selama enam jam memang terdengar seperti resep jitu untuk mood yang jelek, terutama jika kamu telah menghabiskan banyak waktu di tur dan harus menghadapi jurnalis di Minggu pagi yang terik. Satu hal yang saya notice, Kimbra termasuk public figure yang sangat peduli akan detail. Dengan segala persiapan yang lumayan mendadak karena perubahan jadwal yang juga tiba-tiba, kami harus memberi tahu dengan jelas tentang konsep dan detail pemotretan yang akan kami lakukan, dari mulai wardrobe, make up, sampai lokasi yang setelah beberapa pertimbangan akhirnya disepakati untuk dilakukan di kamar hotelnya. Dia hanya mengizinkan fotografer dan stylist untuk naik terlebih dulu ke kamarnya dan setelah nyaris satu jam menunggu di lobi, akhirnya saya diperkenankan untuk masuk ke kamar hotelnya.

Jujur saja, saya sempat berpikir jika mungkin dia adalah tipikal artis yang banyak mau dan mungkin agak diva-ish, tapi semua prasangka tersebut langsung luruh ketika dengan ramah ia mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar untuk memperkenalkan dirinya. Berambut hitam sebahu dengan poni, lipstick merah, dan winged eyeliner, wajahnya terlihat segar meskipun ia mengaku agak mengantuk. “Sebetulnya saya termasuk orang yang lebih suka bangun pagi,” ujarnya sambil menikmati potongan buah-buahan dan secangkir kopiyang menjadi breakfast-nya. “Saya tahu adalah hal yang tipikal bagi seorang musisi untuk tidur sampai siang, tapi saya berusaha bangun sekitar 9 pagi. Kalau sedang disiplin saya akan memulai hari dengan olahraga, tapi saat tur panjang seperti sekarang hal itu lumayan sulit. Jadi biasanya saya memulai hari dengan sarapan, menyalakan laptop untuk mengirim email dan hal-hal administratif lainnya. Dan ketika siang atau menjelang petang, baru lah saya menulis musik,” imbuhnya.

Meskipun sempat terjebak di bandara selama 6 jam karena abu vulkanik, Kimbra mengaku sangat antusias untuk penampilannya di Bali dan Jakarta. Bila kamu mengikuti akun Instagram miliknya, kamu mungkin sudah tahu jika salah satu hal yang membuatnya antusias datang ke Indonesia adalah musik gamelan. “Saya mengetahui soal gamelan saat saya di Montreal dari salah satu produser yang bekerjasama dengan saya, Damian Taylor, yang pernah bekerjasama dengan Björk untuk album Volta di mana Björk sangat terpesona oleh gamelan. Damian memberikan saya beberapa album gamelan Bali yang suka saya dengarkan sebelum tidur karena bunyinya yang sangat melodic dan soothing,” ungkapnya.

Honestly, ketertarikan Kimbra pada gamelan sama sekali bukan hal yang aneh, mengingat bagaimana ia terkenal karena warna musiknya yang eklektik. Secara umum, Kimbra membuat musik yang merupakan anagram dari berbagai genre. Dari mulai modern electropop, R&B, jazz, dan soul yang dengan mudah menari di antara balada kontemplatif hingga tubthumping anthem yang membakar stage. Rasanya, bunyi gamelan yang dreamy sekaligus perkusif tidak akan terasa aneh jika dimasukkan dalam album terbarunya, The Golden Echo yang dirilis Warner Bros setahun lalu.Inspirasi utama diThe Golden Echo banyak datang dari mitologi Yunani, khususnya cerita Narcissuss yang terpesona pada bayangannya sendiri. Dan album ini memang menampilkan banyak refleksi dari Kimbra, in term of music and mood. 12 lagu di dalam album ini dikerjakan olehnya di sebuah urban farm yang dipenuhi hewan ternak di daerah Los Angeles, sehari setelah ia memenangkan Grammy Award 2013 bersama Gotye untuk kategori Record of the Year dan Best Pop Duo/Group Performance yang membuatnya menjadi orang Selandia Baru ketiga yang pernah tercatat dalam sejarah Grammy.

Kini, setelah dua setengah tahun tinggal di L.A., merilis The Golden Echo, tur keliling dunia, dan critical acclaim sebagai solo singer-songwriter, Kimbra memutuskan pindah ke New York City, namun tampaknya fragmen masa lalu bertajuk “Somebody That I Used to Know” tersebut masih membayangi langkahnya. “Saya tiba-tiba mendengar lagu itu dimainkan di sebuah cafe ketika saya sedang di New York dan rasanya semua tiba-tiba kembali terlintas di depan mata saya, gosh, karena lagu itu sebetulnya sudah tidak terlalu sering diputar di radio lagi sekarang ini kan? Saya lantas tersadar jika semuanya terjadi dengan begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya merekam lagu itu di studio rumah saya. It is such a nice song, more like a ballad, tapi saya tidak pernah berpikir jika lagu ini akan menjadi begitu fenomenal. Bagi saya, itulah beautiful mystery of music, ketika semua variabel terasa tepat, itu bisa terjadi pada siapapun, tapi tentu saja butuh kerja keras untuk sampai di titik itu. Gotye pun bukan penyanyi baru sebetulnya, dia telah memiliki tiga album. Tapi, it’s beautiful humbling realization jika pop hit song bukan sekadar sesuatu yang kamu formulasikan dalam kepala. Kadang hal itu bisa terjadi begitu saja, dan bagi saya, itulah yang membuat saya tetap percaya pada musik pop. Saya tidak mau percaya jika musik pop hanya sekadar sekumpulan orang di meja rapat yang memutuskan lagu apa yang akan menjadi nomor satu. Terkadang something just hit the right moment dan sebuah lagu begitu mendunia karena emosi di dalamnya terasakuat, that’s what I think about that song.”

Kimbra4

Tak bisa dipungkiri jika kebanyakan orang mungkin memang baru mengenal namanya berkat lagu duet tersebut. Namun sebetulnya, bahkan sebelum merilis album debutnya, Vows, di tahun 2011, Kimbra adalah natural-born musician dengan talenta mengagumkan. Lahir di Hamilton, Selandia Baru pada tanggal 27 Maret 1990, Kimbra berasal dari keluarga medical. Ayahnya adalah dokter dan ibunya adalah seorang perawat dengan koleksi rekaman The Beach Boys dan Frank Sinatra. “It’s always in my heart,” ujarnya soal musik. “Saya selalu menganggap musik adalah bahasa dan medium bagi saya untuk mengeluarkan emosi di dada saya,” imbuhnya. Mulai menulis lagu sejak umur 10 tahun, belajar gitar di umur 12, dan membuat video musik pertama di umur 14 untuk sebuah acara TV anak-anak, saat SMA ia bergabung dalam jazz choir sekolahnya dan berkompetisi dalam kompetisi musik nasional. Sebagai remaja, ia mencintai musik pop, tapi dia juga mendengarkan Björk, Nine Inch Nails, Mars Volta, dan Cornelius. Namun, saat ditanya siapa musisi yang membuatnya ingin serius bermusik, dengan tegas ia menyebut nama mendiang Amy Winehouse. “Hmm… Waktu itu saya sangat terinspirasi Amy Winehouse, karena walaupun dia penyanyi jazz, tapi dia punya influens hip-hop yang kental with those beat and toughness dan dia tidak takut untuk mengutarakan pendapatnya. Ketika saya mendengarkan album pertamanya, saya tersadar jika saya juga bisa membuat musik seperti itu, dengan melodi jazz tapi juga terdengar tough. Dan tentu saja saya juga menyukai musik-musik yang lebih keras seperti Soundgarden, Mars Volta karena walaupun mereka rock tapi juga sangat soulful. Saya banyak mendengarkan punk dan juga Jeff Buckley karena walaupun dia penyanyi rock tapi dia memiliki vokal jazz yang sangat kuat. Mereka dan penyanyi-penyanyi bernyali besar lainnya seperti Kate Bush yang menginspirasi musik saya. I don’t wanna be safe, I want to push the boundaries,” tegasnya.

The Golden Echo adalah usahanya untuk mendobrak batasan tersebut. Dibuka oleh lagu berjudul “Teen Heat”, paruh pertama album ini dipenuhi oleh racikan glorious beat yang exuberant dan catchy seperti “Miracle” dengan influens disco yang menjadi lagu pertamanya yang bertengger di Billboard dan single utama “90s Music”, sebuah ode untuk generasi 90-an yang unapologetically pop dan turut diproduseri Mark Foster dari Foster the People. “Ketika mendengar kata pop, saya membayangkan musik yang punya melodi catchy, musik yang bisa diterima baik oleh sembarang orang di jalan maupun seorang music student. Tapi saya juga merasa jika banyak musik pop yang quite unimaginative and uninteresting. Terkadang saya merasa sedih jika orang hanya memandang saya sebagai musisi pop, karena saya percaya jika pop justru adalah wadah di mana kamu bisa menggabungkan banyak ide dan genre. Ketika saya melihat Prince atau Michael Jackson misalnya, mereka memiliki musik yang menarik dan progresif, tapi masih terasa pop karena kamu bisa menyanyikan chorus-nya sambil mandi tapi ketika kamu mendengar bagian verse-nya, kamu akan seperti… ‘Wow!’, it’s crazy. Pop tidak seharusnya membosankan dan predictable, bagi saya musik pop justru harus punya kejutan dan menantangmu untuk mendengarkannya tidak hanya lewat telinga, tapi juga lewat hati dan pikiran. That’s what I’m passionate about.”

Sementara paruh kedua album ini diisi lagu-lagu yang lebih sentimental seperti “As You Are”, sebuah lagu balada dengan dentingan piano yang diakuinya merupakan lagu paling jujur dan personal dalam album ini. Ia tersenyum tipis ketika bercerita soal lagu itu, seakan luka emosi yang melatarbelakangi lagu itu belum benar-benar pulih. “Lagu itu adalah lagu yang sangat emosional, karena berdasarkan real situation dengan seseorang yang mematahkan hati saya,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Lagu ini tentang vulnerability ketika kamu telah mengekspos dirimu kepada seseorang dengan begitu jujur dan apa adanya, literally as you are, dan sebagai seorang seniman, merupakan hal yang sakral untuk mengizinkan orang lain untuk masuk ke hatimu dan menjadi bagian hidupmu in an intimate way. Lagu ini tentang ketika hubungan tersebut kandas, ketika kita merasa tereksploitasi dan terluka. Ini adalah lagu yang paling berat yang saya tulis. But I’m already over it, semua orang pernah berada di titik itu, haha,” tuntasnya sambil tertawa kecil.

Kimbra3

Alih-alih terdengar seperti album bipolar, The Golden Echo untungnya lebih seperti sebuah cerita yang berkesinambungan di mana seperti hidup, there’s a lot of ups and downs dan Kimbra menyikapinya dengan aksi panggung yang setara, bahkan lebih dari ekspektasi. “Yang saya suka ketika tampil di panggung adalah bagaimana setiap momen terasa berbeda dan tidak bisa kamu ulangi lagi. Dan saya selalu berpikir bagaimana caranya agar penampilan saya tidak hanya menghibur penonton tapi juga diri saya sendiri. Terkadang saya hanya ingin duduk dan menyanyi dengan memejamkan mata, dan di hari lain saya ingin rock out seliar mungkin. It’s about changing the energy every time,” ucap Kimbra yang menyebut Coachella sebagai festival moment favoritnya sejauh ini. “Saya pernah tampil di Coachella sebelumnya bersama Gotye, tapi Coachella kemarin adalah kali pertama saya tampil bersama band saya sendiri dan rasanya luar biasa. Its very iconic music festival, dengan gurun pasir dan matahari terbenam, it was very beautiful,” kenangnya.

Seperti yang mungkin kamu saksikan sendiri di WTF silam, totalitas Kimbra sebagai musisi turut diperkuat oleh elaborate costume yang ia kenakan dalam setiap penampilan live-nya. Dalam penampilan di Coachella kemarin, misalnya, ia mengenakan gaun dengan konsep cermin yang didesain oleh Cassandra Scott-Finn, seorang desainer berlatar sculpture artist dan fine art yang menjadi stylist untuknya. “Orang selalu bertanya apakah saya menjadi orang lain saat berada di atas panggung, tapi saya merasa jika hal itu sebetulnya lebih sebagai exaggeration of the personality, karena saat tampil di depan ribuan orang, kita harus menonjolkan penampilan kita karena kalau saya tampil di panggung dengan baju sehari-hari saya, akan sulit bagi saya untuk memisahkan mana diri saya sebagai seorang entertainer dan diri saya sehari-hari. I love the loudness of my performance, tapi sebetulnya saya sendiri lebih cenderung pendiam, dan lebih memilih obrolan one on one seperti ini. Di akhir hari, ketika saya membersihkan make up dan melepas kostum panggung saya, rasanya menyenangkan untuk menjadi Kimbra yang apa adanya,” ungkapnya.

Namun, baik di atas maupun di luar panggung, Kimbra tak pernah lupa menginjeksikan quirkiness yang segar dalam kesehariannya. Dalam interview ini, ia memakai printed sweater dari label Selandia Baru bernama Stolen Girlfriends Club yang kasual tapi tetap terlihat eye-catching. “I like to dress comfortably yet still able to express myself,” akunya. “Salah satu sahabat baik saya, Natasha Bedingfield, pernah bilang jika terkadang kita berpakaian bukan hanya untuk membuat diri kita sendiri feel good, tapi juga membuat orang lain tersenyum. Jadi ketika kita berjalan ke luar dan terlihat fun, it’s like something that make people smile and bring joy to other person. I like to think fashion being a conversation,” jelasnya.

Meski demikian, ia pun tak mengingkari jika sebagai seorang musisi wanita, there’s a lot of pressure dalam industri ini, terlepas dari maraknya slogan feminisme dalam dunia musik yang kini dilontarkan oleh rekan-rekan musisinya seperti Taylor Swift hingga Beyoncé. “Saya lebih percaya pada equality movement. Saya merasa ‘feminisme’ telah menjadi suatu kata dengan banyak momok dan beban tersendiri yang melekat. Women are now taking back the power, which is good thing, tapi jika itu artinya musik menjadi more and more sexualized, hal itu tak akan mengubah apapun. Pria masih akan memandangmu sebagai sexual object. Yang saya percaya adalah kesetaraan antar gender dan mutual respect di mana baik pria dan wanita bisa bangga terhadap tubuh mereka, atau pria dan wanita bisa duduk di studio dan merekam musik mereka sendiri. I don’t think it’s about war between the sexes, namun saya juga sangat bangga jika kaum perempuan bisa menunjukkan taring mereka, its great thing.”

Kimbra2

Fotografi oleh Andre Wiredja

Stylist: Anindya Devy